Dosen UNAIR, Penulis Utama Terproduktif
KOMUNITAS PERISTIWA

Dosen UNAIR, Penulis Utama Terproduktif

Universitas Airlangga memboyong banyak penghargaan padaAnugerah Hak Kekayaan Intelektual Produktif dan Berkualitas Tahun 2020 Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Ristek/BRIN).

Tercatat, selain meraih peringkat pertama pada institusi terproduktif bidang non kesehatan dan obat serta peringkat ketiga sebagai institusi terproduktif bidang kesehatan dan obat, salah satu dosen UNAIR juga meraih penghargaan sebagai penulis utama terproduktif bidang sosial dan humaniora.

Pengumuman penghargaan yang disampaikan pekan lalu secara offline di Hotel Westin, Jakarta, dan secara online melalui Zoom serta live streaming Youtube Kemenristek/BRIN.

Iman Harymawan SE MBA PhD sebagai penulis utama terproduktif bidang sosial dan humaniora bersama civitas UNAIR lainnya Prof Dr Anis Eliyana SE MSi yang menempati posisi ketiga.

Iman menuturkan bahwa penghargaan tersebut bukanlah kerja keras yang ia lakukan sendiri. Dalam melakukan penelitian, tambahnya, diperlukan mentor yang bisa menjadi pembimbing sekaligus contoh selama proses riset.

“Untuk memulai riset diperlukan seorang mentor. Terlebih mentor yang memiliki kapasitas dan berwawasan global. Selain itu, mentor yang menjadi pembimbing juga harus memiliki kualitas riset yang bagus,” ujarnya, pekan lalu.

Iman yang kini menjabat sebagai Ketua Airlangga Global Engagement (AGE) UNAIR itu juga mengatakan bahwa dengan melihat mentor bekerja atau melakukan proses riset, sedikit banyak ia bisa belajar cara menghandel banyak riset dengan waktu yang bersamaan serta cara memanajemen mitra riset baik dari dalam maupun luar negeri.

Selain peran mentor, dalam memaksimalkan kualitas dan kuantitas riset, Iman mengatakan bahwa cara selanjutnya ialah dengan memanfaatkan dana hibah. Menurutnya, dana hibah yang diterima dari UNAIR, Kemenristek, maupun dari banyak pihak di luar negeri bisa dioptimalkan untuk menunjang riset. Salah satunya dengan digunakan untuk memberikan beasiswa bagi mahasiswa S2.

“Kenapa memberikan beasiswa untuk mahasiswa? Karena, kalau kami mencari staf yang sedang tidak studi, waktunya hanya singkat. Oleh karena itu, dengan menyekolahkan mahasiswa kami bisa saling kolaborasi untuk riset dan mendorong agar produktivitas penelitian lebih banyak lagi,” ujarnya. “Itu sebabnya, saya tidak klaim prestasi ini hanya karya saya, tapi karena dukungan banyak pihak,” imbuhnya.

Pada akhir, Iman juga menegaskan bahwa penelitian adalah sebuah proses kolaborasi. Baik dengan institusi, mitra dari dalam atau luar negeri, bahkan mahasiswa. Baginya, dengan kolaborasi para peneliti bisa saling mengisi kekurangan satu dengan yang lainnya.

“Untuk itu, saya harap para peneliti di UNAIR bisa memaksimalkan kolaborasi dengan banyak pihak. Bahkan mahasiswa kita, karena mahasiswa yang kita memiliki adalah aset penting untuk mendorong kualitas dan kuantitas riset,” pungkasnya. (ita)