Alat Deteksi Diabetes Tiga Profesor
KESEHATAN PERISTIWA

Alat Deteksi Diabetes Tiga Profesor

Kit Diagnostik GAD65 merupakan alat mendeteksi penyakit diabetes secara dini untuk pasien DM Tipe 1 berbasis Reverse Flow Immunochromatoghraphy atau Rapid Test Autoimmunue Marker Autoantibodi GAD65, saat ini telah dipromosikan dan diperkenalkan tim Universitas Brawijaya (UB) Malang hingga ke luar negeri.

Saat pameran PIMNAS ke-29 di IPB beberapa waktu lalu, Kit Diagnostik GAD65 ini jutga dipamerkan. Pengunjung pameran sangat antusias mengikuti test uji diabetes dengan menggunakan kit diagnostic yang merupakan produk Institut Biosains Universitas Brawijaya bekerjasama dengan PT Biofarma Bandung.

Selama tiga hari berturut-turut test dilakukan dengan pengambilan darah dan langsung diimplementasikan pada kit diagnostic dan hasilnya langsung diberikan kepada peserta tes. Beberapa peserta tes kit diagnostik GAD65 antara lain adalah Rektor Intitut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, beberapa peneliti LIPI, beberapa pimpinan TNI dan juga staf LPDP, Kemenkeu Jakarta.

Sampai satu hari menjelang pameran ditutup, telah dilakukan uji test terhadap lebih dari 125 orang peminat. Produk kit ini direncanakana kan digunakan di seluruh Indonesia. Ketiga penemu utama ikut mengawal stand UB yaitu Prof Dr Aulanni’am drh DES, Prof dr Djoko Wahono Soeatmadji SpPD-KEMD dan Prof Fatchiyah MKes PhD, yang juga Direktur Biosains Institute UB.

Kit Diagnostik GAD65 sudah diperkenalkan dalam forum-forum ilmiah melalui seminar internasional maupun kegiatan kerjasama dengan universitas di luar negeri. Publikasi tentang kit diagnostik GAD65 dilakukan di banyak negara sejak 2012 dalam berbagai seminar internasional dan menjadi topik utama dalam berbagai kegiatan nasional seperti forum riset vaksin nasional.

Dalam kegiatan ini diperoleh informasi hasil pengujian Kit Diagnostik GAD65 dari berbagai ras masyarakat dunia seperti Eropa Timur (Rusia dan Perancis), Afrika (Madagaskar, dan Libya), Asia (Taiwan, Malaysia, Arab, dan Indonesia).

Upaya tes awal produk terus dilakukan baik di lingkungan regional, nasional dan internasional. Hal ini perlu dilakukan karena produk ini harus melewati berbagai tahapan perijinan yang saat ini sedang dipersiapkan.

Kit Diagnostik GAD65 yang telah melewati serangkaian test uji laboratorium dan pasien di lapangan pada berbagai ras manusia menghasilkan sensitivitas yang sangat baik (100 persen) dan spesifisitas 91,67 persen serta telah melewati uji stabilitas, sehingga saat ini siap untuk di produksi massal dan dipasarkan.

Target pasar diharapkan bisa sampai ke puskesmas tidak hanya di klinik-klinik maupun rumah sakit besar. Produksi yang dilakukan selama ini untuk memenuhi kebutuhan beberapa laboratorium yang meminta rujukan hasil uji kit diagnostik untuk memperkuat diagnosa dokter.

Dalam kemasan produk saat ini tertulis ‘for research use only’ yang menunjukkan masih diproduksi untuk kepentingan penelitian, sehingga hasil pengujian juga digunakan pula sebagai data uji.

Dalam pembuatannya Kit Diagnostik GAD65 berasal dari bahan-bahan halal. Prof Fatchiyah mengatakan awal pembuatan kit diagnostik hingga saat ini berkembang menjadi dm tipe 1 diisolasi dari otak sapi.

“Untuk mendapatkan antibodi terhadap GAD65 diawali dengan mengisolasi otak sapi, kemudian, dimurnikan protein GADnya lalu dilakukan serial analisis menggunakan Tikus kelinci, kuda, dan monyet. Akhirnya diperoleh Antibodi Monokronal terhadap GAD65 yang murni. Kemudian dikembangkan Antibodi GAD65 ini dari rekombinasi yang berasal dari gen manusia sehingga tidak ada penolakan pada saat pengujian,” katanya.

Institut Biosains UB merupakan satu unit usaha akademik UB yang berbasis Good Laboratory Practice (GLP) for production dan Good Manufacturing Practice (GMP), dengan mengakomodasi sinergi A-B-G-C (Academy-Business-Government-to Community).

Sebagai salah satu unit enterpreneur di UB dalam menunjang misi UB menuju world class enterpreneurial university, Institut Biosains telah berhasil mengembangkan produk kit diagnostik deteksi dini diabetes mellitus berbasis GAD65, yang merupakan hasil kerjasama penelitian antara Institut Biosains dengan PT Biofarma sejak 2012, yang diketuai Prof Aulanni’am.

Rektor UB Prof Dr Ir M Bisri MS berharap produk tersebut dapat mendukung kemandirian bangsa dalam pemenuhan kebutuhan alat kesehatan di masyarakat, sehingga bisa mengurangi ketergantungan dengan pihak luar.

“Saya berharap produk ini dapat mendukung program mencapai kemandirian industri alat kesehatan dengan teknologi menengah ke atas yang berbasis riset untuk pemenuhan kebutuhan nasional di tahun 2019 oleh Kemenkes RI, serta mendukung terwujudnya Indonesia Sehat 2045 melalui program pengendalian penyakit menular dan tidak menular yang juga dicanangkan Kemenkes,” kata Rektor UB. (sak)