Early Warning System Demam Berdarah
KESEHATAN PERISTIWA

Early Warning System Demam Berdarah

Merebaknya wabah demam berdarah di suatu daerah seringkali menjadi momok bagi masyarakat. Namun hal ini baru diketahui setelah anggota masyarakat terjangkit virusnya. Padahal wabah demam berdarah dapat dicegah sedini mungkin, sehingga anggota masyarakat terhindar dari virus yang dibawa aedes aegypti itu.

Upaya pencegahan demam berdarah datang dari mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja. Mereka mengambangkan sebuah aplikasi yang dapat memberikan peringatan dini terhadap wabah demam berdarah.

Mahasiswa tersebut adalah Billy Sabella, mahasiswa Magister Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII. Billy Sabella mengembangkan sebuah aplikasi yang diberinama ‘Early Warning System (EWS)’ yang mampu memprediksi waktu penularan penyakit demam berdarah di suatu daerah.

“Ada tiga faktor yang menjadi penyebab menularnya penyakit demam berdarah yaitu faktor host, faktor lingkungan, dan faktor perilaku. Semakin berkembangnya penyebaran penyakit demam berdarah menjadikan indikator penyebab penyebaran penyakit semakin bertambah,” kata Billy Sabella seperti dikutip KabarKampus.

Menurutnya, terdapat hubungan signifikan antara curah hujan, kelembaban udara, kelompok usia penderita demam berdarah dan kepadatan penduduk. Wilayah dengan curah hujan tinggi, kelembaban tinggi, wilayah padat penduduk dan jumlah kelompok usia anak-anak akan meningkatkan penyebaran penyakit demam berdarah.

Seperti yang dicontohkan dalam aplikasi EWS, dengan kelembaban udara 85-87 persen dan curah hujan 3-109 mm, kasus DBD diperkirakan akan menyerang anak usia 0-4 tahun dengan kemungkinan 94 persen, dan jumlah penderita berkisar 0 -7 anak.

Lizda Iswari, dosen pembimbing Billy menambahkan, dengan aplikasi tersebut orangtua terutama yang memiliki anak usia 0-4 tahun dapat mengantisipasi penyakit DBD.

Salah satu caranya adalah menjaga anak-anak agar jangan sampai tergigit nyamuk aedes agypti. Orangtua dapat mencegahnya dengan memasang kelambu pada tempat tidur anak dan memberikan lotion anti nyamuk ketika anak akan pergi bermain di luar rumah.

Izzati Muhimmah, Ketua Pusat Studi Informatika Medis mengatakan, penyakit DBD hampir selalu menjadi kasus endemik di beberapa daerah setiap tahunnya. Antisipasi maupun penanganannya sering terseok-seok sehingga harus jatuh banyak korban. “Di masa datang, kondisi semacam itu barangkali tidak harus terjadi lagi,” katanya.

Selain itu menurutnya, dengan mengetahui perkiraan kasus DBD tersebut, dinas kesehatan atau pengambil kebijakan yang lain diharapkan bisa mengantisipasi sekaligus menangani kasus DBD secara lebih tepat. (sak)