Catat! Jam Larangan bagi Jemaah Indonesia Lontar Jumrah
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Catat! Jam Larangan bagi Jemaah Indonesia Lontar Jumrah

Belajar dari peristiwa jemaah berdesakan di Mina yang menelan ribuan korban, termasuk ratusan jemaah Indonesia, pada penyelenggaran haji tahun lalu, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengingatkan jemaah terkait jam larangan melontar jumrah.
Pemerintah Arab Saudi bahkan sudah menerbitkan jadwal lontar yang dibagikan kepada para misi haji, termasuk misi haji Indonesia. Kepala Daker Makkah Arsyad Hidayat menegaskan bahwa setiap ketua kloter jemaah haji Indonesia sudah menerima jadwal lontar jumrah dan harus mematuhinya.

“Waktu melontar jumrah, kita pun jangan lagi melakukan kesalahan. Gara-gara kita melakukan kesalahan timbul jadi korban,” tegas Arsyad saat sosialiasi penyelenggaraan prosesi Armina di Sektor 4, Hotel Dar Hadi, Aziziah Makkah, Minggu (04/09) malam.

Menurut Arsyad, Pemerintah Saudi sudah mengatur bahwa ada jam-jam tertentu di mana jemaah haji Indonesia dilarang melakukan lontar jumrah. Jam larangan yang ditetapkan tersebut adalah sebagai berikut:
– 10 Dzulhijah atau 12 September, pukul 06.00 sampai 10.30 waktu Arab Saudi (WAS)
– 11 Dzulhijah atau 13 September, pukul 14.00 sampai 18.00 WAS
– 12 Dzulhijah atau 14 September, pukul 10.30 sampai pukul 14.00 WAS

“Jadi pada waktu-waktu itu ada larangan keras jemaah tidak melakukan lontar jumrah,” tegasnya.

Itu adalah skenario untuk jemaah yang mengambil nafar awal. Khusus jemaah kloter-kloter awal memang diwajibkan mengambil nafar awal, karena untuk mempercepat persiapan pemulangan. Sekadar diketahui, waktu pemulangan jemaah awal berlangsung pada 17 September, artinya hanya berselang dua-tiga hari setelah puncak haji.

Arsyad menegaskan bahwa para ketua kloter dan ketua rombongan diwajibkan menandatangani surat pernyataan siap mematuhi jadwal melontar sudah penetapan muassasah. Bila dilanggar, ada konsekuensi hukumnya. “Kalau kami yang melanggar pihak Indonesa yang kena sanksi,” tegasnya.

Selain waktu melontar, penting juga bagi jemaah mematuhi rute melontar. Jangan sampai ada jemaah yang mencoba keluar dari jalur atau berjalan-jalan di luar ketentuan. Hal ini sangat berbahaya karena bisa bertemu dengan arus dari jemaah lain. “Jangan coba-coba. Misalnya dari 206 mau ke 204 nyoba ah. Nggak bisa itu,” tandasnya.

Jelang puncak haji, PPIH Arab Saudi terus melakuan sosialisasi terkait proses Gerak, Gelar, dan Operasional Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina). Semua ketua kloter dan ketua rombongan, termasuk unsur tenaga kesehatan dan tenaga pembimbing ibadah dikumpulkan oleh tim dari Daerah Kerja Makkah dan Satuan Operasi Armina untuk menerima penjelasan teknis terkait hal itu.

Hampir setiap malam, Kadaker Makkah Arsyad Hidayat dan Kasatops Armina Jaetul Mukhlis beserta jajarannya berkeliling ke semua sektor untuk menyampaikan informasi detail soal Armina, termasuk juga hal-hal yang perlu diperhatikan saat kepulangan jemaah. (sak)