Felycia PhD : Juara Bermodal Tekad
PERISTIWA PROFIL

Felycia PhD : Juara Bermodal Tekad

Tidak ada bayangan dalam benak seorang Felycia Edi Soetaredjo PhD, menjadi dosen dan peneliti dalam bidang Teknik Kimia. Berawal dari sang kakak sepupu yang lebih dahulu mengenal dalam bidang Teknik Kimia, Fely -sapaan akrab Felycia tertarik dengan bidang Teknik Kimia.

Melihat minat Fely yang lebih senang dengan angka dan latar belakang pendidikan jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) saat di SMA, sang kakak sepupu menyarankannya mengambil jurusan Teknik Kimia. Perkuliahan dia jalani hingga lulus pada tahun 1999 dan gayung pun bersambut. Adalah Ir Suryadi Ismadji PhD yang menawari Fely untuk menjadi dosen Universitas katolik Widya Mandala surabaya (UKWMS), dengan syarat harus melanjutkan studi ke jenjang S2.

Demi studi lanjut di luar negeri Fely lantas mencari beasiswa penuh. “Setiap ada pameran pendidikan luar negeri pasti saya datang dan saya ajukan ijazah ke berbagai universitas. Sampai akhirnya dapat beasiswa penuh dari Australia Development Scholarship di The University of Queensland, Australia,” ujarnya mengenang.

Tak hanya itu, seperti dirilis Humas UKWMS, Fely kemudian memutuskan untuk studi lanjut jenjang S3 dengan beasiswa penuh di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) Taiwan dengan arahan Profesor Yi-Hsu Ju di bidang Teknik Kimia.

Pengalaman dan kemampuannya berhasil menghantarkannya terpilih sebagai anggota Global Young Academy (GYA) selama 5 tahun ke depan bersama 199 akademisi lainnya dari seluruh dunia. GYA merupakan Academy of Science bagi para ilmuwan muda di tingkat dunia dan tidak mudah menjadi anggota GYA mengingat ada 32 panelis yang menilai form aplikasi yang diajukan.

“Tentu ada kebanggaan bisa menjadi anggota GYA, banyak bertemu orang-orang dari berbagai negara dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda dan bisa saling bertukar pikiran untuk memecahkan masalah di sekitar kita. Tapi saya sebenarnya pemalu, jadi ada rasa minder mendengar kemampuan mereka, hanya saya mendorong diri sendiri untuk maju,” tuturnya.

Usai terpilih sebagai anggota GYA, Fely kembali terpilih menjadi 1 diantara 18 orang yang berkesempatan mengikuti ASEAN Science Leadership Program di Thailand pada 9-12 Juni lalu. ASEAN Science Leadership Program merupakan program dari GYA untuk tingkat ASEAN yang didanai lembaga penelitian di Thailand guna mengatasi permasalahan di Asean.

Program ini diadakan untuk meningkatkan kapasitas ilmuwan muda agar dapat membangun hubungan interdisipliner dalam skala internasional dan bersama-sama memecahkan permasalahan yang ada di tingkat ASEAN.

Sejumlah program disusun untuk satu tahun ke depan, salah satunya memberikan pendidikan sejak dini kepada balita mulai usia dua tahun dengan media mainan pembelajaran seperti komik hingga film.

“Harapannya tentu agar pengenalan hard science (ilmu eksakta) dapat dimulai di usia dini dan diterima sampai ke tingkat pemerintah dan ASEAN,” tutur anak kedua dari dua bersaudara tersebut.

Fely pun berharap dengan program tersebut akan banyak anak-anak yang mau mempelajari IPA maupun hard science dan ada keseimbangan dengan mereka yang mempelajari ilmu sosial.

“Seringkali saya bertemu dengan murid SMA yang awalnya mengambil jurusan IPA lalu kemudian saat kuliah memutuskan beralih ke ilmu sosial dengan alasan bahwa IPA terlalu sulit, banyak rumus dan sebagainya. Hal ini pula yang perlu diubah dengan memberikan pengetahuan sejak dini bahwa hard science tidak sulit,” ungkap ibu satu putra ini.

Melalui keilmuannya di bidang Teknik Kimi, Fely melakukan sejumlah penelitian. Diantaranya yang sempat diwartakan adalah membimbing mahasiswa UKWMS meneliti biji buah bintaro sebagai bahan bakar biodiesel.

Untuk masa depan, Fely menginginkan lebih mengaplikasikan penelitiannya pada cakupan yang lebih luas, melakukan sesuatu yang besar dan meneliti sesuatu yang fundamental namun bermanfaat. Keteguhannya dalam meraih cita-cita ini lagi-lagi berhasil membawanya meraih penghargaan.

Pada Juni 2016 lalau ia dikukuhkan sebagai Pemenang Pertama Dosen Berprestasi Tingkat Kopertis VII Jawa Timur. “Yang terpenting adalah terus, terus dan terus mencoba dan bonek karena segala sesuatu bisa dipelajari,” pungkas dosen berkacamata ini. (sak)