Bahan Parasetamol Saja Masih Impor
KESEHATAN PERISTIWA

Bahan Parasetamol Saja Masih Impor

Sekitar 90% bahan baku obat yang beredar saat ini ternyata masih impor. Hal inilah yang salah satunya menyebabkan terjadinya defisit neraca perdagangan Indonesia.

Pernyataan ini ditegaskan Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit D pada acara penandatanganan nota kesepahaman Pengembangan Bahan Baku Obat Parasetamol dengan UGM dan PT Kimia Farma di UGM.

Menurut Achmad kebutuhan terhadap obat-obatan diperkirakan akan naik seiring dengan komitmen pemerintah dalam mengawal BPJS Kesehatan. “Proyeksinya kebutuhan terhadap obat-obatan ini akan naik 5 tahun ke depan,” kata Achmadpekan lalu di Jogja.

Pihak Kementerian Perindustian, tambah Achmad, akan mendukung tindak lanjut penandatanganan nota kesepahaman ini, baik di bidang regulasi maupun infrastruktur.

Sementara itu, Direktur Utama Kimia farma, Rusdi Rosman mengapresiasi para peneliti UGM yang akan melakukan penelitian terhadap bahan baku parasetamol. Pihak Kimia Farma siap membantu, baik di sisi produksi, penjualan hingga pemasaran.

Rusdi memberikan gambaran kebutuhan parasetamol di Indonesia mencapai 4.500 ton tiap tahun. “Parasetamol khan paling banyak dikonsumsi tetapi bahan baku kita belum bisa produksi. Semoga usaha dari peneliti UGM ini nantinya akan sukses,” harap Rusdi.

Rektor UGM Prof Ir Dwikorita Karnawati MSc PhD mengatakan kerjasama dengan Kimia Farma sebelumnya telah dilakukan dalam pemasaran produk Gama CHA. Rektor menegaskan kerjasama yang dijalin ini sekaligus menegaskan kembali posisi UGM sebagai universitas riset yang mengedepankan spirit socioentrepreneur. “Bagaimana supaya riset dan inovasi UGM bisa dihilirkan baik ke masyarakat, pemerintah maupun industri,” egas Dwikorita. (sak)