Ada Museum Sejarah Alam di Bogor
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Ada Museum Sejarah Alam di Bogor

Museum Etnobotani LIPI di Jl Juanda Bogor, Jabar resmi diluncurkan menjadi Museum Nusantara Sejarah Alam Indonesia.

Peluncuran dilaksanakan berbagai pihak terkait, seperti LIPI, Pemkot Bogor, Kemendikbud dan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Pembangunan Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia sendiri merupakan pengembangan Museum Etnobotani yang telah berdiri sejak 1982.

“Museum yang dikembangkan ini menyimpan berbagai macam koleksi flora dan fauna Indonesia, asal muasal alam, hingga sejarah perkembangan manusia,” terang Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI, Enny Sudarmonowati dalam kegiatan Soft Launching Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia, akhir Agustus lalu.

Museum dikembangkan secara bertahap dari 2016 hingga 2019. “Pada 2016, ditargetkan terbangun dua lantai dari lima lantai yang akan dibangun hingga 2019. Sedangkan luas keseluruhan museum mencapai 6.000 m2,” jelas Enny.

Menurutnya, pengembangan museum itu semakin menambah aset bangsa dalam mendokumentasikan perjalanan asal muasal alam dan manusia.

“Saat ini, LIPI dengan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud sedang menyusun story line untuk mendesain penataan letak koleksi,” tuturnya.

Konsep pengembangan museum menggunakan format modern, yaitu memanfaatkan teknologi informasi dengan tema edukatif, kreatif, dan inspiratif.

Informasi yang disampaikan dikemas semenarik mungkin, sehingga masyarakat khususnya pelajar tertarik dan paham tentang kekayaan hayati kita, sambungnya.

Enny melanjutkan untuk kemudahan akses secara menyeluruh, maka ke depannya akan dibuat tiket terusan antara Kebun Raya Bogor dengan Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia dan Museum Balai Kirti yang ada di Istana Presiden RI Bogor.

Selain itu, kemudahan akses akan ditunjang pula dengan rencana pembangunan jalan underpass yang menghubungkan lokasi tersebut dengan melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) dan Pemkot Bogor.

“Sedangkan pengelolaan museum ini akan melibatkan pihak swasta, BUMN, lembaga swadaya masyarakat bidang lingkungan, yayasan, individu, dan instansi pemerintah terkait,” ungkapnya.

Deklarasi Bogor
Bersamaan dengan peluncuran museum, dibuat kesepakatan dalam bentuk penandatanganan Deklarasi Bogor ‘Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia’. Penandatanganan dilakukan Wakil Kepala LIPI, Walikota Bogor, perwakilan Kemendikbud, perwakilan UNESCO, dan pihak terkait lainnya. Tujuannya sebagai kesepakatan bersama menjaga peninggalan sejarah Indonesia khususnya yang berada di Kota Bogor.

Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto menyambut baik peluncuran museum dan deklarasi tersebut. Khusus kehadiran museum, katanya, akan mengingatkan sekaligus menggambarkan kembali tentang Bogor sebagai kota pusaka.

Dirinya juga mengharapkan tujuan favorit wisatawan ke Kota Bogor di masa datang tidak hanya terbatas pada kuliner dan Kebun Raya Bogor saja.

Melainkan juga bisa mengunjungi museum yang memang sangat menarik dan nyaman. “Semoga generasi muda mempunyai hasrat dan passion untuk menghabiskan waktunya di museum,” kata Bima.

Wakil Kepala LIPI Akmadi Abbas melihat kehadiran museum diharapkan mampu menampung beragam koleksi kekayaan keanekaragaman hayati dan ekosistem dari seluruh Indonesia.

“Anugerah kekayaan biodiversitas yang dimiliki sudah seharusnya dipelihara dengan memberikan pemahaman yang baik tentang alam di masyarakat melalui sebuah museum,” ujarnya.

Apalagi, kata Akmadi, kekayaan alam Indonesia saat ini sedang mengalami tekanan akibat komersialisasi hutan di Indonesia. Tingginya ancaman tersebut tidak hanya mempengaruhi kehidupan flora dan fauna, tetapi juga berpengaruh pada budaya, lingkungan dan keberlangsungan hidup manusia, tutupnya. (sak)