Cerita Mahasiswa Antropologi Hidup di Papua
PERISTIWA SENI BUDAYA

Cerita Mahasiswa Antropologi Hidup di Papua

Ijud memilih ‘belajar hidup’ di tengah keterbatasan. Mahasiswa Antropologi, FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini mengikuti Ekspedisi NKRI di Papua Barat, yang merupakan kegiatan bertujuan memupuk kebangsaan dan cinta tanah air.

Diantara ribuan peserta yang mendaftar kegiatan yang diadakan Kopassus TNI-AD itu, Ijud terpilih menjadi satu diantara sekitar 200 peserta yang diterima ekspedisi NKRI 2016, Koridor Papua Barat. Proses seleksi dilaksanakan beberapa kali, seperti seleksi administrasi, tes kesehatan, psikotes dan tes fisik.

Sebelum penugasan ke Papua Barat, Kopassus TNI-AD memberikan pembekalan selama satu bulan bagi semua peserta. Proses internalisasi dunia militer terhadap peserta sipil berlangsung sedemikian rapinya.

“Itu memberikan dampak yang signifikan terhadap kebiasaan sehari-hari seperti kedisiplinan, kebersamaan, kehormatan, kejujuran, dan keberanian,” ujar Ijud seperti dirilis PIH Unair.

Pada ekspedisi NKRI ini, Ijud masuk tim peneliti bidang sosial budaya yang ditempatkan di tiga tempat penugasan, Kabupaten dan Kota Sorong serta Kabupaten Raja Ampat. Penugasan dilakukan selama empat bulan, terhitung sejak Februari 2016, dengan target mendapatkan data sesuai bidang penelitian.

“Tujuan besar dari semua kegiatan Ekspedisi NKRI yaitu memetakan SDA dan SDM di Papua Barat, dan menanamkan sikap nasionalisme masyarakat terhadap NKRI,” kata Ijud.

Banyak pikiran dan sangkaan Ijud berubah setelah terjun dan hidup langsung bersama masyarakat Papua. Kebanyakan masyarakat berpikir bahwa Papua merupakan suatu tempat yang masih tertinggal.

“Mereka masih sering melakukan perang suku, hidup di hutan, dan beberapa anggapan yang kurang baik lainnya seperti mereka masih suka memakan manusia. Pikiran dan sangkaan tersebut mulai berkurang bahkan hilang setelah merasakan hidup bersama mereka,” kenang Ijud.

Menjalani hari-hari bersama masyarakat Papua, membuat Ijud belajar tentang makna hidup kepada mereka. Mereka sangat menghargai arti kehidupan yang harus baik kepada Tuhan, sesama manusia dan alam. Kehidupan keagamaan yang masih kental selalu dipertunjukkan setiap peribadatan yang mereka lakukan.

Nilai saling menghargai dan menghormati selalu terlihat ketika berpapasan dengan mereka seperti tersenyum dan menyapa dengan: Selamat pagi siang atau malam, kakak abang atau om. “Hal tersebut dilakukan ke setiap orang yang mereka temui di kampung atau pun di jalan,” kenang Ijud.

“Sungguh luar biasa mendapatkan kesempatan bisa hidup bersama masyarakat Papua karena dapat mendamaikan hati dan mengharukan jiwa bagi siapa saja yang benar-benar hidup dengan mereka,” cerita Ijud.

Interaksi dilakukan setiap waktu dengan mereka, baik itu di kebun, laut, sekolah, gereja, jalan maupun ditempat-tempat lainnya.

Kehidupan yang dijalani Ijud bersama masyarakat Papua memberikan banyak pelajaran tentang mereka hidup dengan apa adanya.

Mereka memaknai kehidupan di tengah keterbatasan, memaknai keterbatasan di tengah kehidupan sehari-hari, dan memaknai hidup dari kehidupan yang telah mereka lalui selama hidupnya.

Strategi mereka untuk tetap hidup terlihat dari mana mereka berasal. Kerasnya kehidupan laut mengajarkan mereka harus bisa apapun tentang hidup di pesisir seperti menangkap ikan, membuat perahu, dan bagaimana harus bisa tetap hidup dengan dunianya.

“Begitupun masyarakat yang hidup di hutan harus bisa survive di tengah keterbatasan mereka akan akses pendidikan dan kesehatan,” kenang Ijud.

Semua itu mereka jalani dan maknai bahwa apa yang menjadi kendala bagi mereka tidak membuat mereka menyalahkan Tuhan, negara, maupun alam. “Mereka hidup harmonis dengan alamnya dan tetap memunculkan identitas diri mereka sebagai orang pesisir maupun pedalaman yang harus bisa survive di setiap kendala yang mereka hadapi,” pungkas Ijud. (sak)