ASEAN Cyberkids Camp 2016 Implementasi ASEAN Telsom Projects
PERISTIWA TEKNOLOGI

ASEAN Cyberkids Camp 2016 Implementasi ASEAN Telsom Projects

Bandung menjadi tuan rumah Asean Cyberkids Camp 2016 di ITB 29-31 Juli. Asean Cyberkids Camp 2016 merupakan acara lanjutan Indonesia Cyberkids Camp, dimana anak-anak usia SD yang hobi menggunakan aplikasi komputer mengikuti lomba cipta karya dan inovasi bidang teknologi informasi dan komunikasi.

ASEAN Cyberkids Camp 2016 tak jauh berbeda dengan Indonesia Cyberkids Camp 2016. Bedanya, dua anak Indonesia yang digabungkan dalam satu tim bertanding dengan anak-anak dari negara ASEAN. Setiap negara di ASEAN diwakili dua anak yang bekerja dalam satu tim.

Tim Indonesia terdiri Rifadly Mulya W (siswa SD GagasCeria, Bandung) dan M Radhi Rasyidi Rafli (siswa SD Alam Bambu Item, Bogor), keduanya adalah juara 1 dan 2 Indonesia Cyberkids Camp 2016.

Dalam ASEAN Cyberkids Camp 2016, anak-anak diminta membuat karya animasi, permainan, atau aplikasi komputer dengan tema yang ditentukan secara acak. Anak dengan usia maksimal 13 tahun dapat mengikuti pentas ini.

ASEAN Cyberkids Camp 2016 diselenggarakan agar anak-anak memahami sisi positif dari teknologi informasi dan komunikasi, termasuk komputer dan internet. Anak-anak juga diharapkan dapat terhindar dari tindak kejahatan dalam dunia internet.

Tim juri yang terdiri atas ITB dan mediator dari tiga negara ASEAN menilai karya berdasar aspek kreativitas dan inovasi karya yang dibuat. Pemenang ASEAN Cyberkids Camp menerima penghargaan di Aula Timur ITB.

ASEAN Cyberkids Camp didukung Sekretariat ASEAN, Kemkominfo dan Global Network. Tahun lalu, Indonesia meraih juara kedua dan juara satu diraih Filipina dan juara ketiga Malaysia. Pada penilaian tahun lalu, selisih dari masing-masing negara berselisih tipis.

Kompetisi ASEAN Cyberkids Camp 2016 merupakan upaya meningkatkan cyber wellness. “Ini soal bagaimana Masyarakat ASEAN menggunakan dunia cyber, IT, komputer dan media agat tidak sekadar menjadi pengguna atau konsumen. Lebih dari itu, menjadi menjadi produsen,” tutur Kepala Security Cyber Centre Yusep Rusmanyah.

Yusep yang menjadi Ketua Panitia Pelaksana kompetisi menyebut kompetisi yang diikuti delegasi sembilan negara ASEAN itu merupakan wujud nyata implementasi ASEAN ICT Masterplan (AIM) 2020.

Ada delapan bidang penguatan selain cyber wellness, yakni SDM dimana pada lingkup ASEAN perlu penguatan yang diarahkan pada anak usia sekolah dasar. Karena pada usia ini paling rentan terpapar pengaruh perkembangan negatif dunia cyber melalui 21-st Century Education.

Pada sisi cyber wellness diarahkan menjadi produsen, sekaligus mencegah dampak negatif, serta memperkuat SDM pada lingkup ASEAN dengan metode kompetisi joyful learning atau competition.

Yusep menjelaskan kemampuan Abad 21 didasarkan pada empat hal, yaitu critical thinking problem solving, creativity inovation, communication and collaboration, serta ICT and media literacy.

“Kompetisi ini merupakan panggung bagi anak terbaik sudah memenuhi empat kriteria Kemampuan Abad 21 tersebut. Mereka diberikan perangkat komputer tanpa koneksi internet dan tanpa bantuan pendamping. Jadi dituntut kreatifitas murni pesetta dengan diberikan tema Go Green,” paparnya. (sak)