Ayobaca.in Bagi Tunanetra Raih Apresiasi
PERISTIWA TEKNOLOGI

Ayobaca.in Bagi Tunanetra Raih Apresiasi

Hanya 2.000 tunanetra dari 3,7 juta tunanetra yang dapat mengakses buku Braille di Indonesia. Kondisi ini sangat disayangkan dimana 40 persen dari 3,7 juta tunanetra masih dalam usia sekolah dan membutuhkan akses terhadap ilmu pengetahuan melalui buku. Hal tersebut melatarbelakangi Deka Komanda Yogyantara, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UI mengembangkan Ayobaca.in.

“Melalui aplikasi masyarakat umum dapat membacakan suatu buku, yang kemudian direkam secara real-time dan dikonversi menjadi audiobook. Teman-teman tunanetra dapat mengakses audiobook tersebut melalui website maupun aplikasi Ayo Bacain di handphone secara gratis,” ungkap Deka melalui rilis Humas UI.

Deka mendapat inspirasi ide Ayobaca.in ketika Februari 2016 lalu mengikuti kegiatan kepemudaan di Thailand. Ia berkesempatan bertemu dengan Tab, founder GuideLight Thailand. Guidelight Thailand adalah gerakan sosial dimana masyarakat terlibat dalam kegiatan sosial mengkonversi buku konvensional menjadi audiobooks.

Dari karyanya tersebut, Deka berhasil menjadi Top 5 Social Business Project dalam Program Community Leaders Ayamin Plus yang diadakan NAMA Foundation dan Ghadan Institute yang berbasis di Arab Saudi, serta didukung Waffa Indonesia Gemilang.

Deka meraih posisi empat dari 20 proyek bisnis sosial yang terpilih. Ia menerima pendanaan senilai Rp 17 juta untuk mengembangkan bisnis sosialnya, yang bertujuan membantu tunanetra di Indonesia itu.

Community Leaders Ayamin Plus sendiri merupakan kompetisi ide social-entrepreneur yang diadakan serentak di empat negara yakni Indonesia, Kyrgyzstan, Lebanon dan Tanzania yang berlangsung secara paralel sejak Maret 2016.

Awalnya, pada Maret lalu terdapat 100 peserta yang diseleksi, kemudian diambil 20 peserta terbaik untuk diberikan pendanaan proyek. 20 peserta ini juga akan diberangkatkan ke Turki akhir tahun ini untuk mengikuti training social entrepreneurship disana.

Gagasan Deka berangkat dari mahalnya buku Braille yang harganya bisa berlipat-lipat dari buku konvensional, serta judul buku yang sangat terbatas terutama dalam bahasa Indonesia. Di sisi lain, audiobook untuk tunanetra juga masih terbatas dan mayoritas masih berbentuk CD dengan distribusi yang masih terbatas.

Deka percaya Ayobaca.in ke depannya akan meningkatkan jumlah audiobooks di Indonesia serta mempermudah akses ilmu pengetahuan bagi 3,7 juta tunanetra di Indonesia. Agenda terdekat Ayobaca.in yakni peluncuran aplikasi serta kegiatan membacakan buku bersama pada bulan Agustus yang diadakan di Jakarta. (sak)