Beratap Langit di Jumum Check Point
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Beratap Langit di Jumum Check Point

“Mabes! Jumum izin jalur, melaporkan kedatangan kloter SUB 16 pada pukul 13.37, bisa tercopy Pak?” demikian sepenggal kalimat yang disampaikan tim pemantau kedatangan jemaah haji Indonesia dari Madinah, di check point Jumum sebelum memasuki Makkah Al-Mukarramah.

Ada tiga orang yang bertugas di sini, Sutio, Hidayat dan Farid. Mereka mendapat amanah melaporkan kedatangan jemaah haji dari Madinah kepada petugas kedatangan di Daker Makkah dan sektor pemondokan yang akan ditempati jemaah.

Dari laporan itu, para petugas sektor dan hotel bisa bersiap sebelum jemaah datang karena jarak dari Jumum ke Makkah sekitar 30 menit perjalanan.

“Sehari, rata-rata ada 18 kloter masuk sini, total 155 bus. Begitu bus masuk, kita lambungkan ke pihak sektor di Makkah,” kata koordinator petugas Jumum, Sutio, Rabu (24/08) seperti dirilis Humas Kemenag.

Sekilas, kerja tim petugas ini nampak sederhana, hanya mencatat dan melaporkan setiap jemaah yang tiba di Jumum. Sederhananya tugas itu, mungkin sesederhana laporan yang mereka sampaikan melalui alat komunikasi yang disebut Bravo.

Namun, di balik kesederhanaan tugas tersebut, ada tantangan kerja yang tidak ringan. Mereka bertiga harus bekerja selama kurang lebih 14 jam, dari jam 11.30 02.00 waktu Arab Saudi. Tantangannya menjadi tidak ringan karena mereka harus bekerja dengan hanya beratapkan langit, berjemur di tengah terik mentari dan berselimut angin malam sampai jelang dini hari.

Belum adanya tempat khusus di Pos Jumum, memaksa mereka menempati space terbuka yang ada, di depan gerbang Jumum. Padahal cuaca di Arab Saudi saat ini sedang sangat panas, suhu bisa mencapai lebih 40 derajat celcius di siang hari dan angin kencang di malam hari.

“Tugas di sini mendata kedatangan bus dari Madinah yang akan ke Makkah. Mulai bekerja di sini dari jam 11.30 sampai yang terakhir kira-kira jam 02.00 malam. Karena pemberangkatan terakhir dari madinah itu jam 18.30, kita hitung perjalanan sampai di sini 6 jam,” kata Sutio.

“Tidak ada kendalanya, cuman berjemur saja, beratapkan langit,” tambahnya sambil tersenyum.

Meski demikian, Sutio, Hidayat dan Farid mengaku menikmati tugas yang telah diberikan. Dalam panasnya cuaca dan kencangnya angin malam, mereka masih tetap bisa tersenyum dan tertawa. Mereka mengaku bahagia karena tugas yang dilakukkan menjadi bagian dari pelayanan kepada jemaah haji Indoensia.

Hal itu mereka lakukan sejak kedatangan perdana jemaah haji Indonesia dari Madinah 17 Agustus lalu. Lebih dari sepekan bekerja, panas mentari telah memberi kesan berbeda pada warna kulit mereka sehingga tampak lebih gelap dari sebelumnya.

Hari demi hari dijalani hingga tugas mereka akan berakhir empat hari ke depan, seiring berakhirnya kedatangaan jemaah dari Madinah. “Tinggal empat hari lagi karena jemaah haji dari Madinah sudah mau habis,” tuturnya.

Kondisi para petugas ini membuat Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Ahmad Dumyati Bashori bergerak. Dia akhirnya mengurus perizinan agar mendapat pos jaga permanen di Jumum, sama seperti negara lain yang sudah memiliki pos lebih dulu di sana. Lewat usaha dan lobi ke berbagai pihak, akhirnya ruangan itu diperoleh.

Pemerintah Saudi lewat Kementerian Haji di Makkah memberikan ruangan berukuran 3×3 meter di salah gedung yang ada di check point Jumum. Ruang sederhana ini sudah dilengkapi pendingin udara. Diharapkan memberi kenyamanan petugas saat menunggu jemaah. Di sana juga bisa dijadikan tempat penyimpanan konsumsi, setelah beberapa hari terakhir semua disimpan di mobil.

“Selama ini di mobil semua. Sangat panas dan secara kesehatan itu tidak baik. Kita terima kasih kepada Saudi akhirnya memberikan tempat ini,” terangnya.

Selain Jumum, ada lagi pos check point yang berada di Shumaisi. Di pos ini, ditempatkan juga petugas haji yang harus melaporkan kedatangan jemaah dari Jeddah sebelum masuk ke Makkah. Di sana, PPIH juga sedang mengupayakan tempat permanen untuk pos penjagaan. (sak)