City Mayor Forum Dorong Perempuan di Surabaya Menjadi Pemimpin
PEMERINTAHAN PERISTIWA

City Mayor Forum Dorong Perempuan di Surabaya Menjadi Pemimpin

Perempuan didorong memiliki kemauan tampil sebagai pemimpin. Dengan kata lain, akan ada banyak perempuan yang termotivasi untuk terjun masuk ke politik. Mengingat, untuk menjadi pemimpin kota/kabupaten ataupun level yang lebih tinggi di negeri ini, syaratnya melalui ‘kendaraan’ politik.

Kesimpulan itulah yang muncul dari gelaran City Mayor Forum yang diikuti oleh walikota / pemimpin perempuan yang digelar di lantai VI kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Minggu (24/7).

Hadir dalam acara tersebut, Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan beberapa walikota dari kota-kota di Indonesia. Serta beberapa walikota dari negara di Asia Pasifik seperti Filipina dan Malaysia. Juga dari Eropa seperti Rusia. Mereka juga menjadi delegasi agenda The Third Session Preparatory Committe (Prepcom 3 for UN Habitat III) di Surabaya yang akan dimulai Senin (25/7).

Acara yang dikemas dialog semi talk-show dan berlangsung selama tiga jam tersebut, terbagi dalam dua sesi panel. Setiap sesi tampil tiga panelis. Di sesi pertama, tampil Walikota Surabaya, Walikota Sorsogon (Filipina) Sally Ante-Lee dan Walikota Sebrang Perai (Malaysia) dengan moderator Dr Aisa Kacyira, Deputi Executive Director UN Habitat.

Lalu di sesi kedua, tampil Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, Walikota Fianarantsoa (Madagaskar) Irma Juliandres dengan moderator Erna Witoelar, vice chair kemitraan Habitat.

Sekretaris Jenderal United Cities and Local Governemet Nations Asia Pacific (UCLG ASPAC), Dr Bernadia Irawati Tjandradewi mengatakan, jumlah pemimpin perempuan di Indonesia memang masih sangat sedikit.

Menurutnya, dari sekitar 500 kota/kabupaten yang ada di Indonesia, jumlah perempuan yang menjabat sebagai bupati/wali kota tidak lebih dari 20 orang. “Jumlah itu (pemimpin perempuan di Indonesia) sangat sedikit. Itu sangat kurang sekali,” ujarnya.

Karenanya, dia berharap, melalui Women Mayors Forum ini, akan tercipta letupan semangat bagi perempuan agar tergerak untuk tampil menjadi pemimpin. Dia juga berharap, tampilnya pemimpin perempuan tidak sekadar karena gender, tetapi memang memiliki kedekatan dengan masyarakat dan juga melawan politik uang.

“Harapan kami, dengan adanya forum ini, akan ada lebih banyak perempuan yang terinspirasi dan termotivasi untuk menjadi pemimpin. Apakag itu menjadi wali kota/bupati atau DPRD. Dan itu bisa dimulai dari level RW. Yang terpenting harus dekat dengan masyarakat,” ujar Bernadia.

Bernadia juga memberikan apresiasi kepada Walikota Surabaya yang telah mengemas acara tersebut, yang menurutnya sangat luar biasa. Dia mengaku bersama walikota ikut melakukan pengecekan ketika malam (Sabtu malam) sebelum acara. “She check everything last night. Itu menurut saya luar biasa. Ini kesempatan saya mengucapkan terima kasih,” sambung Bernardia.

Walikota Tri Rismaharini menyampaikan, melalui Women Mayors Forum tersebut, ada banyak wawasan baru yang bisa didapat. Utamanya yang disampaikan walikota dari negara-negara Afrika dan juga di Asia Pasifik.

Diantaranya tentang kuota perempuan dalam parlemen. Bahwa di Afrika, kuota untuk perempuan itu 50 persen. Sementara di sini masih 30 persen. “Kita juga jadi tahu, di Afrika, mereka membentuk forum walikota perempuan. Dan mereka bisa share tentang masalah-masalah kotanya serta bersama-sama mencarikan jalan keluar untuk menghadapinya,” ujar walikota.

Menurut Bu Risma –panggilan Walikota Surabaya, jika ditarik benang merah kaitan agenda Women Mayors Forum tersebut dengan situasi di Surabaya, bahwa perempuan tidak perlu merasa takut bila ingin menjadi pemimpin yang tentunya melalui jalur politik.

“Kalau untuk Surabaya, kita bisa sharing bahwa perempuan itu tidak perlu takut ke politik yang seolah itu maskulin. Dengan adanya ini, perempuan Surabaya didorong untuk maju,” sambung wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya ini. (sak)