Keluarga Paduan Angklung ITB Goes To Oslo
PERISTIWA SENI BUDAYA

Keluarga Paduan Angklung ITB Goes To Oslo

Tidak hanya berkiprah di seluk beluk teknologi, Institut Teknologi Bandung (ITB) membuktikan eksistensinya di dunia kebudayaan melalui salah satu alat musik tradisional Jawa Barat yaitu angklung.

Menjadi bagian dari unit kesenian dan kebudayaan yang bertengger di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ITB, Keluarga Paduan Angklung (KPA) ITB kembali menunjukkan kebolehannya di kancah internasional dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ASEAN di Norwegia yang ke- 49.

Peringatan HUT ASEAN ini digelar dalam serangkaian acara ASEAN Cultural Night yang berlangsung di gedung pertunjukan Gamle Logen, Oslo, Norwegia, pekan lalu.

ASEAN Cultural Night merupakan acara tahunan yang dibentuk atas kerjasama KBRI Oslo dengan empat Kedutaan Besar negara ASEAN untuk membentuk hubungan baik antara negara-negara yang tergabung dalam ASEAN dengan Kerajaan Norwegia.

Kegiatan ini juga menampilkan pertunjukan budaya dari negara-negara ASEAN lainnya yang hadir seperti Filipina, Vietnam, Myanmar dan Thailand. Setiap negara menyuguhkan pertunjukan kebudayaan mereka dengan apik dan mengagumkan.

Perjuangan ke Oslo
Perjuangan untuk berangkat ke negara yang bermil-mil jauhnya demi memberikan persembahan budaya yang membawa nama Indonesia tentu bukan perkara mudah. Beragam kesulitan harus tim KPA ITB tempuh untuk dapat tiba di sana dan menyusun penampilan yang mengesankan.

“Tim ini tuh tim yang jumlahnya paling sedikit selama KPA pernah tampil,” ujar Saffanah Zahirah, mahasiswa jurusan Astronomi 2013, salah satu anggota tim KPA ITB yang turut berpartisipasi dalam penampilan KPA ITB di Oslo, Norwegia.

Jika biasanya tim KPA ITB membawa setidaknya 30 orang dalam tim pemain dan paling tidak 3 orang sebagai tim official untuk membantu keperluan kostum , make-up, dan lainnya, kali ini tim KPA ITB hanya 15 pemain yang berperan sekaligus sebagai tim official. Keadaan ini menuntut tim lebih sigap memenuhi kebutuhan pribadi masing-masing termasuk kostum dan make-up.

Tidak hanya itu, biaya yang terbilang besar untuk melakukan perjalanan ke Norwegia membuat tim ini harus mencari sponsor dan donasi guna membantu mengurangi beban biaya yang harus mereka tanggung.

“Kami tuh baru persiapan 3 bulan sebelumnya. Itu bukan cuma buat latihan tapi juga buat promosi, ngumpulin dana donasi, bahkan kita sampai ngadain danus (dana usaha) menjual bunga di tiap akhir pekan,” ujar Saffanah yang kerap disapa Saffa ini. Ia menuturkan tentang banyaknya hal yang harus mereka lakukan dan hadapi untuk mencapai tujuan mereka tersebut.

Disamping itu, adanya beberapa anggota tim yang baru memasuki tingkat dua dan masih disibukkan juga dengan kegiatan orientasi studi jurusan menuntut mereka mampu membagi waktu sebaik mungkin.

Distribusi angklung juga menjadi tantangan yang cukup besar karena dengan jumlah anggota tim yang sedikit maka secara otomatis mengharuskan setiap orang memainkan angklung lebih banyak demi terpenuhinya nada-nada yang diperlukan dalam membentuk lagu secara utuh.

Pengenalan Budaya

Berkat kerja keras dan kerjasama dari 15 anggota tim akhirnya KPA ITB berhasil melayangkan kaki di Oslo, Norwegia dan menuntaskan tujuan mereka di sana. Tidak hanya melakukan pertunjukan di ASEAN Cultural Night saja, KPA ITB juga berpartisipasi dalam berbagai kesempatan di tempat-tempat yang berbeda seperti dalam upacara perayaan HUT Republik Indonesia yang ke-71 di KBRI Oslo, KPA ITB membawakan lagu salah satunya Indonesia Pusaka dan Yamko Rambe Yamko.

Beberapa agenda yang dilakukan tim KPA saat di Oslo diantaranya pertunjukan dan workshop angklung pada anak-anak Norwegia di museum anak dengan membawakan lagu Yamko Rambe Yamko, Bambo Dance Song dan lagu anak Norwegia, Bae Bae Lille Nam.

Kegiatan pertunjukan dan workshop di museum anak ini mendapat sambutan hangat pengunjung museum. Tidak hanya itu, Angela Goldin selaku Direktur Museum mengungkapkan kekagumannya atas penampilan orkestra angklung yang dibawakan langsung oleh orang Indonesia.

Selain acara kegiatan resmi seperti HUT ASEAN, Kemerdekaan RI di Kawasan Kedutaan Besar RI, dan workshop di Museum Anak, KPA ITB juga turun ke jalan menampilkan permainan angklung mereka di jalan-jalan yang dipenuhi turis asing maupun pengunjung lokal.

Dalam kesempatan ini pula, KPA ITB memberikan kesempatan kepada para turis dan pengunjung lokal yang mayoritas warga Eropa untuk ikut mencoba memainkan alat musik angklung.

Berkat penampilan yang mengesankan melalui empat jenis lagu yaitu Indonesia Pusaka, Bambo Dance Song, Yamko Rambe Yamko,dan soundtrack Mission Impossible, KPA ITB berhasil menarik perhatian berbagai pihak di Oslo terhadap salah satu alat musik tradisional Indonesia yaitu angklung.

Angela Goldin selaku Direktur Museum Anak juga menuturkan bahwa ia memberikan apresiasi yang sangat besar kepada KBRI Oslo yang telah mendatangkan tim KPA ITB. Ia juga berharap kerjasama KBRI Oslo dan Museum Anak tersebut dapat ditingkatkan. (sak)