Wajah Seni Kontemporer di Bandara Soetta

Wajah Seni Kontemporer di Bandara Soetta

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan PT. Angkasa Pura II menginisiasi ditampilkannya kembali karya Indonesia di London Design Biennale 2018 berjudul “Freedome” di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Adapun tujuan menampilkan kembali karya kolaborasi ini adalah untuk memperluas akses masyarakat terhadap karya seni anak bangsa yang telah ditampilkan dalam ajang kelas dunia.

“Karya-karya kreatif seperti di bandara ini adalah karya-karya yang kita butuhkan untuk melihat wajah kontemporer Indonesia saat ini,” kata Kepala Bekraf Triawan Munaf.

Senada dengan Triawan, Deputi IV Bidang Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simandjuntak mengungkapkan ini adalah realisasi dari harapan yang sudah lama ada di Bekraf, “agar karya-karya anak bangsa yang telah mendunia dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia seluas-luasnya,” ujar Joshua.

Pada 7-27 September 2016, untuk pertama kali Indonesia telah berpartisipasi di London Design Biennale dengan menampilkan karya sembilan orang seniman dan arsitek yang berjudul “Freedome”. Acara ini merupakan biennale desain pertama di London yang menghadirkan 37 negara peserta dalam acara yang bertema “Utopia by Design”.

Perhelatan ini digelar di Somerset House yang terletak di pinggir selatan sungai Thames. Indonesia mengambil tempat dalam sebuah ruangan seluas 50m2 yang terletak di sayap barat (West Wing) Somerset House, London.

“Ini akan bisa dinikmati oleh pengunjung di Terminal 3 dengan jumlah 25 juta traffic passenger per tahun sebagai salah satu bandara terbesar di Indonesia. Tidak salah karya anak bangsa ini dihadirkan di bandara Terminal 3,” ujar Presiden Direktur PT Angkasa Pura II Muhammad Awaludin.

Ia juga menawarkan kepada Bekraf untuk meningkatkan kolaborasi ke depannya seperti menyediakan banyak space untuk seluruh seniman yang karyanya telah didukung oleh Bekraf, termasuk juga pendukungan penyelenggaraan Asean Games bila ingin dipromosikan di bandara yang konsepnya dapat didiskusikan lebih lanjut oleh kedua belah pihak.

“Freedome” ini digagas oleh Adi Purnomo, Bagus Pandega, Irwan Ahmett, Agra Satria, Fandy Susanto, Max Suriaganda, Savina Lavinia, Suyenni dan Yola Yulifianti. Karya ini bercerita mengenai Konferensi Asia-Afrika dan sebuah satelit informasi bernama “Berdikari”. (sak)

Bagikan artikel ini