Animasi Korsel Dikerjakan Siswa Indonesia
HIBURAN PERISTIWA

Animasi Korsel Dikerjakan Siswa Indonesia

Indonesia boleh bangga, ternyata produk animasi Korea Selatan (Korsel) telah terinspirasi seni wayang kulit Indonesia. Atas kedekatan itu pulalah, maka penyelesaian film animasi berjudul FrienZoo bagian kedua, melibatkan siswa asal Jatim antara lain Surabaya, Sidoarjo dan Malang. Kini film animasi FrienZoo bagian pertama, sudah ditayangkan di EBS-TV Korea.

Hal ini diungkapkan Ardian, Creative Director Castle Production, Jakarta, Senin (4/7) siang. Ardian baru saja menandatangani kerjasama dengan GFX Korea untuk memproduksi 50 episode film animasi berjudul FrienZoo bagian kedua. “MoU sendiri kami tandatangani di Kuala Lumpur City Center April lalu. Hadir dalam acara MoU itu Pewakilan Korean Ministry of Science and Future Planning, NIPA, Korean Trade Agency (Kotra), serta berbagai lembaga Pemerintah Korea lainnya,” kata Ardian.

Terkait siswa Jatim yang terlibat pembuatan film, Ardian berharap masyarakat di Jatim makin memahami produk animasi yang merupakan bagian dari industri kreatif. Jatim terutama di kota-kota besar seperti Surabaya, Sidoarjo dan Malang memiliki potensi sumber daya manusia yang cukup untuk menggerakan industri kreratif.

“Karena itu dalam waktu dekat saya ingin mengajak komunitas dan pencinta animasi di tiga kota itu sama-sama bangkit dalam memberi warna terhadap perkembangan animasi Indonesia,” kata Ardian yang juga Ketua Umum AINAKI (Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia).

Animasi serial FrienZoo ini bercerita hewan ternak tuna wisma yang menetap di kebun binatang dan menyesuaikan lingkungan baru serta bertemu dengan teman binatang lain yang baru.

”Gaya animasi FrienZoo adalah animasi siluet, yang menggabungkan karakter hitam putih dan latar belakang berwarna-warni. Animasi jenis ini akan memungkinkan untuk mengembangkan hubungan sosial dan imajinasi artistik untuk tontonan anak-anak,” kata Ardian.

Ardian menjelaskan, unsur wayang kulit dalam serial FrienZoo, sangat dominan, itu sebabnya pula pada penggarapan bagian kedua ini, pihak Korea mempercayakan pengerjaannya pada Castle Production, rumah produksi animasi asal Indonesia.

“Kami bersyukur bisa dipercaya mengerjaan proyek ini. Dalam pengerjaannya ada sekitar 50 tenaga kerja kreatif muda yang akan terlibat. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang, Rembang, Jepara, Wonosobo, Bali, Bekasi, Bandung, Banten dan Padang,” katanya.

Untuk merealisasikan pekerjaan itu, pelatihan dalam rangka transfer teknologi oleh tim Korea dilaksanakan dalam dua tahap. Pada tahap pertama di Bali, bertempatkan di Bali Creative Industry Center, milik Kementerian Perindustrian. Sedang pelatihan kedua terkait pelatihan compositing dilaksanakan di Cybermedia College Jakarta milik Castle Production.

Ardian yakin animasi bagian kedua yang juga akan diputar di beberapa negara di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia akan booming, karena tema dan pendekatan tokoh yang ada dalam animasi itu sangat dekat dengan dunia imajinasi anak-anak.

Ardian mengungkapkan, proyek senilai 2 milyar won atau setara dengan Rp 22 miliar ini didanai bersama oleh GFX, Castle dan para sponsor yang berasal dari Korea. Selain dengan Castle, GFX juga berencana bekerjasama co-production partner di negara-negara lain seperti Vietnam, Malaysia dan Cina. (sak)