Cerita Hari Bhakti Postel 27 September
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Cerita Hari Bhakti Postel 27 September

Tanggal 27 September adalah Hari Bhakti Postel yang diperingati setiap tahun oleh Komunitas Komunikasi dan Informatika baik dari kalangan pemerintah, penyelenggara, dan pegiat lainnya baik yang masih aktif maupun sudah pensiun dari kedinasan masing-masing.

Hari Selasa, 27 September 2016 merupakan peringatan Hari Bhakti Postel ke-71. Mengapa diperingati Hari Bhakti Postel? Berikut tulisan yang ditulis oleh Humas Ditjen Postel sebagaimana dikutip dari Sejarah Pos dan Telekomunikasi di Indonesia.

Tanggal 27 September yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Bhakti Postel oleh semua pegawai di jajaran pos dan telekomunikasi bertolak dari diambil-alihnya Jawatan Pos Telegrap dan Telepon (PTT) dari kekuasaan pemerintahan Jepang oleh putra putri Indonesia yang tergabung dalam Angkatan Muda PTT yang disingkat AMPTT pada 27 September 1945.

Dengan digerakkan Soetoko, AMPTT yang saat itu belum mempunyai pengurus, pada 3 September 1945 mengadakan pertemuan. Pemuda AMPTT yang hadir antara lain Soetoko, Slamet Soemari, Joesoef, Agoes Salman, Nawawi Alif dan beberapa pemuda lainnya. Untuk merealisasikan pemindahan kekuasaan, dalam pertemuan disepakati Kantor Pusat PTT harus sudah dikuasai paling lambat akhir September 1945.

Proklamasi Kemerdekaan sudah berlangsung satu bulan. Para pemuda berusaha mendekati Jepang supaya menyerahkan kekuasaan di Kantor PTT, karena Komandan Pasukan Jepang menginstruksikan penyerahan Kantor Pusat PTT harus dilakukan sekutu. Karenanya rencana merebut Kantor Pusat PTT harus lebih dimatangkan dan dirahasiakan.

Pada 23 September 1945 Soetoko, Ismojo dan Slamet Soemari bersepakat meminta kesediaan Mas Soeharto dan R Dijar untuk menuntut Jepang supaya menyerahkan PTT secara damai. Jika tidak mau menyerahkannya, akan ditempuh jalan kekerasan. Setelah kekuasan direbut, mereka berencana mengangkat Mas Soeharto dan R Dijar menjadi Kepala dan Wakil Jawatan PTT.

24 September 1945 Mas Soeharto dan R Dijar menemui pimpinan PTT Jepang, Tuan Osada, mendesak agar Jepang menyerahkan pimpinan Jawatan PTT secara terhormat kepada Bangsa Indonesia.

Namun gagal, karena hanya diperkenankan mengibarkan bendera Merah Putih di halaman belakang gedung di Jalan Cilaki. AMPTT segera menaikkan Merah Putih secara khidmad pada sebuah tiang khusus, tepat di tempat tugu PTT sekarang.

Tangggal 26 September 1945 Soetoko memanggil Soewarno yang menjadi Komandan Cusin Tai dan Nawawi Alif untuk diberi tugas memimpin pekerjaan meruntuhkan tanggul dan mengelilingi kantor.

Untuk menciptakan koordinasi AMPTT dalam perebutan kekuasaan Jawatan PTT dari tangan Jepang, maka ditetapkan Soetoko sebagai ketua, dengan dibantu tiga wakil ketua: Nawawi Alif, Hasan Zein dan Abdoel Djabar.

Sore hari 26 September 1945 Soetoko menemui Mas Soeharto untuk memberitahukan rencana perjuangan AMPTT yang akan dilaksanakan pada 27 September 1945.

Malam itu segenap anggota AMPTT disebar untuk mencari dan mengumpulkan senjata tajam, kendaraan bermotor, senjata api dan kebutuhan lainnya. Siasat dan taktik disusun. Penduduk tua, muda dan semua organisasi perjuangan yang berkedudukan di dekat Kantor Pusat PTT dihubungi dan menyatakan sedia membantu AMPTT.

Pagi 27 September 1945, sekali lagi Mas Soeharto dan R Dijar mengadakan perundingan dengan Pimpinan Jepang di Kantor Pusat PTT. Hasilnya tetap gagal juga.

AMPTT siap dengan senjata masing-masing. Rakyat sudah dikerahkan dan massa sudah berkumpul di halaman selatan. Soewarno dan pasukannya memasuki ruangan kantor yang dikuasai Jepang dan membuat mereka tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghalangi tekad AMPTT. Secara sukarela mereka menyerahkan senjatanya.

Setelah itu Soetoko segera membawa Mas Soeharto dan R Dijar ke depan massa. Kira-kira pukul 11.00, Soetoko membacakan teks yang isinya sebagai berikut :

Atas nama pegawai PTT dengan ini, dengan disaksikan oleh masyarakat, Yang berkumpul di halaman PTT jam 11.00 tanggal 27 September 1945, Kami mengangkat Bapak Mas Soeharto dan Bapak R. Dijar, Masing-masing menjadi Kepala dan Wakil Kepala Jawatan PTT seluruh Indonesia. Atas Nama AMPTT Tertanda : SOETOKO

Bendera Jepang diturunkan dan sebagai gantinya bendera Merah Putih dikibarkan pada tiang listrik. Massa yang menjadi saksi mata peristiwa yang mengakhiri kekuasaan kolonial Kantor Pusat PTT segera mengumandangkan Lagu kebangsaan Indonesia Raya. (sak/ist)