Asuransi Perbesar Investasi di Pasar Modal
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Asuransi Perbesar Investasi di Pasar Modal

Dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) dinilai tidak mempengaruhi kinerja pasar modal di Indonesia, dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) saat ini menembus 5.000. Peningkatan IHSG pun disikapi positif oleh pelaku industri asuransi jiwa yang akan meningkatkan peningkatan investasi di pasar modal.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani menjelaskan fundamental ekonomi Indonesia saat ini memang bagus, walaupun terdapat isu negatif.

“Isu negatif ini tidak berpengaruh banyak karena IHSG terus bergerak naik. Bahkan, sekarang sudah tembus 5.000 yang menunjukkan fundamental ekonomi milai bagus,” jelas dia di Jakarta.

Fundamental ekonomi akan lebih bagus dengan adanya tax amnesty yang segera berlaku. Dampak kebijakan tax amnesty pun sudah terasa meski saat ini belum diberlakukan.

Firdaus menjelaskan, fundamental ekonomi yang solid akan berpengaruh pada industri keuangan nonbank, terutama asuransi jiwa. Hal itu akan mempengaruhi peningkatan aset seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya adalah penempatan investasi. Pasalnya IHSG yang mulai positif akan meningkatkan imbal hasil investasi.

“Industri asuransi jiwa akan lebih banyak menempatkan di pasar modal seperti saham dan reksadana dari struktur asetnyapun sekitar 65 persen sudah ditempatkan di instrumen pasar modal,” kata dia.

Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo menjelaskan, penempatan investasi perusahaan di saham saat ini baru mencapai Rp 1,5 triliun dari total investasi Rp 27 triliun. Sampai akhir tahun, perseroan akan berinvestasi di saham dan reksadana.

Hary menjelaskan, kombinasi investasi di saham dan reksadana adalah karena perseroan ingin mengantisipasi resiko dampak brexit gelombang kedua pada triwulan III-2016. Saat ini isu brexit tidak mempengaruhi kondisi pasar modal. “Kami tidak berani terlalu agresif, karena takut ada gejolak susulan,” ungkap dia.

Bentuk antisipasi perseroan terhadap investasi di saham adalah selektif memilih instrumen.Menurut Hary, saat ini saham bank perlu diwaspadai karena adanya risiko peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL). Kendati memilih saham bank pun, perseroan memilih saham bank-bank lapis dua. (sak)