Angka Bebas Jentik Rendah? Geliti-in Aja!
KESEHATAN PERISTIWA

Angka Bebas Jentik Rendah? Geliti-in Aja!

Dalam mengaplikasikan teori kuliah Prodi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair kembali mengadakan kegiatan Praktik kerja Lapangan (PKL).

Tahun ini Bojonegoro terpilih sebagai wilayah yang dijadikan sasaran intervensi. Salah satu desa yang menjadi wilayah kerja mahasiswa PKL: Desa Payaman di Kecamatan Ngraho. Berdasarkan pengumpulan dan analisis data ditemukan permasalahan yang urgent untuk segera ditangani adalah Angka Bebas Jentik (ABJ) masih rendah.

Mengingat Desa Payaman merupakan daerah endemis DBD (Demam Berdarah Dengue) dan cikungunya dengan kondisi lingkungan sebagian besar adalah hutan jati dan rawa.

Beragam pencegahan dilakukan, karena selama ini upaya fogging setiap tahunnya belum mampu melindungi masyarakat dari ancaman DBD dan Chikungunya. Maka mahasiswa yang tergabung dalam tim PKL Desa Payaman Kelompok lima membentuk program pencegahan dengan nama GELITIK (Gerakan Libas Jentik-Jentik).

Seperti dirilis Humas Unair, program ini bertujuan meningkatkan ABJ di masyarakat yang masih rendah yaitu 41 persen dengan cara sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat.

Sosialisasi dilakukan di salah satu rumah kader saat kegiatan Posyandu balita dan lansia, sementara pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan menempelkan kartu pemeriksaan jentik di rumah-rumah warga.

Tim juga memilih anggota keluarga untuk menjadi Jumantik (Juru Pemantau Jentik) yang bertanggung jawab mengecek tempat penampungan air dan mengisi kartu pemeriksaan jentik setiap minggunya.

Selain itu GELITIK juga memberdayakan siswa-siswi SDN Payaman dan MI Matholi’ul Falah untuk menjadi Jumantik. Hal ini dilakukan karena sekolah berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Pasalnya anak-anak menghabiskan waktunya belajar dan bermain di sekolah. Wakil Kepala Sekolah SDN Payaman I, Rahman menyambut baik kegiatan ini.

“Saya senang sekali mahasiswa Unair mengadakan kegiatan di sekolah kami, anak-anak perlu diajarkan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sedini mungkin, terutama tentang pemantauan jentik nyamuk di sekolah, ini adalah program yang bermanfaat,” ungkapnya.

Pendekatan dengan berbagai pihak telah dilakukan demi suksesnya program ini. Tidak terlewatkan sosialisasi ke pemuda Desa Payaman yang cukup berperan aktif dalam berbagai kegiatan desa.

Integrasipun dilakukan dengan pihak Ponkesdes beserta kader yang perannya sangat penting dalam pemantauan dan kesinambungan program. Kerjasama juga dilakukan dengan puskesmas untuk penyediaan bubuk abate bagi rumah-rumah yang berpotensi menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.

Perangkat desa, melalui Lurah Desa Payaman juga menyampaikan dukungannya terhadap GELITIK, menurutnya program ini sudah tepat sasaran dan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Dari pihak kesehatan, Harry Niken K Amd Keb, selaku Bidan Ponkesdes Payaman menyampaikan sangat terbantu dengan program ini.

Menurut Ketua PKL Kelompok 5, Nova Mega kegiatan ini mendapat respon baik. “Kami membuat program ini agar masyarakat lebih sehat dan peduli terhadap lingkungan rumahnya supaya tidak menjadi tempat sarang perkembangbiakan nyamuk. Alhamdulillah direspon baik masyarakat, Ponkesdes, perangkat desa dan adik-adik SD dan MI yang mengikuti kegiatan dengan semangat,” paparnya.

Melihat antusias masyarakat tim Optimis jika program ini terus dilanjutkan maka target pencapaian Angka Bebas Jentik yakni 95 persen akan tercapai. Maka, jika Angka Bebas Jentik rendah? GELITIK-in aja. (sak)