Bamboo Biennale di Benteng Vastenburg
PERISTIWA SENI BUDAYA

Bamboo Biennale di Benteng Vastenburg

Benteng Vastenburg tampak tak seperti biasa yang orang lihat sehari-hari. Ada kelompok sadar wisata (pokdarwis) dari lima kecamatan di Solo, menampilkan suguhan pertunjukan dengan alat musik dan aksesoris bambu. Mereka menghibur pengunjung dalam rangka memeriahkan Bamboo Biennale kedua yang berlangsung sampai akhir Oktober (30/10).

Kelima pokdarwis tersebut adalah Setajali dari Kecamatan Jebres, Wahyu Tumurun dari Pasar Kliwon, Jayalaras dari Serengan, Bumbung Krumpyung dari Laweyan, serta Kadipiro dari Kecamatan Banjarsari.

Para penampil dengan apik menggemakan alunan musik dengan hampir 75 persen alat musik bermaterial bambu, baik tradisional maupun karya inovatif.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendukung penyelenggaraan Bamboo Biennale kedua dimana kegiatan seperti ini akan mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi kreatif.

Deputi III Bidang Infrastruktur Hari Santosa Sungkari mengatakan, ada peluang bambu sebagai produk ekonomi kreatif. “Kami berharap, bambu bisa meningkatkan jumlah pelaku ekonomi kreatif yang menggunakan bambu sebagai bahan dasar,” ucap Hari kepada media di Solo, Minggu (16/10).

Pertunjukan tersebut hanyalah satu dari berbagai kegiatan. Lihatlah Benteng Vastenburg sekarang!

Aneka ragam bambu menghiasi sudut-sudut benteng yang diapit Sungai Pepe di sebelah utara dan Alun-Alun Lor Kraton Solo ini.

Fort Vastenburg atau benteng peninggalan VOC yang selesai 1745 tersebut mendadak seperti berdandan menggunakan pakaian bambu.

Anemuka, merupakan instalasi bambu karya yang paling menyedot perhatian. Enam bentuk hasil karya menyuguhkan aneka pengetahuan tentang bambu.

Karya seni Universitas Sebelas Maret Surakarta ini seolah-olah menyuntikkan informasi bahwa bambu bisa menjadi materi potensial di sektor kriya dan arsitektur.

Bamboo Biennale sebetulnya sudah dimulai sejak awal bulan ini. Pre-event dilaksanakan 1–7 Oktober. Sedangkan rangkaian acara mulai 8 Oktober sampai 30 akhir bulan ini yang terdiri dari berbagai event, antara lain pameran produk bambu di Pasar Gedhe 5–30 Oktober. Instalasi dimulai 8 Oktober sampai selesai. Kemudian, pertunjukan-pertunjukan seni, masing-masing berlangsung di akhir pekan, yaitu 8, 16, 22, dan 26 Oktober.

Pertunjukan dan seluruh acara melibatkan berbagai pihak yang bersinggungan dengan bambu, mulai dari komposer, musisi, pegiat komunitas bambu, perajin, akademisi alias ahli bambu, sampai para arsitek dan pokdarwis-pokdarwis di berbagai kecamatan di Solo yang sudah lolos proses seleksi dan kurasi.

Sebut saja para ahli bambu yang terlibat, antara lain Babeh Idin dari Padepokan Sangga Buwana, Muqoddas Syuhada Das Albantani, Jajang Sonjaya dari sahabat bambu alias Bambuboss, Abah Jatnika Yayasan Bambu Indonesia, serta Sulaeman Yusuf dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI.

Sedangkan komposer dan musisi yang terlibat antara lain Sahuni dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, lalu Misbahudin dari Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Ada pula Gempur Respati, yang datang dari Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Ini belum termasuk 22 arsitek atas nama pribadi maupun kelompok yang juga antusias berpartisipasi. Para arsitek mengisi workshop di acara pre-event tentang pembuatan instalasi.

Sepanjang pameran, para pengunjung pun bisa menikmati dan berbelanja berbagai ragam produk kerajinan bambu. Mulai dari hiasan, jam, kertas, kipas, mebel, papan bambu laminasi, peralatan makan, dan peralatan rumah tangga.

Pengunjung juga bisa membeli peralatan tulis, sangkar burung, tirai dan partisi, tote bag sampai wadah perhiasan yang terbuat dari bambu. Apapun produk dari bambu, semua ada di Bamboo Biennale.

Terakhir, rangkaian acara juga menyuguhi peserta berbagai pertemuan diskusi alias konferensi yang berlangsung di kantor Bank Indonesia Solo. Lewat konferensi, siapapun yang hadir di Fort Vastenburg diajak bertukar informasi, pendapat, pun ilmu tentang bambu.

Tentu saja ada pemateri yang akan menjadi pemantik diskusi, sebut saja materi tentang penelitian bambu yang meliputi penanaman, budidaya, keberadaan hutan bambu, pengawetan, teknologi produksi, hingga nilai sosial-budaya bambu di Indonesia.

Hadir di dalam konferensi antara para stakeholders yang berkepentingan dengan bambu. Harapannya, industri bambu bisa tumbuh dan berkembang dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Para narasumber konferensi tak lain adalah para ahli, seperti Babeh Idin, Jajang Sonjaya, Abah Jatnika, dan Sulaeman Yusuf. Termasuk Eko Prawoto yang sehari-sehari berprofesi sebagai arsitek. Mulai dari Pemerintah, akademisi, pegiat bambu, perajin, desainer, arsitek, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum silakan ikut konferensi.

Tunggu apa lagi? Ayuk, ke Benteng Vastenburg sekarang! Acaranya masih sampai akhir bulan ini. (sak)