Dari RRT, Jokowi Hadiri KTT ASEAN di Laos
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Dari RRT, Jokowi Hadiri KTT ASEAN di Laos

Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo Senin (5/9) malam sekitar pkul 19.25 waktu setempat meninggalkan RTT guna bertolak menuju Vientiane, Laos, menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-28 dan 29.

Menlu Retno Marsudi yang telah lebih dulu tiba di Vientiane mengemukakan, selama berada di Laos, akan banyak sekali acara yang akan dihadiri Presiden.

“Kalau saya hitung, dari pertemuan dan juga kegiatan-kegiatan lain yang juga dihadiri Presiden, total kegiatan yang akan dilakukan sekitar 19 kegiatan dalam 3 hari ke depan,” kata Retno kepada wartawan di Ruang Lobi, Dhon Chan Palace, Vientiane, Senin (5/9) malam.

Untuk besok, menurut Menlu, Presiden akan melakukan lima pertemuan dan menghadiri welcoming dinner. “Sementara tanggal 7, ada tujuh pertemuan dan satu agenda makan malam, tapi dalam konteks yang lebih luas, sudah melibatkan ASEAN dan mitra wicara,” terang Menlu.

Sementara untuk hari terakhir, Kamis (8/9), Presiden akan melakukan tiga pertemuan, satu kegiatan yang terkait dengan keamanan penerbangan (avsec) dan acara penutupan. “Sehingga dapat dikatakan bahwa program yang akan dilalui oleh Presiden dalam 3 hari ke depan sangat padat,” kata Retno Marsudi.

Keamanan Kawasan

Mengenai apa yang akan disampaikan Indonesia pada pertemuan KTT ASEAN ke-28 dan 29, dan juga KTT terkait lain, Menlu menjelaskan, KTT kali ini dilakukan dalam suasana lebih konstruktif. Oleh karena itu, dalam pertemuan kali ini Presiden akan menekankan, yang pertama pentingnya perdamaian dan stabilitas keamanan.

Kedua, akan menekankan kembali kesatuan dan sentralitas ASEAN. Menlu menjelaskan, pada pertemuan tingkat menteri sebelumnya, Indonesia berusaha semaksimal mungkin menjembatani adanya perbedaan.

“Saya kira bahwa antara satu dan lainnya di dalam negara anggota ASEAN terjadi perbedaan pendapat, itu merupakan hal wajar. Tapi akhirnya, di satu titik kita harus menjadi satu, tampil menjadi satu posisi ASEAN. Itulah yang kita harapkan,” papar Retno.

Menurut Menlu, pada pertemuan tingkat menteri Juli lalu, Indonesia secara optimal dan maksimal mengusahakan tercapai satu posisi.

“Alhamdulillah pada pertemuan tingkat menteri, kita bisa mengadopsi joint communique dan juga kita bisa mengadopsi ASEAN Statement mengenai masalah kedamaian dan stabilitas,” ujar Menlu.

Untuk merespons dinamika yang baru, menurut Menlu, Indonesia juga akan mengingatkan pentingnya memperkokoh arsitektur keamanan kawasan.

“Ini merupakan satu pemikiran yang akan disampaikan Indonesia, bagaimana semuanya terutama di dalam konteks Asia Tenggara akan memperkokoh apa yang sudah ada. Sehingga tidak muncul ketidakpercayaan yang mengakibatkan potensi konflik dan memunculkan ketegangan,” ujar Menlu.

Pada akhirnya dengan stabilitas keamanan maka kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya dapat menikmati kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. (sak)