APERSI Jatim Bagi Tujuh Rumah Gratis
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

APERSI Jatim Bagi Tujuh Rumah Gratis

Wakil Gubernur Jatim Gus Ipul selaku Ketua Percepatan Pembangunan Sejuta Rumah (P2SR) Jatim menyerahkan secara simbolis bantuan tujuh rumah kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang berprestasi.

Bantuan itu merupakan peranan DPD Asosiasi Pengembang & Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Jatim dalam rangka mendukung percepatan pembangunan sejuta rumah, yang dirangkai pada acara Seminar & Bhakti Sosial, di Hotel Pullman Jl Basuki Rachmat Surabaya, Kamis (15/9).

Bantuan tujuh rumah tersebut sumbangan dari enam pengembang. Berarti baru satu persen dari jumlah pengembang yang tergabung dalam APERSI Jatim sebanyak 600 pengembang,

Pertama developer PT Atria Sejati Grup (Perumahan Griya Asri Kencana Probolinggo) milik Drs Hendro Rusyanto untuk Jumadi (kuli bangunan dari Maron Kab Probolinggo). Kedua, PT Ageng Citra Gemilang PT Griya Ageng Kota Pasuruan milik Wiwin Setiyani memberikan dua unit rumah untuk dua orang guru ngaji dan Hafidz qur’an yaitu Khoirul Hadi Muhammad (Kesamben jombang) dan Imam Tabroni (Buduran Sidoarjo).

Ketiga, PT Widyantara Perdana Putra, pengembang “Perumahan Pondok Pesona Alam” di Lamongan milik Eni Windi Rahayu memberikan rumah kepada Nurdin Halid (pesepakbola nasional asal Lamongan). Keempat, dari Tuban PT Sukses Bangun Pertiwi milik H Sujono SH memberikan rumah untuk Khusnul Khotimah (guru SD GTT yang sudah 25 tahun mengabdi). Kelima PT Graha Agung Kencana milik H Nuradi SE memberikan rumah kepada Suyoko (guru SD Honorer di Tuban). Keenam PT Panca Emas Sejahtera milik Ir Suhartoyo memberikan rumah kepada Surahwi (sekdes selama 20 tahun di Panarukan Situbondo).

Gus Ipul mengatakan sesuai dengan UUD 1945 pemerintah berkewajiban menyediakan kebutuhan dasar masyarakat, salah satu adalah rumah tinggal yang layak.

Masalah penyediaan perumahan adalah badlock yang makin lama makin tinggi. Kalau diukur dari orang yang menikah setiap tahun di Jatim berdasarkan surat nikah mencapai 500 ribu lebih. Sedangkan yang cerai 65 ribu per tahun. Trend setiap tahun cenderung meningkat, sekarang mencapai 70 ribu per tahun, dan sebagian besar mereka belum memiliki rumah sendiri.

Penyediaan rumah di Jatim tidak lebih dari 25 ribu unit per tahun. Badlock menjadi masalah yang cukup serius 6,7 juta. Tapi kalau dari sisi kontrak bisa 13 juta.

Oleh karena itu untuk mengatasi salah satu problem perumahan, ada tim percepatan untuk mendorong stakeholder agar bisa menyediakan perumahan bagi yang membutuhkan. Selain itu Rumah Tidak Layak Huni sekitar 500 ribu lebih, sejak 2009–2016 RTLH yang sudah direnovasi sebanyak 366.412 unit.

Penyediaan daya dukung keperluan pembangunan rumah misalnya PLN, PDAM belum optimal dalam memberikan pelayanan. Padahal lokasi pembangunan perumahannya khusus rumah sederhana tapak dan rumah susun. Selain itu masalah perijinan, dan yang terpenting masalah keterbatasan lahan. Penyediaan infrastruktur dan daya dukung yang lain yang masih relatif tinggi, serta daya beli masyarakat yang masih rendah.

“Semua itu masalah yang harus diselesaikan secara bersama-sama. Tapi saya optimis, karena ada pengusaha yang tangguh/ pengembang yang tergabung dalam APERSI tidak mudah putus asa. Buktinya masih ada yang mau memberi bantuan rumah untuk MBR. Masih mau memberikan masukan ke pemerintah untuk memberikan kebijakan yang terbaik,” tegas Gus Ipul. (sak)