Antropolog Jepang Apresiasi Kampung Jodipan
KOMUNITAS PERISTIWA

Antropolog Jepang Apresiasi Kampung Jodipan

Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Chiba Jepang Prof Aoki Takenobu PhD mengapresiasi keberadaan Kampung Wisata Jodipan, terlebih kampung warna-warni itu merupakan inisiasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Apresiasi disampaikan Prof Aoki saat berkunjung ke Kampung Wisata Jodipan (KWJ) Malang Jumat (9/8) lalu. KWJ merupakan salah satu alasan Prof Aoki mengunjungi Malang, selain memang memiliki kekaguman khusus pada Indonesia.

Aoki mengakui bahwa Jepang memiliki keunggulan di bidang teknologi, namun memiliki kendala dalam hal pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat.

“Saya tahu kampung ini dari media sosial. Ini hebat karena pelopornya adalah mahasiswa, apalagi ada unsur pemberdayaan masyarakat. Saya tertarik, ingin mengetahui lebih jelas bagaimana para mahasiswa ini bisa mengajak warga untuk mau merubah perilaku mereka,” tuturnya dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Aoki menambahkan, kemampuan mengelola masyarakat seperti ini perlu dipertahankan. Setelah pengecatan rumah berhasil, lanjut Aoki, tugas selanjutnya yaitu maintenance atau perawatan yang maksimal dari berbagai pihak.

“Tidak bisa hanya satu pihak saja yang melanjutkan ini semua. Tapi perlu ada kerjasama antar lembaga formal ataupun lembaga non-formal,” jelasnya.

Pakar Sosiologi Lingkungan UMM Rachmad K Dwi Susilo MA menyatakan, adanya KWJ ini merupakan salah satu cara meningkatkan perekonomian warga Jodipan.

Namun tidak sesederhana itu, Rachmad melanjutkan bahwa perlu ada lembaga-lembaga turut membantu untuk keberlanjutan KWJ ini. “KWJ ini sudah mendapatkan dukungan berbagai pihak. Pemerintah maupun non-pemerintah harus mendukung penuh agar keberlanjutannya jelas,” jelas dosen Program Studi Sosiologi UMM ini.

Di KWJ ini, kata Rachmad, juga ada fenomena yang menarik, yaitu letak Kelurahan Jodipan yang berada di bantaran sungai. Selanjutnya secara lingkungan, lanjutnya, keberadaan sampah di Kelurahan Jodipan awalnya sangat banyak.

Namun dengan hadirnya kampung warna-warni ini dapat dengan mudah menggerakkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungannya sendiri. “Ini merupakan hal yang sangat menarik sehingga masyarakat mau dengan sendirinya bergerak demi kelestarian lingkungan mereka sendiri,” pungkasnya.

Menindaklanjuti adanya kampung tematik di Kota Malang, UMM saat ini tengah melakukan pengukuran tanah di KWJ untuk dibangun jembatan yang saling menghubungkan antara KWJ dan Kampung Tridi. Pengukuran tanah dilakukan untuk mengukur dan menentukan kedalaman tanah yang akan digali dan sisi persis akan dibangunnya jembatan penghubung itu. (sak)