Dr Awik: Temukan Senyawa Baru Anti Kanker
KESEHATAN PERISTIWA

Dr Awik: Temukan Senyawa Baru Anti Kanker

Pemanfaatan spons atau bunga karang sebagai anti kanker dewasa ini marak dikembangkan. Jumlahnya yang melimpah dan kemampuannya yang dinilai baik membuat spons menjadi bahan penelitian yang menarik perhatian.

Begitu pula dengan Dr Awik Puji Dyah Nurhayati MSi, dosen Jurusan Biologi ITS yang berhasil mengisolasi senyawa baru anti kanker lewat disertasinya.

Melanjutkan studi doktoral di Universitas Gadjah Mada (UGM), Awik memilih spons jenis Cinachyrella yang banyak tumbuh di daerah Gunung Kidul, Jogja. Selain melimpah, penelitian terkait jenis spons ini juga belum banyak dilakukan peneliti manapun.

“Bahkan peneliti dunia juga suka meneliti spons di Indonesia yang banyak ragamnya. Tapi kebetulan Cinachyrella ini belum banyak diteliti,” ujar Awik yang juga Ketua Program Studi S1 Biologi ITS itu.

Memulai penelitiannya pada 2014, Awik berhasil menemukan kemampuan luar biasa dari senyawa yang berhasil diisolasinya. Pasalnya, senyawa ini mampu membunuh sel kanker dengan cara apoptosis, yakni kematian sel secara terstruktur sehingga tidak merusak sel lain disekitarnya.

“Anti kanker pada umumnya membunuh sel kanker secara nekrosis sehingga dapat merusak sel lain, ini yang mengakibatkan adanya efek samping seperti rambut rontok,” terang Awik seperti dikutip Humas ITS.

Istimewanya, isolat yang berhasil didapatkan merupakan struktur baru yang belum pernah ditemukan. Hal ini membuat namanya kemudian dicatut dalam nama senyawa anti kanker tersebut. “Saya beri nama SA2014, S untuk struktur, A untuk Awik dan 2014 adalah tahun penemuannya,” paparnya menjelaskan.

Lebih lanjut, ibu satu anak ini menjelaskan SA2014 masih perlu pengembangan. Pasalnya, kemampuan membunuh sel kanker yang dimilikinya masih sangat kecil dibandingkan dengan obat anti kanker komersial lainnya.

Meski begitu, SA2014 tetap unggul karena sifatnya yang tidak beracun. “Kemampuan apoptosisnya 11 persen dan nekrosisnya hanya 7 persen. Padahal, obat komersial mampu membunuh 96 persen meski secara nekrosis,” tambah wanita asal Sragen Jateng ini.

Saat ini penelitiannya sudah dalam tahap pengembangan paten yang telah diajukan Juli lalu. Berbagai penelitian tambahan mengenai kemampuan fagositosis, uji molekuler untuk isolasi sintesa dan tes in vivo dengan hewan menjadi agenda Awik selanjutnya.

“Saya sangat berharap penelitian ini dapat menginspirasi peneliti lain untuk mengembangkannya, karena disini saya melihat potensi yang luar biasa untuk dikembangkan. Ini masih awal,” pungkasnya. (sak)