Cara Atasi Disparitas Harga di Indonesia
KOMUNITAS PERISTIWA

Cara Atasi Disparitas Harga di Indonesia

Predikat sebagai negara kepulauan ternyata tak hanya membuat Indonesia kaya dengan potensi lautnya. Salah satu penyebabnya adalah disparitas harga barang yang tinggi antarpulau di Indonesia. Prihatin dengan kondisi tersebut, dua mahasiswa ITS, Alwi Sina Khaqiqi dan Ayu Sri Lestari tergerak merumuskan solusi.

Dijelaskan Alwi, infrastruktur laut yang belum memadai turut menjadi faktor menurunnya Logistics Performance Index (LPI) Indonesia yang kini menempati posisi ke-53 di dunia. Bahkan, tercatat 70 persen kapal pengangkut barang di Indonesia menunggu di Pulau Jawa.

“Ini salah satu indikator bahwa aktivitas logistik di Indonesia hanya berpusat di Pulau Jawa. Tak heran jika harga barang di kawasan timur dan barat Indonesia sangat berbeda,” jelas mahasiswa jurusan Transportasi Laut ini seperti dirilis Humas ITS.

Bersama Ayu yang mahasiswi jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Alwi pun mulai memperhatikan kondisi infrastruktur laut di luar Pulau Jawa, termasuk di Pulau Ambon.

“Ternyata selama ini proses pengiriman barang di Ambon lebih banyak melalui jalur transportasi darat. Akibatnya, pelabuhan rakyat tidak difungsikan,” ungkap Alwi.

Padahal, dalam sistem tol laut yang sedang gencar dibangun pemerintah, pelabuhan rakyat berfungsi sebagai pelabuhan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul.

“Di Ambon, pelabuhan rakyatnya hampir mati suri. Ini yang membuat kami tergerak memodifikasi metode distribusi di sana,” ujar mahasiswa asal Banyuwangi tersebut.

Berbekal keilmuannya masing-masing, Alwi dan Ayu berusaha memodifikasi alur pengiriman barang di Ambon menggunakan metode pelayaran short shipping.

Metode ini dapat meningkatkan mobilitas barang dari pulau-pulau produsen barang menuju pelabuhan pengumpan untuk kemudian dikirim ke pelabuhan pengumpul dengan menggunakan angkutan multimoda.

“Alur distribusinya kami modifikasi dari yang sebelumnya menuju ke pelabuhan pengumpul hanya menggunakan jalur darat, kini turut menggunakan jalur laut. Proses distribusi pun jadi lebih efektif,” tutur Alwi.

Hasil modifikasi tersebut diakui Alwi memberikan banyak keuntungan. Salah satunya menghidupkan kembali pelabuhan rakyat sehingga turut meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitar.

“Dengan metode ini, biaya transportasi juga lebih rendah. Waktu pengiriman barang juga dapat diperpendek,” ulas mahasiswa angkatan 2014 ini.

Gagasan ini akhirnya membawa Alwi dan Ayu meraih juara tiga dalam Competition Of National Economic Research And Innovation Paper 2016. Kompetisi tersebut diselenggarakan BEM Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro pada 10 September lalu.

“Karena faktor ekonomi menjadi fokus dalam lomba ini, para juri sempat bertanya tentang keuntungannya yang mereka anggap kecil. Ini justru menginspirasi kami untuk lebih mengembangkan metode kami,” cerita Alwi.

Alwi mengaku, kekurangan gagasannya ialah hanya menggunakan Ambon sebagai studi kasus. Untuk itu, mereka berencana mengembangkannya melalui kompetisi lain, salah satunya Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Rencananya, mereka akan menerapkan metode ini di pulau lebih besar dan jarak yang lebih panjang, salah satunya Pulau Sulawesi.

“Dengan begitu, kami yakin keuntungannya akan lebih banyak. Masyarakat sekitar pelabuhan juga akan lebih tertarik dan terbantu dengan metode ini,” pungkas Alwi. (sak)