Aplikasi Survei Kemiskinan ala Mahasiswa
PERISTIWA TEKNOLOGI

Aplikasi Survei Kemiskinan ala Mahasiswa

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Riski Dwi Setiawan menciptakan aplikasi pemetaan kemiskinan berbasis Android dan web untuk memangkas biaya dan waktu agar menjadi lebih efisien. Tujuannya memangkas waktu survei lapangan yang membutuhkan biaya cukup tinggi.

“Teknik survei Badan Pusat Statistik (BPS) memang demikian. Belum lagi perekapan data satu per satu, butuh waktu lama,” kata Riski Dwi Setiawan kepada media di ITS, Jumat (16/9) lalu.

Teknik survei konvensional tidak efisien. Selain mendatangi rumah warga satu persatu, juga membawa kertas formulir survei cukup banyak. Sangat merepotkan. Kemana-mana membawa kertas cukup banyak.

Belum lagi setelah survei, dilakukan perekapan data satu persatu untuk kemudian dimasukkan ke BPS. Di BPS masih harus entri data ke sistem. Baru setelah itu mendapatkan hasilnya. Tahapan demi tahapan butuh waktu panjang.

“Terutama saat datang ke rumah warga yang belum tentu sehari bisa bertemu. Kadang harus kembali dan kembali karena yang didata tidak ada di rumah dengan berbagai macam alasan,” paparnya.

Maka mahasiswa peraih beasiswa Bidikmisi itu bekerjasama dengan BPS dan Badan Pendapatan Daerah (Bapeda) Kota Madiun, asal kelahirannya, mengembangkan aplikasi yang fungsi utamanya memangkas waktu survei menjadi ringkas dan cepat.

Kerjasama itu direspon positif, karena sistim aplikasi yang dibuatnya bisa memutus beberapa tahapan sistem survei manual. Khususnya survei tingkat kemiskinan di Madiun.

“Sistem yang saya buat itu berisi 14 variabel kemiskinan yang didapat dari BPS dan Bapeda. Inilah yang diisi surveyor saat mendatangi rumah warga. Jadi lebih simpel dan efektif,” kata pria kelahiran 23 Mei 1994 itu.

Data yang diinput di lapangan langsung terkoneksi sistem validasi dan hasilnya otomatis keluar. Hasilnya berupa tiga tingkat kemiskinan. Mulai sangat miskin, miskin dan hampir miskin. “Lebih enak dan singkat,” katanya.

Melalui sistem yang dibuatnya, tahapan survei manual dipangkas. Tahapan perekapan dan entri data ke sistem BPS selama ini menjadi tidak perlu lagi. Waktu yang dibutuhkan jauh lebih singkat. Jika survei konvensional memakan waktu seminggu, melalui aplikasinya bisa rampung sehari.

Keistimewaan lain aplikasinya adalah memiminalisir error saat survei. Lewat aplikasi yang dibuat, data bisa diupdate sewaktu-waktu. Disamping itu, survei lewat aplikasinya cukup melibatkan masing-masing Ketua RT tanpa harus melibatkan surveyor.

“Kalau eror bisa dibetulkan tanpa rekap ulang dari awal,” ujar mahasiwa dengan Tugas Akhir (TA) berjudul Rancang Bangun Aplikasi Untuk Pemetaan Tingkat Kemiskinan Masyrakat Berbasis Perangkat Bergerak itu. (sak)