Belajar dari Masa Lalu dan Bangkit
KOMUNITAS PERISTIWA

Belajar dari Masa Lalu dan Bangkit

Masih teringat betul dalam benak Linda McDonell akan kisah kelam, trauma dan rasa takut yang dialami penduduk asli Kanada, yang seringkali dikenal sebagai suku Indian, atau first nation atau Aborigin. Anak-anak dari kaum kulit merah ini dipisahkan secara paksa dari orangtuanya oleh otoritas pemerintah untuk dididik ala barat di asrama sekolah.

Mereka dilarang mengenal budaya asli mereka dan berbicara bahasa daerah mereka. Trauma dan ketakutan ini diturunkan dari generasi ke generasi dan terus menghantui suku Aborigin, terutama mereka yang sudah senior (tetua) yang secara langsung mengalami peristiwa tersebut.

Pada waktu itu, banyak anak suku Aborigin mengalami berbagai kekerasan baik fisik maupun seksual hingga 15 tahun lamanya. Untuk menghilangkan trauma dan rasa takut tersebut dibutuhkan waktu selama tujuh generasi dan sampai saat ini baru berjalan pada generasi keempat.

Bertempat di Ruang Theatre Tower Timur, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Pakuwon City, Linda McDonell yang pernah menjadi Indonesia Early Childhood Development (IECD) Project Team Leader–Vancouver Island University (VIU) Canada membagikan penelitiannya yang berjudul Qeq College Transition Year Project, suatu program kearifan lokal pada pendidikan anak usia dini.

Dihadapan mahasiswa semester 5 dan 7 Fakultas Psikologi UKWMS, Linda dengan dimoderatori Agnes Maria Sumargi, PhD, dosen Fakultas Psikologi UKWMS mengajak mahasiswa bisa berdiskusi dan saling tanya jawab mengenai cara mengintegrasikan budaya lokal ke dalam program pendidikan anak usia dini.

Kedatangan Linda ini bukan kali pertama, sejak menjalin kerjasama dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta Fakultas Psikologi UKWMS dalam bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada tahun 2001, Linda selalu datang berkunjung ke UKWMS setiap tahunnya.

Adanya kegiatan ini dimaksudkan agar mahasiswa Fakultas Psikologi UKWMS dapat belajar dan memahami bagaimana seharusnya melakukan pembimbingan terhadap anak usia dini, dengan memasukkan budaya lokal.

Qeq College Transition Year Project sendiri merupakan penelitian Linda selaku tim peneliti VIU bersama Tilicum Lelum Aboriginal Friendship Centre (TLAFC), School District of Nanaimo & Ladysmith yang didanai oleh Urban Aboriginal Knowledge Network of Canada & the Vancouver Island University Research Grant Program.

Penelitian ini dilakukan di Nanaimo BC, Canada untuk sekaligus melihat bagaimana pandangan orangtua terhadap peran administrator sekolah dan tim riset VIU dalam program pengembangan anak usia dini yang berbasis kearifan lokal.

Qeq sendiri berarti baby namun bukan bayi dalam arti sebenarnya melainkan bagaimana proses transisi anak usia dini menuju ke usia anak-anak hingga dewasa.

“Proyek kerjasama ini dimulai tahun 2010 dengan TLAFC dan VIU yang fokus pada isu pendidikan berkaitan dengan masyarakat suku awal dan untuk meningkatkan pengalaman anak dan keluarga suku Aborigin ketika mereka bertransisi dari anak usia dini ke sekolah formal,” urai Linda saat presentasi.

Tujuan program ini di antaranya memberikan kesempatan kepada anak dan keluarga mereka agar peka dengan pengalaman anak usia dini serta untuk lebih mampu membimbing anak dan memahami sistem sekolah, mengurangi kekhawatiran keluarga sewaktu anak masuk sekolah.

Juga meningkatkan keterlibatan orangtua dalam mendampingi anak mereka khususnya ketika memasukkan anak ke sekolah lokal, untuk membangun pikiran positif, hubungan yang harmonis antara anak, orangtua dan guru.

Dan yang tidak kalah penting mendukung pengalaman budaya terutama bagi keluarga suku Aborigin dan menginformasikan kepada guru TK apa yang perlu mereka ketahui tentang keluarga dan budaya suku Aborigin, serta memberikan pengalaman dan pembelajaran bagi anak.

Melalui program ini, masyarakat suku Aborigin diberi pendampingan untuk menghilangkan rasa takut dan trauma dari masa lalunya dan mengenalkan mereka mengenai cara membimbing anak-anak usia dini yang memasuki masa transisi sekolah.

“Hal ini dilakukan karena adanya rasa takut dari orang tua jika anaknya merasakan hal sama seperti mereka dahulu, sehingga mereka sangat menjaga anak mereka dari orang tidak dikenal bahkan ketakutan saat berurusan dengan otoritas pemerintah,” ujar Linda. (sak)