BPPT Butuh Dua Lagi Pesawat Hujan Buatan
PEMERINTAHAN PERISTIWA

BPPT Butuh Dua Lagi Pesawat Hujan Buatan

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) siap mengerahkan armada hujan buatan untuk membantu pemerintah daerah dan instansi terkait, menangani bencana asap yang melanda wilayah Indonesia.

Di tengah pelaksanaan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) wilayah Palembang, BPPT juga bersiap membuka Operasi TMC di Pekanbaru. Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT (BBTMC-BPPT), Tri Handoko Seto mengatakan bahwa pihaknya selalu berupaya melakukan pelayanan optimal, walau disebutnya sejak 2014 hanya ada 1 (satu) pesawat yang dapat digunakan untuk operasi hujan buatan.

“Saat ini permintaan untuk layanan TMC di Indonesia banyak sekali. Namun pesawatnya hanya ada satu, itu pun milik operator Pelita Air. Kami butuh dua pesawat yang prima untuk melakukan hujan buatan,” papar Tri Handoko Seto kepada media di Jakarta, belum lama ini.

Ditambahkan Seto, saat ini pesawat yang ada sudah tidak layak pakai. Umurnya pun sudah diatas dua puluhan tahun semua. “Usia Pesawat CASA 212-200 BPPT jika dirinci itu PK-TLE 23tahun, PK-TLG 22th, PK-TLG 23th, PK-TLI 23th. Bahkan Pesawat Paper Chayennye PK-TMC 37th. Ini semua membutuhkan biaya perawatan yang tidak sedikit,” ungkapnya.

Dari hal itu terlihat pesawat sangat kurang untuk operasi hujan buatan di Indonesia, apalagi jika bencana asap terjadi pada tempat yang sama. Semisal seperti saat ini dimana banyak titik asap yang munculnya tidak dalam lokasi yang berdekatan. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan satu pesawat karena kegiatan tersebut harus dilaksanakan secara paralel,” tegas Seto.

Hujan buatan agar optimal, terang Seto, harus memodifikasi cuaca agar hujan dapat turun dengan intensitas tinggi dalam waktu yang lama. Misal dalam satu wilayah titik api, kalau mau optimal tambah Seto diupayakan hujan yang lebat dan berlangsung sekitar satu jam. “Kalau titik api ada puluhan ya tentu satu pesawat dirasa kurang,” jelasnya.

Potensi hujan buatan lanjut Seto, sangatlah besar untuk Indonesia, apalagi jika digunakan untuk ketahanan pangan. “Ini belum tergarap. Padahal dapat meningkatkan produksi pangan. Kita mampu tingkatkan sampai mencukupi 90 persen dari pangan yang diimpor pertahunnya,” pungkas Seto.

Kondisi di Indonesia ini jauh dibandingkan dengan Thailand. Melalui Department of Royal Rainmaking and Agicultural Aviation, secara rutin sepanjang tahun mereka membuat hujan buatan. Untuk membuat hujan buatan, Pemerintah Thailand memiliki dan mengoperasikan 33 unit pesawat baling-baling dan 7 unit helikopter berbagai jenis.

Tragisnya, dari pesawat tersebut, ternyata ada ‘burung besi’ buatan Indonesia yakni PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang dipakai Thailand dalam misi pembuatan hujan buatan hingga saat ini.

Department of Royal Rainmaking and Agricultural Aviation mengoperasikan 15 unit pesawat buatan Bandung yakni jenis CN 235-220 sebanyak 2 unit dan Casa C212-200 sebanyak 13 unit.

Thailand membeli pesawat jenis C-212 buatan PTDI, dahulu PT Nurtanio, pada 1978. Pesawat jenis CN 235-200 yang dioperasikan sejak 1999 masih dalam kondisi sangat baik saat menjalankan misi hujan buatan. (sak)