Bulog Ditugasi Impor Daging Kerbau
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Bulog Ditugasi Impor Daging Kerbau

Pasca Lebaran, harga daging sapi di pasaran belum normal, diatas Rp 100 ribu per kilogram. Untuk menstabilkan harga daging, Kementerian Pertanian (Kemtan) menginstruksikan Perum Bulog mengimpor 10 ribu kg daging kerbau dari berbagai negara.

“Kami berharap masyarakat memiliki opsi lain selain daging sapi yang harganya masih sekitar Rp 100 ribu per kg. Kita buka impor daging kerbau semua negara. Bukan hanya India ya, ada juga Spanyol, Meksiko, Autralia dan Brazil,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melalui rilis di Jakarta, Selasa (12/7).

Menurutnya, kuota impor daging kerbau disesuaikan konsumsi masyarakat. Saat harga daging sudah stabil, pemerintah akan menghentikan impor. “Impor dibuka sesuai kebutuhan bukan keinginan,” kata Amran.

Bahkan, ia menargetkan bakal mencabut semua hal yang menghambat peredaran komoditas daging ke masyarakat, sehingga warga juga dapat menikmati konsumsi daging dengan harga terjangkau. “Kita harus kerja, kerja, kerja. Untuk daging kita targetkan dalam tiga bulan semua hal yang menghambat akan kita cabut,” tegasnya.

Ia mengaku berbagai upaya yang bakal dilaksanakan dalam rangka mencapai target tersebut, telah dilaporkannya ke Presiden. Sebelumnya, Amran sempat menegaskan pula akan memberi sanksi tegas terhadap penjual nakal. “Pedagang yang memanfaatkan lebaran dengan menaikkan harga daging atau terhadap pemasok yang melakukan penggemukkan daging (feed lotter),” jelasnya.

Adapun langkah yang diambilnya dalam menindak pedagang nakal, yakni pertama akan diberi peringatan, kemudian dikurangi jatah daging impornya, dan cabut rekomendasinya sampai kemungkinan tidak bisa jual lagi.

Harga daging kerbau di daerah rata-rata dijual Rp 80.000/kg. Dengan banyaknya guyuran daging impor kerbau, diharapkan perlahan masyarakat akan mulai mengkonsumsi daging kerbau. Nantinya, permintaan daging sapi menurun sehingga harga juga bisa ikut turun.

Namun daging mindset masyarakat sekian puluh tahun adalah mengkonsumsi daging sapi. Kerbau di daerah-daerah ada yang mengkonsumsi, tapi persentasenya sangat kecil. Hal yang membuat masyarakat enggan mengkonsumsi daging kerbau, diantaranya tekstur daging kerbau yang kasar seratnya dan bau dagingnya juga langu (tak sedap).

Perbedaan tekstur dan rasa tersebut akhirnya membuat daging kerbau sulit diterima masyarakat. Daging kerbau masih bisa dialokasikan untuk industri. Misalnya, untuk dijadikan olahan seperti sosis dan sebagainya. (sak)