Belum Terbang, N219 Banjir Pesanan
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Belum Terbang, N219 Banjir Pesanan

Pesawat N219 yang tengah dibuat PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ternyata laris manis di pasaran. Meski baru memasuki uji sayap dan landing gear, pesanan terus mengalir dari dalam dan luar negeri.

Jika semua berjalan lancar, rencana produksi ditargetkan mulai 2017. Dari dalam negeri sudah ada pesanan 60 pesawat dari perusahaan penerbangan. Mereka bakal langsung kontrak setelah pesawat lolos uji terbang. Juga dari luar negeri banyak yang menyatakan minat memesan N219.

”Bahkan, salah satu negara di Afrika siap memesan 100 pesawat untuk di-assembling di sana,” ujar Direktur Utama PTDI Budi Santoso pada media saat peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (12/8).

Pihaknya baru akan menjual ke luar negeri apabila N219 mendapat sertifikasi. Setelah disertifikasi dalam negeri, pesawat akan disertifikasi di tingkat Eropa. Dengan permintaan mencapai 60 pesawat, order di dalam negeri baru akan selesai pada 2020. Namun, Budi belum tahu apakah dari luar negeri bersedia menunggu hingga 2020.

Budi mengatakan tahap pembuatan pesawat kini memasuki tahap kritis. Dalam pengujian sayap dan landing gear, benar tidaknya perhitungan-perhitungan tentang pesawat akan diuji.

Apabila data dari PTDI benar, proses selanjutnya bisa dilanjutkan. Tes sayap maupun landing gear diperkirakan baru selesai 1-2 bulan mendatang. ”Tes itu merupakan persyaratan sebelum pesawat boleh terbang,” ungkapnya.

Dalam N219, bagian terpentingnya adalah sayap. Saat tes, sayap diberi beban sama seperti terbang. Ketika simulasi, beban akan dihitung lagi apakah perhitungan dari PTDI dengan gaya yang ada di komponen sama dengan pengukurannya. ”Kalau sesuai kami teruskan, kalau tidak cocok maka akan dilihat apa yang terjadi,” urainya.

Pengujian ini penting karena menyangkut keselamatan sebelum pesawat uji terbang. Komponen landing gear juga dilihat satu per satu. Setelah lolos, pesawat baru dapat izin terbang. Izin terbang pertama kali adalah izin eksperimental hingga mendapatkan sertifikat.

Selanjutnya diteruskan dengan izin penerbangan komersial. Uji terbang sendiri diperkirakan memerlukan waktu 1,5 hingga dua tahun. Budi menegaskan, N219 ditargetkan sebagai produk yang bagus dan murah. Mulai rapat-rapat teknis, apa yang akan dipasang dalam peralatan, hingga layout. Dalam membuat pesawat, setiap unit yang dipasang harus disaksikan oleh Kementerian Perhubungan. (sak)