Dari Ampas Tebu Suplai Listrik ke PLN
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Dari Ampas Tebu Suplai Listrik ke PLN

Upaya PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X memproduksi produk turunan tebu non gula kini mulai terealisasi. Produk turunan tersebut yakni memproduksi listrik (cogeneration) dari bahan ampas dan tetes tebu. Bahkan, listrik yang dihasilkan itu bakal mulai disuplai ke PT Perusahaan Listri Negara (PLN) mulai September 2016.

“Ini merupakan satu langkah kemajuan untuk memaksimalkan diversifikasi produk non-gula. Beberapa hari lalu kami sudah teken penandatanganan perjanjian jual beli tenaga listrik dengan PLN. Ini jadi yang pertama di Indonesia sejak berdirinya industri gula di Indonesia,” ujar Direktur Utama PTPN X, Subiyono kepada media di Surabaya, Jumat (22/7).

Ia menjelaskan, listrik akan dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) berbasis ampas tebu. Adapun produksi awal yang akan dijual ke PLN yakni dari Pabrik Gula (PG) Pesantren Baru, Kediri yang mempunyai kelebihan listrik berkapasitas 3 megawatt (MW).

Listrik itu, kata dia, akan disambungkan dengan fasilitas interkoneksi sistem kelistrikan milik PT PLN. ”Infrastruktur penyambungannya sedang dibangun. September nanti interkoneksinya ke jaringan PLN selesai dan sudah resmi jual listrik ke PLN. Ini merupakan tahap awal,” tuturnya.

Program cogeneration di sejumlah PG lainnya juga terus dikerjakan. Diantaranya pada PG Ngadiredjo Kediri sebesar 20 MW, PG Tjoekir Jombang 10 MW dan PG Gempolkrep Mojokerto 20 MW.

Potensi cogeneration di PTPN X ini ada 50 MW berasal dari PG Ngadiredjo, PG Tjoekir dan PG Gempolkrep. Untuk itu, PTPN X membutuhkan ampas untuk cogeneration power plant ini, pada tahun 2016 sebesar 253.547 ton. Saat ini, bagasse (ampas) yang tersedia kurang lebih 119.349 ton sehingga masih kurang 134.198 ton.

Guna mengoptimalkan program cogeneration, PTPN X juga telah membagi 11 PG yang dikelola untuk menjadi tiga klaster. Pembagian klaster menjadi langkah menyukseskan program diversifikasi produk, baik cogeneration maupun pendirian pabrik bioetanol baru.

Pertama klaster Ngadiredjo yang terdiri dari PG Ngadiredjo, PG Lestari, PG Meritjan dan PG Modjopanggoong. Kedua klaster Tjoekir terdiri PG Tjoekir, PG Djombang Baru dan PG Pesantren Baru.

Sedangkan klaster yang ketiga klaster Gempolkrep terdiri PG Gempolkrep, PG Toelangan, PG Kremboong dan PG Watoetoelis. Pembentukan klaster PG tersebut disesuaikan dengan wilayah territorial yang berdekatan. (sak)