30 Persen Mahasiswa UGM Tak Mampu
KOMUNITAS PERISTIWA

30 Persen Mahasiswa UGM Tak Mampu

Rona bahagia terpancar di wajah Mawardi (65). Kebahagiaan itu semakin mengharu biru tatkala Rektor UGM Prof Ir Dwikorita Karnawati MSc PhD menghampiri dan menyerahkan sepeda onthel untuk anak sulungnya, Mutmainnah, yang diterima menjadi mahasiswa baru di UGM.

Pria yang bekerja menjadi sopir angkot panggilan ini pun langsung bersujud syukur, tak kuasa menahan haru dan tanpa terasa air mata menetes seketika itu juga. Tangis itu pecah karena teringat perjuangan panjangnya dalam menyekolahkan Mutmainnah masuk UGM yang akhirnya tercapai juga.

“Bisa kuliah di UGM memang sudah menjadi cita-cita anak saya sedari kecil. Alhamdulilah keinginannya itu bisa terwujud,” kata Mawardi saat Temu Orang Tua Mahasiswa Baru UGM, Senin (1/8) di Grha Sabha Pramana UGM Jogja.

Mawardi merasa senang sekaligus bangga anaknya bisa melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Farmasi UGM. Meskipun besar dalam keluarga dengan kondisi finansial yang serba terbatas, putrinya memiliki tekad dan semangat yang tinggi untuk bisa menggapai pendidikan setinggi-tingginya.

Dia pun selalu mendukung kemauan putrinya itu. Walaupun penghasilannya dari menarik angkot hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan tiga anak, dia tetap mengutamakan pendidikan untuk semua anak-anaknya.

“Semangat anak menggapai pendidikan cukup tinggi. Alhamdulilah anaknya tekun dalam belajar dan berprestasi,” cerita Mawardi.

Dalam kesempatan itu, selain Mawardi ada empat orang lainnya yang menerima bantuan sepeda. Permana Suskalanggeng, pemulung asal Pendowoharjo, Sleman. Jumadi, pedagang es tebu asal Pontianak. Mustofa, pedagang pakaian asal Denpasar. Serta Ani Sugiarti, penjaga toko asal Wonosobo, Jawa Tengah.

Mereka merupakan perwakilan orangtua mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi UGM. Beasiswa Bidikmisi merupakan beasiswa yang diberikan oleh pemerintah kepada mahasiswa berpretasi dari keluarga kurang mampu.

Dihadapan Rektor UGM dan para orangtua lainnya, Permana Suskalanggeng mengaku senang mengetahui anaknya, Muhammad Wishka Al Hafiidh Suskalanggeng, berhasil diterima kuliah di Prodi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UGM, bahkan gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Dia tidak menyangka anak seorang pemulung bisa masuk kuliah di UGM.

Permana berkisah sehari-hari dia bisa memulung sampah atau rongsokan dari satu desa ke desa lain di wilayah Sleman. Hasilnya tidak lebih dari Rp 900 ribu yang hanya pas-pasan untuk membiayai hidup keluarganya dengan tiga anak.

“Semoga kelak anak saya bisa membantu sesama dan ikut membangun bangsa dan negara melalui bidang kesehatan,” harapnya.

Harapan serupa turut disampaikan Ani Sugiarti ibu dari Tiffani Febriana yang berhasil diterima di Prodi Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya, Jumadi orangtua dari Ridaha Wahyuningtyas yang diterima di prodi Ilmu Keperawatan FK, serta Mustofa orangtua Ahmad Fauzi yang masuk di prodi Ilmu Akuntansi FEB.

Ketiganya berharap anak-anaknya nantinya dapat menjalani kuliah dengan lancar. Selepas itu bisa berhasil dan sukses mewujudkan impian mereka serta dapat berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Rektor UGM mengatakan UGM sengaja mengundang kelima orangtua mahasiswa baru UGM yang berasal dari keluarga kurang mampu tersebut. Kehadiran mereka diharapkan mampu menginspirasi para orangtua mahasiswa lainnya untuk terus semangat mendukung putra-putrinya meraih pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.

Dwikorita menegaskan bahwa kendala ekonomi bukan menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. “Semua bisa kuliah di UGM asal berprestasi,” kata Rektor.

Dwikorita menyampaikan bahwa UGM terbuka bagi semua kalangan, termasuk dari keluarga miskin. Bahkan, sekitar 70 persen mahasiswa UGM berasal dari kalangan menengah kebawah.

“Sekitar 30 persen mahasiswa UGM berasal dari keluarga kurang mampu. Sementara 40 persen sisanya adalah dari keluarga dengan perekonomian menengah,” paparnya.

UGM tidak mentoleransi mahasiswanya yang tidak bisa menyelesaikan kuliah karena alasan keterbatasan biaya. Dwikorita mengatakan bahwa UGM selalu mencari sumber-sumber beasiswa untuk membiayai kuliah bagi para mahasiswa yang memiliki keterbatasan finansial.

Hingga saat ini UGM mengelola dana sekitar Rp 200 miliar dari berbagai sumber untuk beasiswa bagi mahasiswa tidak mampu. “Jangan jadikan alasan tidak bisa selesai kuliahnya karena kurang biaya,” tandasnya. (sak)