Bioavtur Kelapa Sawit di CN-235
PERISTIWA TEKNOLOGI

Bioavtur Kelapa Sawit di CN-235

Pertamina berhasil mengembangkan bioavtur dari minyak sawit. Kinerjanya pada mesin pesawat hanya terpaut 0,2–0,6 persen dari avtur minyak fosil.

Setelah terbukti cocok untuk diolah jadi biodiesel, minyak sawit kini siap terbang sebagai bioavtur: bahan bakar pesawat udara. Tahapan persiapan terus dilakukan dengan mengujinya langsung pada mesin pesawat terbang.

Pada tahap ketiga, Senin (06/09) lalu, tes kinerjanya dilakukan langsung mesin General Electric CT7-9C, yang terpasang pada sayap pesawat CN235-220 milik PT Dirgantara Indonesia.

Uji kinerja itu dilakukan dalam posisi pesawat di darat, dalam hanggar PT DI Bandung, dengan mesin dinyalakan. Putaran mesin turboprop CN 235-220 itu disimulasikan seperti layaknya pesawat taxing, yakni menggelinding di atas apron menuju landasan pacu, lalu berpacu di runway, lepas landas, dan seterusnya. Ada juga simulasi pesawat digas pol untuk menaikkan ketinggiannya secara cepat.

Uji coba itu dilakukan dalam kondisi mesin menggunakan bahan campur avtur dari turunan minyak bumi dengan avtur hasil konversi dari minyak sawit. Avtur (aviation turbine fuel) umumnya adalah turunan langsung dari kerosin.

Avtur adalah minyak yang paling ringan, dengan rantai karbon terpendek, punya titik nyala rendah dan amat mudah terbakar. Energi hasil pembakarannya relatif lebih besar dibanding yang rantai karbonnya panjang, semacam minyak solar. Avtur sering disebut jet fuel.

Campuran avtur, biasa disebut bioavtur, yang digunakan untuk uji coba di Bandung itu adalah J 2.0 dan J 2.4. Masing-masing adalah avtur minyak bumi yang dicampur avtur sawit sebanyak 2 dan 2,4 persen. Jika hasil uji kinerja itu dianggap memuaskan, maka tahap berikutnya akan dilakukan uji terbang (fight test) dengan CN-235 di atas Bandung, pada ketinggian 3.000–5.000 meter.

Bila tak ada masalah, maka akan berlanjut dengan flight test ulang alik dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, ke Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Semuanya akan dilakukan pada September 2021. Sejumlah pihak hadir menyaksikan uji coba itu, mulai wakil dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pertamina, PT DI, dan tim peneliti bioavtur dari ITB serta tim laboratorium motor bakar dan sistem propulti dari ITB.

Hasil uji coba dianggap memuaskan. bioavtur J 2.4 dianggap tak mengurangi kinerja mesin. “Tak ada masalah. Hasilnya bagus,” kata Profesor Imam K Reksowardoyo, pakar dari Lab Motor Bakar di ITB. Bioavtur itu terbukti bisa melayani mesin dalam berbagai keperluan manuver. “Apakah ada ada flame out atau mesin mati? Apa ada batuk-batuk? Ternyata tidak,” kata Profesor Iman.

Dua uji coba sebelumnya dilakukan di hanggar Garuda Maintanance Fasility di Kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Desember 2020 dan Mei 2021. Ketika itu, uji coba dikenakan pada mesin jet CFM-56 Boeing-737, dalam kondisi statis, yakni dalam kondisi terlepas dan ditempatkan di ruang terkontrol.

Uji coba itu menghabiskan lebih 9.000 liter bioavtur, hampir seukuran dua mobil tanki ukuran sedang. Hasilnya juga dinilai baik. Perbedaan kinerja dari avtur dari bahan fosil hanya 0,2–0,6 persen.

Dalam tes statis itu berbagai aspek diperiksa. Mesin juga disimulasi dalam kondisi ground idle (di saat persiapan terbang), flight idle (kondisi terbang), dan pada kondisi mesin berakselerasi (accel). Lantas, dari semua kondisi itu diperiksa beberapa indikator, seperti panas yang ditimbulkan oleh kerja mesin, getaran mesin (vibrasi), oil pressure, dan performance mesin (tenaga). Hasilnya lalu dibandingkan dengan standar yang berlaku dan tidak mengecewakan.

Rekayasa ITB
Sebelum dilakukan tes atas mesin, bioavturnya itu sendiri harus diuji agar menenuhi standar dunia penerbangan. Karakteristik yang diuji, antara lain, ialah titik bekunya, titik uap, kerapatan jenis, titik bakar autoignation dan sejumlah parameter lainnya. Semuanya memenuhi standar internasional.

Bioavtur itu sendiri dikembangkan oleh tim peneliti ITB di bawah Profesor Subagyo. Tim dari Bandung itu yang merancang teknik rekayasa yang mengubah minyak sawit alias crude palm oil (CPO), yang punya rantai karbon panjang, menjadi avtur yang sangat mudah teroksidasi, sehingga punya daya bakar yang tinggi. Kuncinya pada zat katalis khusus yang dikembangkan tim rekayasa katalis ITB.

Bersama-sama dengan tim dari PT Pertamina, rancangan industri bioavtur itu lalu diterapkan pada skala industri yang riil. Maka, zat khusus yang kini disebut katalis merah putih itu bisa diproduksi di PT Clariant Kujang Catalyst (BUMN) di Cikampek, Jawa Barat. Katalis itu kemudian dipakai untuk proses mencacah CPO menjadi avtur.

Adapun produksi bioavturnya itu sendiri bakal dilakukan di Unit Kilang Cilacap, yang sudah cukup lama memproduksi avtur dengan kapasitas 8.000 barel per hari. Produksi bioavtur ditargetkan dimulai pada 2023.

Bioavtur bukan pula barang baru dalam dunia penerbangan. Industri bioavtur di Amerika, Kanada, dan negara-negara Eropa sudah beberapa lama berproduksi dan diserap oleh dunia penerbangan.

Sebagian pelaku industri tidak hanya memakai minyak nabati, seperti minyak jagung atau minyak kacang yang baru keluar dari pabrik, melainkan memanfaatkan limbah minyak goreng.

Pada level teknologi engine pesawat yang ada saat ini, bioavtur dapat dikembangkan sampai J 50.00, artinya komposisi bioavtur dan avtur dari fosil adalah 50 : 50.

Potensi Besar
Bioavtur, juga biodiesel, terus berkembang seiring kian gencarnya dunia internasional melakukan pencegahan, adaptasi dan mitigasi atas fenomena perubahan iklim (climate change). Menurunkan emisi karbon menjadi mandatori semua pihak, tanpa kecuali. Energi terbarukan semacam bioavtur, biodiesel, dan biofuel pada umumnya kini menjadi pilihan utama.

Indonesia sendiri cukup berhasil mengembangkan industri biodiesel. Mandatori B30, kewajiban menggunakan bahan bakar diesel dengan kandungan 30 persen biodiesel di dalamnya, disambut baik oleh pasar dalam negeri.

Biosiesel kini juga menjadi andalan ekspor, sebagai produk hilir dari minyak sawit. Bila pada 2011 produksi biodiesel nasional masih di sekitar 2,1 juta ton, pada 2020 produksinya sudah mencapai 8,6 juta ton.

Indonesia punya potensi besar dalam mengembangkan bioavtur dan biodiesel dari kelapa sawit. Dengan luas tanaman sawit lebih dari 14 juta hektar, dan menghasilkan lebih dari 52 juta ton CPO di 2020, Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar di dunia.

Sawit pun menghasilkan banyak jenis produk turunan, termasuk bioavtur dan biodiesel. Tidak mengherankan bila harga CPO menguat, sekalipun di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini. (indonesia.go.id)