Alat Penyayat Bambu Semi Otomatis
PERISTIWA TEKNOLOGI

Alat Penyayat Bambu Semi Otomatis

Berawal dari kekhawatirannya terhadap perajin anyaman bambu dalam proses penyayatan bahan baku, lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya terinspirasi untuk membuat alat penyayat bambu semi otomatis, yang bekerja lebih baik dan memperoleh hasil lebih banyak.

Kelima mahasiswa itu masing-masing Alfiana Nur Hidayati, Muhamad Faisol, Sarlita Pigafeta, Febby Ayu Ramadhani dan Luqman Santoso. “Awal mula saya mendesain alat ini karena melihat betapa sulitnya perajin menyiapkan bahan baku anyaman yang terbuat dari bambu itu, selain terlihat lama prosesnya, kadang menghasilkan ketebalan yang berbeda-beda,” kata Alfiana Nur Hidayati.

Idenya itu kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), dan dalam seleksi nasional karya yang diberi judul ‘Mesin Penyayat Bambu Semi Otomatis dengan Sistem Elektro Pneumatik Guna Meningkatkan Produktivitas UD Putri Ragil di Magetan’ ini dinyatakan lolos ke tingkat nasional.

“Alhamdulillah ide saya bisa terwujud untuk membantu perajin anyaman bambu di Magetan, lebih beruntung lagi ide ini bisa dibiayai dari Dikti sebesar Rp 7,5 juta, meski kami berlima akhirnya menambakan biaya hingga total biaya mencapai Rp 10 juta agar desain mesin ini bisa terwujud,” katanya.

Diakui Alfiana, mahasiswi asal Magetan ini, dia dan teman-temannya sebelum mendesain alat ini melakukan survei awal untuk mengetahui terhadap kebutuhan mendasar para perajin di sana, ternyata hambatan yang selama ini mereka hadapi adalah pemenuhan bahan baku siap pakai dalam bentuk bilahan bambu untuk dianyaman.

“Sering kali perajin di sana kerap kali kekurangan bahan baku siap pakai, karena untuk membuat bilahan-bilahan dengan cara menyayat itu butuh keahlian dan waktu yang relatif lama,” katanya.

Sarlita Pigadeta, rekan Alfiana menghitung, jika dikerjakan secara manual dalam sehari dengan dua orang tenaga kerja hanya bisa menghasilkan sebanyak 600 bilah bambu siap anyam.

Sedangkan dengan alat ini bisa dihasilkan hingga 13.500 bilah atau sayatan siap anyam. “Jadi dengan alat ini kekhawatiran terhadap jumlah bahan baku siap pakai tidak akan terjadi lagi,” katanya.

Bagaimana cara kerja alat ini? Dijelaskan Muhamad Faisol, potongan bambu yang sudah ditentukan panjangnya dibersihkan lalu dipotong menjadi empat sampai enam dengan lebar tertentu, diletakkan dalam alat pres berbentuk kontak.

Kemudian dijalankan maju dan mundur dengan bantuan tekanan kompresor. Di bagian bawah alat yang berjalan diletakkan pisau untuk menyayat bamboo. Saat bergerak maju menyayat satu kali dan saat kembali ke posisi awal pun menyayat satu kali.

Maju dan mundur alat pres yang berisi bambu di bagian dalamnya ini dikendalikan oleh sebuah sensor maju-mundur, sementara bilah pisau diatur dan diletakkan sesuai dengan ketebalan bahan baku bilah bambu yang diinginkan.

“Karena kerja untuk menghasilkan sayatan ini berulang maju-mudur, maka hasilnya pun dalam 30 detik menghasilkan 30 bilah atau lembar sayatan, sementara jika dikerjakan secara manual 30 detik hanya menghasilkan satu sayatan atau satu bilah. Itu pun resikonya hasilnya punya ketebalan bebeda,” katanya.

Alfiana berharap ke depan alat ini bisa dimodifikasi untuk hasil kerja yang lebih baik. “Dengan terpilihnya di ajang nasional nanti, saya berharap untuk modifikasi dan perbaikan berikutnya bisa mendapat kucuran dana lagi,” katanya. (sak)