Lawan Radikalisme, Akademisi Australia Berencana Bangun Pesantren
KOMUNITAS PERISTIWA

Lawan Radikalisme, Akademisi Australia Berencana Bangun Pesantren

Benih radikalisme terus tumbuh subur diberbagai belahan dunia, tak terkecuali di negeri Kangguru. Akademisi Fakultas Hukum Monash University Australia, Dr Nadirsyah Hosen berencana mendirikan pesantren di Australia guna menghadang gerakan radikal yang sudah mulai masuk ke urat nadi pendidikan seperti sekolah-sekolah Islam.

Hal tersebut diungkapkan, Nadirsyah kepada media usai menjadi pemateri utama dalam Seminar dan Lokarya mengusung tema ‘Perkembangan Dakwah di Eropa dan Asia Pasifik’ di Gedung Teather Twin Tower Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Selasa (23/8) lalu.

Menurutnya, sistem pendidikan pesantren di Indonesia perlu dikenalkan pada publik Australia karena telah terbukti melahirkan muslim-muslim moderat, progresif dan konsisten menebar Islam yang Rahmatal lil Alamin. Muslim Indonesia oleh pemerintah Australia, dikenal sebagai pribadi yang damai dan penuh toleransi.

“Indikasi-indikasi radikalisme dan eksklusif sudah mulai tampak di sekolah dan masjid-masjid. Hal ini juga menjadi kegelisahan pemerintah Australia, maka perlu kita tawarkan solusi,” terang dosen yang akrab disapa Gus Nadir ini kepada Kominfo Pemprov Jatim.

Sebagai wujud keseriusan, pihaknya dalam waktu dekat akan bekerjasama dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur merancang konsep Pesantren yang cocok dengan karakter masyarakat Australia.

Gus Nadir menilai perlu ada beberapa penyesuaian dalam sistem pendidikan pesantren yang akan didirkan mengingat masyarakat Australia sangat rasional dan modern.

Hingga saat ini, diungkapkannya, pendirian masjid dan sekolah kadang masih menjadi persoalan. Ada sebagian pihak antipati dengan Islam, karena khawatir melahirkan kekerasan dan aksi terorisme.

Tugas pesantren selain mendidik para santri, juga mengampanyekan Islam yang ramah dan mampu berdampingan dengan umat lainnya. “Jawaban radikalisme itu bukan menghambat orang belajar Islam, tapi untuk belajar Islam dengan benar,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Nadirsyah Hosen merupakan orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi dosen tetap di Fakultas Hukum universitas di Australia itu. Sejak pertengahan 2015, Gus Nadir mengajar di Monash University Faculty of Law, salah satu Fakultas Hukum terbaik di dunia.

Sebelumnya, selama 8 tahun ia mengajar pada Fakultas Hukum, Universitas Wollongong (2007-2015) hingga meraih posisi sebagai Associate Professor. Tahun 2005, ia bekerja sebagai post-doctoral research fellow di TC Beirne School of Law, Universitas Queensland.

Disamping itu, Gus Nadir adalah kiai NU yang sejak 2005, dipercaya sebagai Rois Syuriah, Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Australia dan Selandia Baru.

Gus Nadir juga aktif menulis buku, diantaranya berjudul Human Rights, Politics and Corruption in Indonesia: A Critical Reflection on the Post Soeharto Era, Shari’a and Constitutional Reform in Indonesia dan menulis buku bersama Ann Black and Hossein Esmaeili yang berjudul Modern Perspectives on Islamic Law. (sak)