Batik Abad 17 di Museum Batik Danarhadi
JALAN-JALAN PERISTIWA

Batik Abad 17 di Museum Batik Danarhadi

Kota Solo selalu identik dengan kebudayaan Jawa, sedangkan kebudayaan Jawa sendiri tak pernah lepas dari batik. Di Solo ada sebuah museum yang khusus mengoleksi berbagai model batik, Museum Batik Danarhadi.

Museum ini didirikan H Santoso Doellah, pendiri PT Batik Danarhadi bersama isterinya Hj Danarsih sejak tahun 1967. Kecintaan pasangan ini terhadap batik sebagai identitas budaya membuat keduanya mendirikan museum ini. Nama Danarhadi sendiri diambil dari gabungan dua nama Danarsih dan H Hadidipriyono, yaitu nama kedua orangtua Hj Danarsih.

Museum Batik Danar Hadi berada di Kompleks Dalem Wuryaningratan. Di museum ini terdapat keragaman serta sejarah panjang batik kuno karya seniman batik Indonesia mulai dari abad ke-17.

Pada tahun 2002 museum berarsitektur Jawa Kuno ini diresmikan Wakil Presiden Megawati Sukarnoputri. Museum terdiri dari sebelas ruangan yang digunakan untuk memajang koleksi batik kuno Santoso Doellah.

Sebelas ruang itu digunakan untuk menyimpan sembilan jenis batik, diantaranya Batik Belanda, Batik Kraton, Batik Cina, Batik Djawa Hokokai, Batik Pengaruh India, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran dan Batik Petani, Batik Indonesia, serta Batik Danarhadi.

Saat pertama kali masuk ke museum, menuju ruang galeri pertama yang berisi koleksi batik Belanda yang sebagian besar berbentuk sarug dengan dominasi motif bunga, dedaunan, hewan tertama burung dan kupu-kupu.

Batik Belanda dapat dilihat dari warnanya yang cerah dan mencolok, seperti merah, hijau, oranye, dan pink. Pada dinding terdapat foto-foto orang Belanda mengenakan kain batik.

Selanjutnya galeri kedua, dipenuhi koleksi Batik Keraton, baik Keraton Surakarta, Mangkunegaran, Yogyakarta, maupun Pakualaman. Kain batik yang dipajang berasal dari periode dan pengaruh kultur serta lingkungan yang berbeda-beda.

Beragam corak, motif dan jenis kain batik dari seluruh Nusantara menjadi koleksi Museum Batik Danarhadi. Koleksinya bahkan mencapai sepuluh ribu helai kain batik. Itu yang membuat museum ini diakui MURI sebagai museum yang mempunyai koleksi kain batik terbanyak.

Batik-batik yang dikoleksi museum ini adalah batik-batik antik yang didapat dari masa penjajahan Belanda abad ke-17 dan Jepang sampai dengan Indonesia Merdeka. Sehingga bisa sejenak dibayangkan berbagai model busana tempo dulu saat Indonesia masih dijajah Belanda dan Jepang.

Lokasi Museum Batik Danarhadi mudah diakses karena berada di jalan utama Solo yakni jalan Slamet Riyadi 261-263. Di Museum Danarhadi selain melihat-lihat koleksi batik juga bisa menyaksikan proses pembuatan batik di workshop yang ada. (sak)