Dokter Nalini: Saat Senang Sekaligus Sedih
PERISTIWA PROFIL

Dokter Nalini: Saat Senang Sekaligus Sedih

Selesai sudah tugas dr Nalini Muhdi SpKJ sebagai ibu rumah tangga. Dua anaknya yang semuanya perempuan sudah berprofesi sebagai dokter mengikuti jejak kedua orangtuanya.

Damba Bestari malahan sudah menjadi dokter yang tengah menjalankan program Pegawai Tidak Tetap (PTT) di sebuah daerah terpencil di luar Jawa dalam dua tahun terakhir ini.

Sedangkan Daya Banyu Bening baru saja merampungkan sekolahnya di Fakultas Kedokteran (FK) Unair dan mengikuti pelantikan dokter angkatan ke-III tahun 2016 pada 27 Juli 2016 lalu di Aula FK Unair Surabaya.

“Alhamdulillah, puji syukur. Anak-anakku sudah rampung semua sekolahnya. Termasuk si bungsu ini,” kata Nalini sambil melirik bungsunya Daya Banyu Bening yang sibuk berfoto ria bersama teman-teman seangkatannya.

Ditemui usai pelantikan dokter pada instansinya, Nalini mengaku gembira sekaligus sedih. Perasaan gembira karena tugasnya sebagai ibu dan orangtua sudah selesai, mengantarkan semua anak-anaknya merampungkan pendidikan formalnya.

“Orangtua mana yang tidak gembira melihat anak-anaknya berhasil menyelesaikan sekolahnya dan berhasil mewujudkan cita-citanya yang diimpikan sejak kecil,” kata dokter spesialis ilmu kedokteran jiwa FK Unair dengan mata berbinar.

Namun yang membuatnya sedih, tidak lama lagi, rumahnya yang ada di kawasan Sutorejo bakal melompong. Anak bungsunya akan mengikuti jejak kakaknya menjalani PTT di sebuah daerah. Kekhawatiran akan ’sepinya’ itu yang menjadikan Nalini memilihkan Banyu Biru menempuh pendidikan ekstention. “Biar gak sepi-sepi banget, gitulah,” kata dokter yang punya suara merdu tersebut.

Sejauh ini, kata Koordinator Pusat Krisis Terpadu Korban Kekerasan pada Perempuan dan anak RSU Dr Soetomo itu, baik dirinya maupun suaminya dr Agung Handyono SpOG tidak pernah memaksakan dua anaknya mengikuti jejak mereka menjadi dokter. Hanya saja, melihat keseharian orangtuanya yang sama-sama menjadi dokter, yang memungkinkan keduanya memiliki cita-cita sama.

“Kami tak pernah memaksakan kehendak agar mengikuti kami. Tapi sebagai orangtua hanya mengarahkan saja. Kok kebetulan, keduanya sama-sama memilih jalur seperti kami. Ya, sudahlah, kami tinggal mendorong saja,” ucap dokter yang juga gemar membaca buku tersebut.

Tentang keseharian sebagai aktivis perempuan, Nalini mengaku tetap konsisten. Termasuk memonitor perkembangan Siti Nurjazila yang populer dengan panggilan Lisa pasien face off . “Rata-rata pasien saya itu sudah saya anggap keluarga. Apalagi Lisa ya seperti anak sendiri malahan,” ucap lulusan Fakultas Kedokteran Undip Semarang itu. (sak)