Bank BRI Raih Penghargaan The Asian Banker
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Bank BRI Raih Penghargaan The Asian Banker

Bank BRI meraih penghargaan sebagai Best Microfinance Product dan Best Deposit Business dalam ajang The Asian Banker Indonesia Country Awards 2016, Rabu (27/7) malam. Pencapaian tersebut tercermin pada kinerja funding BRI sepanjang kuartal I/2016 yang tercatat positif.

Managing Editor The Asian Banker Foo Boon Ping dalam sambutannya mengatakan bahwa peraih penghargaan dituntut untuk menjalankan tanggung jawab yang lebih besar ke depannya. “Kami akan terus memantau jejak kinerja dari para penerima penghargaan. Kami perlu pula melihat bagaimana institusi tersebut berdaya guna di kemudian setelah memperoleh kemenangan ini,” kata Ping.

The Asian Banker adalah perusahaan sebagai penyedia informasi bagi industri jasa keuangan dalam bentuk publikasi, ‘e-newsletter’, dan penelitian-penelitian. Perusahaan tersebut berkedudukan di Singapura dan didirikan pada 1996.

Berdasarkan laporan keuangan BRI, total Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami peningkatan dari Rp 587,73 triliun jadi Rp 631,78 triliun. Sementara, perusahaan juga berhasil menurunkan COF sebanyak 76 bps menjadi 3,98 persen.

“Turunnya COF tersebut merupakan hasil dari upaya perbaikan funding structure yang dilakukan oleh perseroan. Di mana komposisi Current Account Saving Account (CASA) atau dana murah terhadap total DPK tercatat tumbuh dari 51,74 persen kuartal I/2015 jadi 56,54 persen pada kuartal I/2016,” ujar Direktur Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) BRI Mohammad Irfan di Jakarta.

Irfan menyampaikan, hingga akhir Maret 2016, CASA BRI tercatat tumbuh sebesar 17,47 persen year on year (yoy) menjadi Rp 357,19 triliun. Kemudian, total kredit yang sudah disalurkan sepanjang Januari-Maret 2016 mencapai Rp 561,1 triliun.

“Tumbuh 18,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan kredit tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan kredit mikro yang melesat lebih tinggi dibandingkan kredit BRI secara keseluruhan,” katanya.

Dia merincikan, kredit di segmen mikro mencatat pertumbuhan sebesar 20,4 persen yoy menjadi Rp 189,7 triliun, dengan tingkat Non Performing Loan (NPL) yang hanya sebesar 1,54 persen (gross).

Kinerja funding dan lending yang stabil tersebut, perusahaan berhasil membukukan total operating income atau total pendapatan operasional sebesar Rp 18,63 triliun. “Ini tumbuh sebesar 17,9 persen yoy dengan laba bersih sebesar Rp 6,13 triliun,” pungkasnya. (sak)