Balon Udara Bisa Ganggu Penerbangan
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Balon Udara Bisa Ganggu Penerbangan

Kementerian Perhubungan mengimbau masyarakat memperhatikan aspek keselamatan penerbangan saat melepaskan balon udara, pasca terjadinya kejadian yang membahayakan (hazard report) saat ada balon udara hampir menabrak pesawat Indonesia AirAsia.

Imbauan disampaikan Kabiro Komunikasi dan Informasi Publik, Hemi Pamurahardjo atas peristiwa yang terjadi pada Sabtu (9/7) sekitar pukul 09.25 WIB. Saat itu penerbangan Airasia AWQ 8075 (QZ8075) rute Jogja–Kualanamu sedang melakukan peningkatan ketinggian (climbing) melalui ketinggian 18.000 kaki.

Terlihat balon udara beterbangan pada jarak 55 Nautical Miles di sebelah barat dari Non Directional Beacon (NDB) Jogja hingga sebelum VOR Cilacap sampai dengan sebelum Bandung.

Pesawat Airasia melaporkan nyaris bersinggungan dengan 2 (dua) balon udara yang melewati sayap sebelah kiri pesawat dengan jarak hanya sekitar 10 meter. Balon Udara tertinggi terlihat kurang lebih sekitar 30.000 kaki.

Hemi menjelaskan balon udara yang dilepaskan di angkasa dapat membahayakan keselamatan penerbangan. “Karena pelepasan balon udara tersebut dilakukan tanpa izin dan tidak berjadwal,” ujar Hemi di Posko Angkutan Lebaran Terpadu Kemenhub di Jakarta.

“Karena terbuat dari bahan bukan metal berakibat balon udara tersebut tidak dapat terpantau radar Air Traffic Controller (ATC). Ukuran balon juga sangat besar dengan diameter lebih dari 5 meter dan tinggi lebih dari 10 meter serta dapat mencapai ketinggian yang terpantau sampai diatas 35.000 kaki,” sambungnya.

Hemi mengatakan selain kejadian dengan AirAsia, sebelumnya juga telah terjadi kasus sama pada penerbangan Garuda Indonesia.

GM Airnav Indonesia Cabang Denpasar, Maskon Humawan melaporkan bahwa pada penerbangan GIA228 rute Jakarta menuju Solo, pada posisi point PIALA menuju point PURWO, terlihat 2 balon udara besar berwarna hitam di radial 322 yang terdeteksi dari Very High Frequency (VHF) Omnidirectional Radio Range (VOR) Solo sekitar 17 Nautical Miles (NM) sebelum point PURWO ketinggian 14.000 kaki pada pukul 16.20 WITA.

Balon yang diluncurkan oleh masyarakat terpantau meluas antara Lamongan (Jawa Timur), wilayah Jawa Tengah sampai dengan sebelah Timur wilayah Bandung, Jawa Barat.

Hemi menegaskan bahwa semua upaya telah dilakukan baik secara teknis, operasional dan administratif. “Hal ini merupakan masalah hukum, karena adanya pelanggaran terhadap UU No 1 Tahun 2009 tentang penerbangan dan harus dilakukan penegakan hukumnya,” tegas Hemi.

Karena beresiko mengancam keselamatan penerbangan, berbagai unit terkait telah berupaya menghimbau penertiban peluncuran balon udara tersebut, antara lain Otoritas Bandar Udara Wilayah III telah menerbitkan imbauan mengenai penertiban gangguan laser dan penerbangan balon udara kepada para Kepala Daerah dan Kepolisian Daerah pada 30 Juni 2016 yang lalu.

Dalam imbauan dimohon agar pejabat daerah dan kepolisian daerah dapat mensosialisasikan pada masyarakat agar tidak melepas balon udara dan tidak menggunakan laser yang dapat mengancam keselamatan penerbangan.

Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau Airnav Indonesia juga telah mengirimkan surat perihal ancaman balon udara kepada jajaran pemerintah daerah dan Polda pada tanggal 7 Juli 2016.

Selain itu, Airnav Indonesia telah menerbitkan NOTAM peringatan kepada pilot nomor: NOTAM A1969/16 pada 6 Juli 2016 perihal kehati-hatian operasional penerbangan karena adanya balon udara dan permintaan kepada pilot yang sedang menerbangkan pesawat agar melapor kepada ATC jika melihat balon udara pada saat operasi penerbangannya. (sak)