Dalu Kirom: Ikut Ubah Wajah Dolly
PERISTIWA PROFIL

Dalu Kirom: Ikut Ubah Wajah Dolly

Menyabet berbagai perhargaan tak pernah terlintas di kepala Dalu Nuzlul Kirom pada awal kiprahnya terjun ke dunia sociopreneur. Bahkan, berbagai penghargaan tersebut bukan menjadi menjadi motivasinya mendirikan Gerakan Melukis Harapan (GMH). Ia hanya ingin menginspirasi masyarakat untuk sama-sama bergerak menjadikan Indonesia yang lebih baik.

Baru-baru ini, nama GMH semakin melejit di Indonesia berkat prestasinya menjadi Pemenang Liputan 6 Award 2016 pada kategori pemberdayaan masyarakat Mei lalu. Sebelumnya, ia juga sempat meraih Juara 2 Wirausaha Sosial Mandiri 2014, Penerima Bantuan Presiden 2014, Juara 1 Pro Poor Award 2015, serta Juara 1 Pemuda Pelopor Surabaya 2016.

“Demi Allah, seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang lantaran ajakanmu maka itu lebih baik bagimu daripada seekor unta merah,” ujar Dalu mengutip sebuah hadis. Ia membayangkan berapa banyak ‘unta merah’ yang bisa didapatkan jika seseorang bisa menjadi perantara hidayah banyak orang, walaupun legitimasinya tetap dari Allah.

Selain motivasinya terkait akhirat, Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya 2010/2011 tersebut juga memiliki motivasi terkait masyarakat. “Semakin terjun di sana, semakin banyak saya menemukan masyarakat yang perlu dibantu, baik secara ekonomi maupun mentalitas,” terang pria asal Surabaya ini seperti dikutip Humas ITS.

Merubah wajah Dolly bukanlah perkara mudah. Namun, penggagas GMH ini tak pernah mengharapkan apresiasi sebesar itu terkait kerja kerasnya. “Yang paling berkesan adalah Liputan 6 Award kemarin. Karena kami nggak pernah mendaftarkan diri. Tapi didaftarkan mas Eka, penulis dari Banjarmasin,” ungkapnya.

Dalu mengakui, para kompetitornya memiliki program-program yang luar biasa hebat. “Bahkan setelah berinteraksi dengan peserta lain, saya jadi lebih legowo karena melihat program mereka bagus-bagus. Legowo siap kalah,” tambah pria kelahiran April 1989 ini.

Bagi alumnus Teknik Elektro ITS tersebut, Dolly adalah simbol Indonesia dengan segala permasalahannya. Mulai dari moral hingga ekonomi, menyerupai kondisi Indonesia kekinian. “Jadi, jika GMH bisa mengubah wajah Dolly, pengaruhnya gak hanya ke mereka, kami, dan Surabaya. Tapi ke seluruh Indonesia. Bahwa kita semua bisa mengurai masalah Indonesia terutama di tangan pemudanya,” tutur Dalu.

Selain itu, ia juga ingin memotivasi dirinya sendiri sebagai pembelajaran untuk lebih peka dan peduli terhadap masyarakat, serta memperoleh ilmu. “Alhamdulillah dapat banyak pelajaran kehidupan dari semua proses yang dilalui bersama GMH dan warga Dolly,” tandas koordinator Pena Muda Indonesia ini.

Dalu berharap dapat mengubah Dolly sesuai tujuannya bersama tim GMH. Berkelanjutan secara gerakan dan bisa berekspansi. “Minimal menginspirasi di Indonesia untuk mewujudkan peradaban mulia,” pungkasnya. (ist)