Berkelana dalam Perenungan Gus Mus
PERISTIWA SENI BUDAYA

Berkelana dalam Perenungan Gus Mus

Kita tak perlu memeras otak atau mengerutkan kening untuk memahami puisi-puisi A Mustofa Bisri yang termaktub di buku kumpulan puisi berjudul ‘Aku Manusia’ ini. Tidak seperti penyair yang sering memamerkan kekayaan kosakata, sehingga justru menjadi sulit dipahami awam, yang akhirnya membuat puisi sulit merakyat, Gus Mus, begitu sastrawan asal Rembang ini biasa disapa, senantiasa menggunakan kata-kata atau kalimat sederhana dan mudah dimengerti khalayak.

Sajak ‘Aku Manusia’ yang juga dijadikan judul antologi ini terasa sangat pas menjadi pembuka jalan untuk menelusuri pengembaraan Gus Mus dalam perenungan. Dari kalam terakhir yang berbunyi, ‘Tuhan Memuliakanku’, terdapat makna tersirat yang kuat menuntun kita untuk senantiasa bersyukur.

Jika dipikirkan dengan jujur dan seksama, sebagai sesosok makhluk, apalah lagi kenikmatan yang paling besar kecuali dimuliakan Sang Pencipta. Kita seyogyanya tak perlu merasa rendah diri dengan kemampuan matahari, bulan, angin, laut, maupun setan yang dalam beberapa bidang melangkahi kesanggupan manusia, sebab Tuhan sudah memberikan keistimewaan yang luar biasa pada kita.

Secara tak kasat mata, penyair yang di KTP-nya membiarkan kata ‘penulis’ mengisi keterangan kolom pekerjaan ini juga ingin mengatakan, bahwa manusia tak perlu minder dengan kemampuan dan keahlian yang telah diberikan Tuhan pada manusia lain.

Kita hanya wajib melakukan apa yang bisa dengan optimal kita lakukan. Kecenderungan kita ingin berbuat apa, itu yang harus kita kembangkan dan tekuni. Pendapat ini terlahir setelah menghubungkan makna yang terungkap dalam buku terbitan Desember 2006, dengan maksud yang tersurat di bait terakhir ‘Wangsit’.

Kritik moral dan sosial terhadap bangsa menjadi sisi yang paling dieksploitasi. Lihatlah puisi ‘Orang-Orang Negeriku’ menyoroti mayoritas individu bangsa ini yang begitu kesulitan mencari jati diri. Memaksanya selalu mengikuti arus yang sering justru membuat kita kehilangan kepribadian dan prinsip hidup.

Ketakutan saat harus berbeda, mengekor pada tren-tren jaman, membuat kita mungkin hanya bisa menjadi diri sendiri ketika jauh dari peradaban yang sedang berlangsung. Sedangkan jauh dari peradaban pun belum tentu membuat kita berani untuk hidup, bisa jadi kita malah memilih mati bunuh diri.

Ditengah gencarnya orang meliberalkan tatanan nasional, memperjuangkan kesekuleran dengan melepaskan jubah keagamaan yang dinilai bisa mengebiri nilai-nilai obyektifitas, Gus Mus tak ingin kehilangan identitas dirinya sebagai muslim. Dia tak segan mengutip sejumlah ayat Al Quran dan istilah-istilah Islam sebagai inspirasi dan bahkan ide pokok dalam puisinya.

Mertua dari tokoh Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar-Abdalla ini juga tak sudi menanggalkan kerinduan pada kekasih umat Islam sedunia, Muhammad SAW. Begitu pula ia tak ingin melupakan gaya hidup ulama dan sufi yang telah mewarnai dakwah Islam, mereka yang sebenarnya bisa kaya dan bisa kenyang namun memilih miskin dan lapar sebagai jalan hidup untuk mendekatkan diri pada Ilahi, membuat beliau malu jika terbersit sedikit saja perasaan ujub atau bangga hati pada kealiman diri (‘Bagaimana Aku Menirumu, O Kekasih’).

Pengritikan pada tindakan yang terkesan lupa pada kehakikian manusia yang tak berhak menyiksa dan melaknat, terlihat jelas dalam ‘Allahuakbar’. Bukankah sekalipun kita tak pernah diangkat Tuhan sebagai wakil yang boleh menghakimi orang yang berbeda cara pandang?

Dikaitkan dengan sajak ‘Ada Apa Dengan Kalian’, memberikan kita sinyal tentang pentingnya memisahkan pengertian kata “memaksa” dan “mengajak” ke jalan kebaikan.

Lewat sajak ‘Allahuakbar’ pula, penulis kumpulan cerpen lukisan kaligrafi ini juga ingin mengingatkan bahwa tak ada hasil tafsiran manusia yang layak mendapat predikat kebenaran sejati. Menganggap pemikiran pribadi atau golongan tertentu sebagai hukum mutlak merupakan salah satu contoh nyata tindakan penyekutuan Tuhan dengan diri sendiri.

Kita pun tak perlu menyangsikan keabsahan ibadah orang yang berbeda cara ritual, sebab yang berwewenang menilai ibadah seorang hamba hanya Tuhan (‘Salat’).

Pembelaan terhadap hukum rokok yang masih samar atau dibuat-buat samar, juga sempat tertulis dalam salah satu larik sajak ‘Ada Apa Dengan Kalian’, namun membandingkan dengan hukum korupsi membuatnya terasa berlebihan. Rokok yang masalah kecil seharusnya dibandingkan dengan masalah yang tak semaha besar korupsi. Sebab dipandang dari manapun, rokok tetaplah merugikan baik diri sendiri maupun orang lain di sekitar. Terlebih yang bukan perokok.

Apalagi jika yang merokok termasuk kaum berpendapatan minim, sehingga dalam kasus seperti ini, barang yang menjadikan dua konglomerat pengusahanya berada di deretan orang terkaya di dunia ini boleh dikategorikan barang tak manfaat atau mudharatnya lebih besar dari manfaatnya, tergolong pemborosan berpredikat sia-sia.

Meskipun di beberapa judul puisi-puisi kawan baik Presiden ke-4 RI ini nampak lebih cocok masuk kategori; kalimat bijak, kata mutiara atau bahkan do’a, bunga rampai yang tersusun sangat mengasyikkan untuk dilahap siapa saja.

Tak bisa pula dipungkiri, kualitas dari tiap karya di terbitan Mata Air Publishing Surabaya ini tak kalah dibanding karangan sastrawan kawakan serupa Taufik Ismail, Sutardzi CB, WS Rendra maupun Emha Ainun Nadjib.

Mengamati sebuah karya dari orang yang lahir di pesantren memang selalu menghadirkan kenikmatan tersendiri. Sejuk kata-kata dan sarat pesan moral merupakan ciri khas yang akan terus ada.

Sebagai kyai, A Mustofa bisri telah mampu menyumbangkan racikan sastra baik berupa puisi maupun cerpen yang berkekuatan mengajak kita memahami kehidupan seraya selalu mengaitkannya dengan prinsip-prinsip sosial yang digariskan Tuhan.

Menghargai, menghormati, saling menahan diri, dan tidak mengintimidasi antar sesama. Mengingatkan kita akan kefanaan dunia, kesementaraan segala isi jagat raya, dan ketidaksempurnaan kita yang hanya manusia sehingga tak pantaslah membusungkan dada.(sak)