Drg Zahrotur: Dokter Teladan Nasional 2016
KOMUNITAS PERISTIWA

Drg Zahrotur: Dokter Teladan Nasional 2016

Sejak lulus menjadi dokter gigi tahun 2003, Zahrotur Riyad ingin langsung terjun ke masyarakat. Namun baru pada 2010, sebagai pegawai negeri sipil (PNS) ditugaskan di Puskesmas Galang, Batam, Propinsi Kepulauan Riau. Wilayah kerjanya meliputi 35 pulau kecil-kecil. Berkat dedikasinya, Zahrotur ditetapkan sebagai Dokter Teladan Tingkat Nasional 2016.

Ibu tiga anak yang saat kuliah akrab dipanggil Uris ini lahir dan besar di Lumajang, Jawa Timur. Setelah tamat SMP Negri 1 Lumajang, bungsu dari 10 bersaudara ini melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 2 Lumajang. Lalu kuliah di FKG Unair. Setelah lulus kuliah, Zahrotur mengikuti sang suami ke Jakarta.

Kebetulan, suaminya Ahmad Khalis Tontowi yang lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu diterima bekerja di sebuah perusahaan konsultan asal Jepang. Pekerjaan yang menyenangkan, tapi jam kerja yang sangat padat membuat waktu untuk keluarga nyaris tidak ada. Sang suami pun kemudian pindah bekerja di sebuah perusahaan tambang minyak lepas pantai di Batam.

Setelah pindah ke Batam itulah, Uris mulai mengabdikan diri sebagai dokter gigi hingga diterima menjadi PNS. Maka sejak tahun 2010 itu dia berdinas di Puskesmas Galang, Batam, Jaraknya sekitar 70 kilometer dari rumah. Meski berdinas di Pulau Galang, wilayah kerjanya sangat luas, termasuk pulau-pulau kecil di sekitarnya. Lebih dari 100 pulau. Tetapi yang berpenghuni hanya sekitar 35 pulau. Uris pun harus berkeliling ke pulau-pulau tersebut.

Bersama dengan tim kesehatan, dia berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain, setiap hari. Hingga saat ini. Medan yang ditempuh tentu saja tidak mudah, karena pulau-pulau kecil harus dijangkau dengan perahu kecil dan mengarungi lautan.

Beruntung, tim yang dimilikinya untuk berkeliling ke pulau-pulau itu sangat kompak dan personelnya juga hebat. Saat berangkat, selain dirinya, juga ada dokter umum, perawat, ahli gizi, bidan dan lain-lan. Mereka menyewa perahu, lalu berangkat pagi hari, kemudian kembali sore menjelang senja. Pulau terjauh yang didatangi adalah Pulau Petong, yang membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke sana.

Menjalani profesinya tersebut penuh dengan tantangan, terutama berkaitan dengan fasilitas. Meski minim fasilitas, namun Uris tak kehabisan akal. Ia membuka praktek di tempat yang tidak biasa. Baginya yang terpenting adalah memberikan kesehatan gigi dan mulut untuk masyarakat di pulau-pulau tertinggal itu.

“Saya menghadirkan klinik darurat di saung-saung warga, kadang saya melakukan praktek gigi di bawah pohon, pokoknya bagaimana caranya saya bisa menjangkau mereka,” ujarnya seperti dikutip situs PDGI Kab Bekasi.

Dokter gigi enerjik yang hobi menulis dan membaca ini baru menyadari bahwa ilmu yang diterima di bangku kuliah tidaklah cukup jika ingin sukses menjadi seorang yang bermanfaat bagi sesama manusia. Dalam perjalanan tugas sebagai dokter gigi, Uris, begitu nama panggilannya saat kuliah, berjumpa dengan berbagai lapisan masyarakat.

Permasalahan sosial yang mereka hadapi membawa Uris menjadi staf ahli pusat informasi dan kegiatan kesehatan reproduksi sejak tahun 2010. Sebagai konselor, ia memberikan penyuluhan mengenai pencegahan narkoba dan kesehatan reproduksi remaja.

Bermula, ketika pemerintah meluncurkan Program Peduli Kesehatan Reproduksi Remaja. Program ini menggelitik batinnya. Kebetulan, Uris memang sangat tertarik pada dunia remaja, dan merasa lebih bisa berkomunikasi dengan remaja.

Uris kemudian meminta izin kepada kepala Puskesmas untuk melakukan edukasi kepada remaja pelajar sekolah di kawasan Pulau Galang. Begitu mendapat izin, sejak tahun 2011, setiap hari Sabtu ia berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain memberi edukasi.

Hasil kerja keras dan doanya membuahkan hasil. Data tahun 2013 dan 2014, menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat akan kesehatan reproduksi dan tidak ada lagi remaja yang hamil di luar nikah di wilayah Pulau Galang.

Suami full support
Berbagai aktivitas dan kegiatan yang menyita perhatian dan waktu itu tentu tak lepas dari peran orang-orang di sekelilingnya. Selain almarhum orangtuanya, salah seorang yang sangat berperan pada Uris adalah sang suami.

Ia sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan suami yang sangat baik dan yang bisa mendidik setiap langkahnya. Suaminya yang asal Madura itu memiliki watak cukup keras, namun teguh dalam hal prinsip dan pendirian.

Uris sendiri dalam melakukan aktivitas sosialnya ini tak lepas dari dukungan suaminya. Sikap itu menjadi prinsip keduanya saat hendak menikah. Sebelum menikah, suaminya mengatakan bahwa perkawinan sebaiknya tidak hanya memberi manfaat bagi keluarga saja, tetapi juga memberi manfaat bagi orang lain.

Misalnya, jika uang jatah belanja habis untuk membantu janda yang tengah kekurangan atau diberikan kepada seorang ibu untuk membayar sekolah anaknya, suaminya justru senang. Sebaliknya, kalau uangnya habis untuk membeli sesuatu di mal, suaminya kurang suka. Sang suami memiliki filosofi bahwa kebutuhan diri kita cukup satu, tetapi untuk orang lain harus dua atau lebih banyak.

Kini, selain sibuk dengan aktivitasnya sebagai dokter gigi dan motivator, Uris juga sibuk membesarkan ketiga buah hatinya, Adila Ulfia Maula, Safaraz Abdala Rusdan dan Nayra Azkia Mechana.

Uris yang masih aktif menulis di sejumlah surat kabar ini mendapatkan apresiasi di level nasional dan internasional atas pengabdiannya. Di antara penghargaan tersebut adalah Ibu berprestasi 2015 kategori kesehatan dari HIPMI Peduli Kepri, Perempuan Inspiratif NOVA 2014 kategori kesehatan, Ikon Gerakan Revolusi Mental Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tahun 2016 bidang etos kerja,

Juga sebagai Penerima She CAN Inspiring Women 2015 dari Tupperware Indonesia, Nominator UNESCO Prize for Girl’s and Women’s Education 2016, Dokter Teladan Provinsi Kepualaun Riau 2016 dan terakhir adalah menjadi Dokter Teladan Tingkat Nasional tahun 2016. (sak/berbagai sumber)