Fisikawan Tjia May On Terima LIPI Award
PERISTIWA PROFIL

Fisikawan Tjia May On Terima LIPI Award

Fisikawan dan juga mantan guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Tjia May On menerima anugerah tertinggi ilmu pengetahuan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yakni LIPI Sarwono Award Tahun 2016.

Pemberian penghargaan kepada Pak Tjia, sapaan akrab fisikawan tersebut, dilakukan dalam acara Penganugerahan Penghargaan Ilmu Pengetahuan LIPI Sarwono Award XV dan Sarwono Memorial Lecture XVI Tahun 2016, di Auditorium Utama LIPI Jakarta, beberapoa waktu lalu. Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian puncak peringatan LIPI ke-49.

Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain mengatakan, Pak Tjia menerima penghargaan LIPI Sarwono Award karena dedikasinya dalam penelitian ilmu fisika di Indonesia bahkan dunia.

“Tjia May On adalah peneliti bidang fisika yang telah mengabdikan hidupnya untuk melakukan penelitian dan berdedikasi tinggi dalam memasyarakatkan penelitian,” ungkapnya.

Selain itu, Tjia selama perjalanan karirnya tidak pernah melakukan tindakan yang merugikan dunia akademisnya dan ratusan jurnal ilmiah internasional pun telah dipublikasikannya.

Hal ini menunjukan, Tjia telah diakui pemikirannya di dunia Internasional dalam bidangnya. “Pak Tjia adalah satu di antara enam ilmuwan asal Indonesia dari 381 ilmuwan terkemuka yang duduk dalam Committe of Science and Technology (COMSTECH) yang beranggotakan 57 negara,” jelas Iskandar.

Memulai karirnya sebagai dosen ITB, lulusan S3 Northwestern University Amerika ini berdedikasi mengembangkan ilmu pengetahuan melalui dunia akademisi khususnya di bidang ilmu fisika partikel kuantum dan kosmologi relativistik. “Ilmu yang saya geluti merupakan ilmu gersang yang jauh dari minat dan dukungan masyarakat di negara kita,” terang Tjia.

Dirinya menambahkan, fisika adalah cabang ilmu tertua yang kerap memainkan peran utama dalam perkembangan ilmu pengetahuan maupun revolusi teknologi dan industri. Terobosan ilmu pengetahuan, teknologi dan produk industri yang dinikmati masyarakat saat ini tidak terlepas dari perkembangan dan terobosan penelitian khususnya fisika material, terangnya.

Oleh karena itu, Tjia menegaskan bahwa negara berkembang seperti Indonesia memerlukan pengembangan sains dan teknologi sebagai landasan kemandirian dan ketahanan nasional bila ingin mejadi negara maju.

Riset yang tangguh sangat diperlukan untuk semakin membudayakan riset. “Saya berharap LIPI sebagai lembaga riset terbesar di Indonesia dapat berperan semakin banyak di masa depan untuk membangun riset Indonesia,” tutupnya.

Pria kelahiran Probolinggo 25 Desember 1934 ini telah menerbitkan dua buku teks dan 190 risalah. Sebagian dipublikasikan di jurnal internasional Physical Review, Nuclear Physics, Physica C, International Journal of Quantum Chemistry, Review of Laser Engineering, dan Journal of Non-linear Optical Physics.

Lulus sarjana fisika 1962 dari ITB, setahun lanjut belajar fisika partikel di Northwestern University, AS hingga meraih gelar PhD 1969. Tesisnya berjudul ‘Saturation of A Chiral Charge-Current Commutator’. Saat masih di Amerika, pada 1966 melakukan riset bersama fisikawan CH Albright dan LS Liu. Risetnya masuk Physical Review Letters berjudul ‘Quark Model Approach in the Semileptonic Reaction’.

Tjia sempat mengikuti riset pada International Center of Theoretical Physics (ICTP), Trieste, Italia, yang didirikan peraih Nobel asal Pakistan, Abdus Salam. Akhirnya meninggalkan bidang fisika partikel dan serius memasuki riset polimer, optik nonlinier, superKonduktor, komposer dan produser konduktor. Sejak itu namanya mulai menginternasional. (sak)