Belajar dari Paman Sam Kelola Pelabuhan
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Belajar dari Paman Sam Kelola Pelabuhan

Sebuah foto Golden Bridge, jembatan bercat merah yang entah kenapa dinamai ‘golden’ (yang berarti emas) terpampang gagah disorot presentasi milik Peter Dailey, Direktur Maritim Pelabuhan San Francisco, Amerika Serikat, saat berkunjung ke Kantor Pusat Pelindo III Surabaya, Agustus lalu.

Dalam foto terlihat kolong jembatan ikonik itu bisa cukup untuk dilewati kapal peti kemas raksasa CMA CGM dengan aman. Dengan keunggulan konstruksi itu, keberadaan Golden Bridge tidak mengganggu pengembangan pelabuhan-pelabuhan yang ada di sekitarnya, termasuk Pelabuhan San Francisco.

Demi melihat foto tersebut, sempat terbersit pikiran, mengapa rancang bangun Jembatan Suramadu membuat Selat Madura tidak bisa lagi dilewati sejumlah kapal besar?

Nampaknya kedatangan tamu dari Negeri Paman Sam itu bukan jadi momen mengkritisi kondisi negeri, namun mencari pelajaran yang bisa dipetik dari presentasinya untuk diterapkan agar memajukan pelabuhan-pelabuhan di Tanah Air.

Kedatangan Peter Dailey ke beberapa lembaga di Indonesia difasilitasi kantor Konsulat Amerika Serikat di Surabaya. Maksud utama dari kedatangan pelaku bisnis logistik dari AS ialah untuk mengajaknya melihat langsung pesatnya perkembangan Pelabuhan Tanjung Perak dan proyek JIIPE (Java Integrated Industrial and Port Estate) dibawah pengelolaan Pelindo III.

“Sehingga kelak perdagangan Indonesia–AS dapat memanfaatkan Pelabuhan Tanjung Perak sebagai pintu gerbang perdagangan, yang selama ini hanya mengandalkan Pelabuhan Tanjung Priok,” kata Pejabat Bagian Ekonomi/Politik Konsulat AS di Surabaya, Jett Thomason, yang turut mendampingi presentasi, seperti dirilis Humas Kementerian BUMN.

Secara umum, Peter Dailey lebih banyak membahas pelabuhan di pantai barat California AS, termasuk dua pelabuhan peti kemas terbesar di AS, yakni Pelabuhan Los Angeles dan Long Beach.

Kawasan west coast merupakan sistem interkoneksi dengan enam pelabuhan kargo, yakni Benicia (otomotif, curah, minyak), Richmond (otomotif, curah, minyak), Oakland (peti kemas), Redwood City (curah), Stockton (curah, kargo terkait proyek, breakbulk), dan San Francisco (breakbulk, curah, kargo terkait proyek).

Partisipasi Warga
Saat fokus membahas Pelabuhan San Francisco, Peter Dailey mengatakan sudah menjadi tradisi warga kota tersebut bangga terhadap aspek maritimnya. “Pelabuhan San Francisco merupakan pelabuhan pertama di California yang memiliki shorepower yaitu sumber tenaga listrik di dermaga, untuk kapal pesiar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa nilai investasi untuk fasilitas tersebut sebesar 1 juta dolar USD. Investasi yang lebih besar digunakan untuk membangun terminal penumpang cruise baru senilai hinga 100 juta dolar USD.

“Kami berani berinvestasi besar karena melihat pertumbuhan industri wisata kapal pesiar yang terus naik. Konsep bangunan terminal baru tersebut akan dibuat semi-terbuka,” katanya.

Sehingga masyarakat bisa bergabung mengikuti berbagai kegiatan saat ada cruise yang sandar. “It’s an urban center cruise terminal,” imbuhnya bangga. Konsep ini tampaknya tidak jauh berbeda dengan Pelindo III yang mengembangkan Surabaya North Quay di Terminal Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Selama presentasinya, Peter Dailey yang mengawali karirnya sebagai humas berkali-kali menekankan pentingnya pengelola terminal pelabuhan lebih mengikutsertakan masyarakat sekitar dalam kegiatan tertentu.

Misalnya pada berbagai acara saat cruise sandar. “Selain itu juga perlu memberikan ruang terbuka dan taman. Kualitas hidup dari komunitas di sekitar wilayah operasional pelabuhan perlu diperhatikan,” pesannya.

Dari berbagai jenis terminal dan kegiatan usaha, partisipasi masyarakat juga diserap sebagai tenaga kerja pada usaha pengelolaan dok perbaikan kapal. “Jadi selain memberikan akses pada properti tertentu, masyarakat juga perlu merasakan adanya economic livelihood dari keberadaan pelabuhan di dekat tempat tinggalnya,” tegasnya lagi.

Contoh lain betapa baiknya pengelola Pelabuhan San Francisco dalam berhubungan dengan warga terlihat dengan adanya sudut terminal yang dari dulu hingga kini dikhususkan untuk kegiatan komersial nelayan. “Pengelola membangun fasilitas pemrosesan ikan dengan modern di dermaga nelayan,” ceritanya.

Hal lain yang sangat menarik adalah bentuk perusahaan pengelola Pelabuhan San Francisco yang disebut sebagai ‘enterprise agency’, yaitu entitas usaha yang bergerak sesuai peraturan pemerintah tapi dengan disiplin kerja seperti swasta.

Jawaban menarik ini mungkin kunci yang bisa ditiru BUMN Indonesia agar dapat meningkatkan kontribusinya bagi perekonomian negara melalui peningkatan etos kerja. Sejalan dengan yang disampaikan Presiden Jokowi pada peringatan kemerdekaan lalu, sekarang eranya Kerja Nyata! (sak)