Fauzan Helmi: Sukses Rintis ‘Teman Jalan’
PERISTIWA PROFIL

Fauzan Helmi: Sukses Rintis ‘Teman Jalan’

Jika mengintip perkembangan bisnis startup di Indonesia, akan muncul sederet nama anak muda yang kini menduduki posisi CEO. Salah satu dari deretan nama tersebut adalah Fauzan Helmi Sudaryanto atau yang akrab di sapa Ujan, alumni Fasilkom Universitas Indonesia (UI) angkatan 2011.

Bersama dua orang teman kuliahnya, pria 23 tahun ini berhasil merintis startup berbasis aplikasi bernama ‘Teman Jalan’ sejak Agustus 2015 lalu. Teman Jalan mempertemukan pengendara dan penumpang yang memiliki rute perjalanan yang searah atau tujuan sama.

Ditemui Humas UI September 2016 lalu, Ujan menceritakan dirinya memang sudah tertarik pada bidang teknologi komputer sejak menduduki bangku SMP.

“Saya belajar coding sejak SMP, belajar sendiri. Tadinya suka doang sih. Di komputer bisa nonton, main game. Nah saya ingin orang juga bisa main game atau memakai aplikasi buatan saya,” tutur pria yang pernah meraih gelar Mahasiswa Berpestasi 2015 itu.

Ditanya mengenai inspirasinya, Ujan mengatakan, ayahnya menjadi sosok yang berperan dalam mendidik dan membentuk pola pikirnya di awal.

“Dulu pas SMP, saya bikin proposal minta komputer baru ke ayah. Komputer rumah udah 10 tahun, udah nggak kuat. Ayah saya nggak mau, dan saya harus ikut patungan. Lah, saya nggak punya uang kan?” ujarnya sambil tertawa.

Ujan menambahkan, “Akhirnya ada lomba Insyinyur cilik. Lombanya bikin karya tulis. Di situ ayah saya membimbing saya bikin karya tulis. Pertama kalinya seumur hidup! Saya menang juara tiga dan dapat uang. Waktu itu bahkan jadinya nggak jadi beli komputer, tapi beli laptop untuk saya sendiri.”

Ujan menuangkan ketertarikannya pada dunia teknologi komputer melalui partisipasinya dalam berbagai proyek dan kompetisi. Salah satunya pembuatan Kamus Tradisional Online.

“Di SMA, saya bikin kamus bahasa daerah online. Saya keturunan Jawa, masa nggak bisa bahasa Jawa? Keluarga saya bisa semua. Keturunan Jawanya berhenti di saya,” jelasnya.

Berbagai inovasi yang ia garap kemudian pun, diakui Ujan, berasal dari masalah-masalah yang ada di lingkungannya. “Emang dari dulu udah suka dua hal, teknologi komputer sama solving problem. Kalau ada suatu masalah, apa yang bisa saya bantu dengan skill saya?” katanya.

Di bangku kuliah, Ujan mulai mencoba memetakan suatu masalah dan merefleksikan terhadap kemampuan yang ia miliki untuk membantu membereskan masalah tersebut.

Ia kemudian membuat aplikasi ‘Siaga Banjir’, sebuah aplikasi peringatan banjir, serta ‘Bikun Mania’, sebuah aplikasi yang dapat mendeteksi bus kuning di Kampus UI.

“Waktu banjir, saya gak bisa bikin tanggul, nggak bisa lebarin sungai, dan nggak bisa menggusur rumah orang di pinggir sungai. Tapi saya punya teknologi, apa yang bisa saya lakukan? Saya beri tahu orang kalau saya punya banyak data. Waktu membuat Bikun Mania, orang-orang di halte bikun gak tahu kan bikun datang kapan? Oke, saya lacak busnya agar kita jadi tahu,” tambahnya.

Pria kelahiran 12 Desember 1992 ini mengatakan bahwa dirinya pernah tinggal di Jerman saat SD. Menurutnya, tinggal di negara lain berhasil membuka wawasan dan memperluas perspektifnya.

“Itu membentuk pola pikir. Di sana semuanya udah rapih, disiplin. Terus pas balik ke Indonesia lagi seperti masuk mesin waktu. Mundur beberapa tahun ke belakang. Di sana saya kelas satu SD naik bus dan kereta nggak ada masalah. Di sini gimana? Nggak aman,” katanya.

Hal ini menjadi dasar dirinya, dibantu dua rekan kuliahnya, Nana dan Caraka merintis startup ‘Teman Jalan’ setelah mendapatkan gelar sarjana.

Ujan mengatakan rekan-rekan timnya di ‘Teman Jalan’ berperan mendorong dirinya terus maju. “Satu hal yang bikin saya terus maju sebenarnya tim. Setiap orang di tim saya punya expertise masing-masing yang orang lain nggak punya. Dan saya suka belajar dari mereka. Itu kenapa saya suka teamwork,” ujarnya.

Ditanya mengenai cara memimpin tim, Ujan mengatakan dirinya selalu menekankan delapan rekannya Teman Jalan mengenai 16 team principles yang ia buat.

“Saya punya team principles. Sebuah konvensi yang kita pakai dalam bekerja dalam tim. Itu benar-benar jadi panduan buat saya dan tim, untuk punya satu kesepakatan bersama buat bisa jalan. Saya sedang berusaha bikin tim saya percaya bahwa it’s okay to fail as long as we learn something,” tutupnya. (sak/ist)