Empat Srikandi UGM Siap Daki Himalaya
OLAHRAGA PERISTIWA

Empat Srikandi UGM Siap Daki Himalaya

Empat mahasiswi tim UGM International Expedition III “Peak of The Ancestors” ingin membuktikan bahwa perempuan juga sanggup melakukan pendakian di gunung bertipe es. Srikandi UGM ini bakal menghadapi Gunung Stok Kangri setinggi 6.153 mdpl, salah satu atap Himalaya di India pada 5-22 Agustus mendatang.

Empat mahasiswi UGM tersebut, yaitu Dita Novita Sari (Fakultas Psikologi), Eva Lutviatur Rohmah Ningsih (FISIPOL), Ria Verentiuli (Fakultas Ilmu Budaya), dan Chordya Iswanti (Fakultas Pertanian).

Sudah hampir setahun para atlet ini digembleng lewat try out untuk menghadapi Gunung Stok Kangri. Pada try out kali ini para atlet diharuskan melakukan pendakian 4 gunung (Sumbing-Sindoro-Merbabu-Merapi).

Sekaligus dalam waktu yang sudah ditentukan guna mencapai target capaian fisik yang dibutuhkan untuk mendaki salah satu atap Himalaya tersebut.

Try out kedua ini telah dilaksanakan pada 27 Mei – 1 Juni silam. Setiap hari para atlet memerlukan waktu selama 8 jam untuk mencapai puncak dan kembali ke basecamp pendakian. Hal tersebut dilakukan setiap hari dengan gunung dan tantangan yang berbeda.

Walaupun pada hari keempat cuaca di sekitar kaki Gunung Merapi sempat tidak mendukung sehingga pendakian dilakukan pada pagi harinya. “Walaupun terdapat target yang tidak mudah untuk dicapai, namun proses ini menyenangkan dan menimbulkan optimisme bagi tim,” terang Verent, seperti dikutip Humas UGM beberapa waktu lalu.

Tidak begitu berbeda dengan rekan satu timnya, Chordya, yang menyatakan bahwa kegiatan try out kedua ini merupakan pengalaman pertama baginya. Apalagi, ketika harus mendaki gunung es di Himalaya setinggi 6.153 mdpl tersebut.

“Tentu masih banyak hal yang harus dilakukan untuk mencapai target yang sudah ditentukan karena yang dihadapi bukanlah medan yang biasa orang tropis hadapi,” imbuh Chordya.

Capaian para atlet UGM ini tidak lepas dari persiapan matang yang telah dipersiapkan jauh hari. Manajemen yang matang dan fisik yang prima adalah kunci dari suksesnya try out kedua ini.

Yang paling utama dan mendasar dalam berkegiatan di alam bebas adalah kemampuan membaca kapasitas diri agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Dalam pendakian nantinya, mereka akan memilih jalur pendakian dari Spituk. Kemudian tim akan turun gunung melalui jalur yang berbeda yakni lewat jalur Stok. “Kita akan turun di bandara Delhi terus lanjut ke Ladakh. Jalur yang kami pilih itu dari Spituk terus turun di Stok,” ujar Eva.

Tim memilih jalur Spituk karena jalurnya relatif pendek. Jalur yang tidak terlalu panjang ini bisa memudahkan pendaki dalam proses aklimatisasi atau penyesuaian suhu tubuh. “Kalau untuk orang tropis seperti Indonesia itu memudahkan aklimatisasinya,” ujarnya.

Gunung Stok Kangri yang berada di India juga memiliki hubungan erat Indonesia. Sampai sekarang kebudayaan Indonesia masih beralkulturasi dengan pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha kuno yang datang dari India.

“India diketahui sudah memiliki kekerabatan yang dekat dengan Indonesia sejak zaman dahulu yang ikut mempengaruhi agama dan kebudayaan di Indonesia, misalkan saja tokoh dalam wayang. Selain itu India juga negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia,” ujar Eva.

Alasan lain bagi Eva dan tiga orang temannya memilih Gunung Stok Kangri karena ketinggian dan tingkat kesulitannya cocok untuk ekspedisi yang dilakukan oleh perempuan. “Tapi kalau ketinggian di atas 6.000 itu udah masuk ketinggian yang ekstrem.” Dalam kisah epos Mahabarata dijelaskan bahwa pegunungan Himalaya merupakan tempat suci para leluhur dan dewa bersemayam. Itulah mengapa tagline UGM International Expedition yang ke-III ini “Peak of The Ancestors”. (sak)