Ekstraksi Komedo, Terapi Atasi Jerawat
KESEHATAN PERISTIWA

Ekstraksi Komedo, Terapi Atasi Jerawat

Akne Vulgaris (AV) atau yang lebih populer dikenal dengan jerawat merupakan kondisi peradangan kronik kelenjar minyak di kulit. Penyebabnya multifaktorial, seperti genetik, ras, hormonal, stress, cuaca, kelembaban, penggunaan kosmetik hingga diet dan obat-obatan. Jerawat merupakan penyakit kulit yang banyak dijumpai pada remaja.

Dokter Irma Bernadette S Sihotang SpKK(K), staf pengajar Departemen Ilmu Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), melakukan penelitian dalam disertasinya. Hasil penelitian membuktikan bahwa terapi ekstraksi komedo terbukti dapat menggantikan terapi antibiotik sehingga dapat turut mencegah terjadinya resistensi antibiotik.

Beberapa kasus dapat menimbulkan keresahan sehingga diperlukan pertolongan dokter. Klasifikasi jerawat terbagi dalam kategori akne gradasi ringan (AVR), sedang (AVS) dan berat (AVB). Pertumbuhan jerawat dimulai saat memasuki masa pubertas (12-15 tahun) dengan puncak keparahan pada usia 17-21 tahun. Derajat keparahan banyak terjadi pada kategori AVS dan AVB.

Jerawat memang tidak dikategorikan sebagai penyakit yang dapat mengancam jiwa. Namun dapat berpengaruh pada kualitas hidup dan kehidupan sosial ekonomi, psikosial dan emosional seseorang.

Terapi lini pertama pada AVS saat ini yaitu dengan penggunaan kombinasi retinoid topikal (tretinoin), antibiotik oral, dengan atau tanpa benzoil peroksida topical, yang diberikan selama 1,5-2 bulan dengan jangka waktu maksimal 3-4 bulan.

Pemberian antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan kemungkinan resistensi (kekebalan) antibiotik. Hasil terapi jerawat dengan kemungkinan resistensi sering memberikan efek samping berupa mual, muntah, gangguan pencernaan dan diare.

Permasalahan ini mendorong para klinisi untuk meneliti terapi lain pada jerawat tanpa menggunakan antibiotik yang diminum. Ekstraksi komedo ditenggarai dapat menjadi terapi alternatif. Terapi ini dapat dikerjakan dengan aman, murah dan mudah dengan memberikan tekanan ringan menggunakan ekstraktor komedo.

Cara ini dapat mengangkat kelenjar minyak. Dengan latar belakang pemahaman tersebut, maka diperlukan sebuah peneitian yang dapat membuktkan bahwa ekstraksi komedo benar-benar dapat menggantikan terapi antibiotik pada pasien dengan AVS atau AVB.

Hasil penelitian itu dipresentasikan dengan sangat baik dr Irma pada sidang promosi doktor di Ruang Senat Akademik Fakultas, FKUI Salemba, beberapa waktu lalu.

Disertasi berjudul ‘Efektivitas Ekstraksi Komedo Dibandingkan Doksiklin Oral pada Panduan Terapi Lini Pertama Akne Vulgaris Sedang: Kajian Terhadap Ekspresi HIF-1 alfa’ ini berhasil dipertahankan di hadapan tim penguji yang diketuai Dr dr Suhendro SpPD-KPTI.

Pada akhir sidang, Prof dr Saleha Sungkar DAP&E MS SpParK, selaku ketua sidang mengangkat dr Irma sebagai Doktor dalam bidang Ilmu Kedokteran di FKUI. (sak)