Dini-Taufiq: Soulmate dan Partner di Meja Operasi
PERISTIWA PROFIL

Dini-Taufiq: Soulmate dan Partner di Meja Operasi

Berjodoh dengan rekan seprofesi? Mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya dalam benak pasangan dr Dini Heryani SpBS dan dr Taufiq Fatchur Rochman SpBS. Gara-gara terjebak cinta lokasi, dinamika kehidupan dua sejoli ini menjadi lebih berwarna. Salah satunya, adalah upaya menjaga profesionalisme.

Keduanya adalah lulusan berprestasi pada prodi spesialis satu Ilmu Bedah Saraf, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Pasangan yang menikah pada 10 Juni 2011 ini juga baru dilantik menjadi dokter spesialis bedah saraf pada pelantikan dokter spesialis di Aula FK Unair, Rabu (20/7) lalu.

Dini meraih juara II Oral Presentation pada acara PIT PERSPEBSI (Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia) tahun 2014 di Palembang. Sementara, Taufiq meraih juara Best Poster pada acara Asian Congress of Neurological Surgeons (ACNS) di FK Unair pada Maret 2016 lalu.

Pencapaian ini tentu tidak mudah. Mengingat keduanya adalah rekan seprofesi dan sama-sama mencintai bidang ilmu bedah saraf yang dikenal sebagai salah satu cabang ilmu kedokteran yang rumit.

Pertemuan keduanya berawal sejak sama-sama mengikuti kegiatan mata kuliah dasar umum FK Unair tahun 2011. Seiring waktu berjalan, kedekatan emosional keduanya tumbuh karena sering berinteraksi dalam menyelesaikan tugas perkuliahan.

Pada akhirnya, mereka memutuskan menikah setelah enam bulan berkenalan. “Saat itu ndak kepengin menunda-nunda karena takut nanti berubah pikiran. Apalagi setelah ini kegiatan perkuliahan kami cukup padat,” ungkap Taufiq seperti dikutip PIH Unair.

Kedua sejoli ini menyadari konsekuensi pasca pernikahan. Mengatur ritme keseharian sebagai residen bedah saraf tentu bukan perkara mudah. Mengingat karakter pekerjaan yang cukup dinamis, dan menyita banyak waktu.

“Belum lagi kalau ketemu jadwal operasi yang panjang dan melelahkan, seperti operasi tulang belakang yang bisa memakan waktu sampai 15 jam di ruang operasi,” ungkap Dini.

Awalnya, keputusan keduanya untuk menikah sempat mendapat respon kurang baik dari orang sekitar. Tak jarang pula yang meragukan keberlangsungan hubungan seprofesi ini.

”Teman-teman sempat merasa skeptis. Nanti gimana keluarganya kalau dua-duanya sama-sama sibuk begitu. Namun terlepas dari itu kami memantapkan hati, Bismillah saja, dinikmati, dijalani. Alhamdulillah sampai sekarang fine-fine aja,” ungkap Dini.

Dinamika rumah tangga memang tak selalu mulus. Keduanya pun mengakui kehidupan awal pernikahan tak mudah dijalani. Selain sebagaimana umumnya pasutri yang saling mempelajari karakter personal masing-masing, mereka juga harus menyesuaikan jadwal pekerjaan mereka.

“Pernah juga beberapa kali dipertemukan pada jadwal operasi yang sama. Kalau sudah begini seringkali orangtua atau mertua ikut bantu temani anak kami di rumah,” ungkap perempuan lulusan program studi S-1 Pendidikan Dokter di FK Universitas Mulawarman itu.

Bahkan, dalam beberapa kesempatan keduanya seringkali berdiskusi ‘sengit’ seputar pekerjaan. Malah tak jarang diskusi pun terbawa sampai ke rumah.

“Awal-awal suka begitu. Kalau ada masalah di tempat kerjaan dan harus didiskusikan seringkali lanjut sampai di rumah. Tapi lama-lama kami menyadari bahwa hal itu tidak baik. Urusan pekerjaan harus selesai di tempat kerja. Dan ketika sudah di rumah, perhatian tercurahkan untuk keluarga,” ungkap Taufiq menimpali.

Yang tak kalah penting lagi menurut Dini adalah komitmen untuk saling jujur dan tidak menunda-nunda atau menyembunyikan permasalahan.

“Ketika ada masalah, kami berusaha agar tidak sampai berlarut-larut. Harus segera terselesaikan tidak lebih dari sehari. Ini penting bagi kami untuk menjaga mood,” ungkap perempuan kelahiran Tarakan, 28 Oktober 1982 itu.

Meskipun keduanya sama-sama mencintai bidang pekerjaan yang sama, keluarga tetaplah prioritas. Keduanya tetap membagi waktu bersama putri kecilnya yang bernama Andita Syifa Rahima. Selain bersama anak semata wayangnya, Dini dan Taufiq juga memiliki waktu berdua.

“Kalau lagi luang, kita suka nonton film action, atau mancing biasanya,” jawab Dini. “Kalau istri paling demen basket, atau kalau nggak, cukup istirahat aja di rumah. Capek,” ujar suami menimpali sambil berkelakar.

Sebagai perempuan, mengemban profesi sebagai dokter bedah saraf bukan hal mudah, bahkan profesi satu ini belum banyak dilirik kaum perempuan. Dalam praktiknya, ketika sudah menghadapi pasien di meja operasi, profesionalitas tidak saja menuntut penguasaan teknik operasi tapi juga kesiapan fisik yang senantiasa prima.

Mengingat seringkali yang dihadapi adalah kasus rumit dan butuh konsentrasi tinggi. “Sementara kondisi fisik wanita dan pria saja sudah berbeda, ini yang seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Karena saya menyukai hal-hal yang mendetil, maka saya bisa menikmati pekerjaan ini,” ungkap Dini.

Bagi Taufiq, setiap bidang pekerjaan apapun punya risiko masing-masing. Tinggal bagaimana cara mengelola hati dan pola komunikasi dengan pasangan. Yang pasti, inilah salah satu alasan mengapa pria kelahiran Surabaya, 5 Desember 1983 itu mengagumi sosok istrinya.

Karakter dokter bedah yang menuntut keberanian, ketekunan termasuk hal-hal yang serba pasti, pada akhirnya mempengaruhi perspektifnya dalam menilai sosok istri sebagai perempuan tangguh.

Diujung obrolan ringan, keduanya mengungkapkan akan berencana kembali ke Samarinda tempat asal sang istri yang kini tengah hamil 3 bulan. Kisah cinta lokasi dengan teman seangkatan sekaligus selinier dengan profesi seperti yang dialami Taufiq dan Dini bisa terbilang cukup unik.

Tak jarang kemudian kisah mereka menginspirasi sejumlah pasangan dari kalangan sejawat sendiri. “Yang mulanya skeptis melihat hubungan kami, sekarang sudah berpandangan berbeda. Jauh lebih bisa menerima. Semua kembali kepada niat aja,” pungkas Dini. (sak)