Gagal Juara Umum, Evaluasi Pembinaan
OLAHRAGA

Gagal Juara Umum, Evaluasi Pembinaan

Asean Schools Games (ASG) 2016 di Thailand resmi ditutup, Kamis (28/7) malam. Indonesia yang sebelumnya juara umum ASG 2015 di Brunai Darussalam harus turun kembali di peringkat dua klasemen dengan perolehan medali 30 emas, 34 perak, 35 perunggu. Juara umum jadi milik tuan rumah Thailand dengan medali 56 emas, 36 perak dan 33 perunggu. Hasil ini menjadi bahan evaluasi bagi tim Indonesia khususnya pada proses pembibitan atlet junior.

Minimnya persiapan dan tidak adanya pelatnas jangka panjang untuk atlet usia muda di kalangan pelajar tampaknya menjadi salah satu penyebab tim Indonesia mengalami kesulitan dalam proses pembentukan tim yang siap tanding untuk ajang internasional seperti Asean Schools Games dan yang lainnya.

Selama ini ketika selalu mengandalkan atlet dari Sekolah Olahraga dan anak-anak PPLP daerah yang mereka datang hanya persiapan satu sampai dua minggu dan langsung tanding di even internasional.

Ketidaksiapan itu memang baru terlihat ketika mereka sudah bertanding. Dari 12 cabang olahraga yang diikuti Indonesia, hanya bulutangkis, tenis, golf, atletik dan renang yang menyumbangkan emas.

Koleksi medali terbanyak pun mampu disumbangkan cabor renang dengan 17 emas yang materi perenangnya hampir sama yang sukses mengantarkan Indonesia juara umum di event Asian Schools Swimming Champhionship di Palembang beberapa waktu lalu. Sementara sisanya hanya berhasil menyumbangkan medali perak dan perunggu, bahkan ada beberapa cabor yang tidak menyumbangkan medali satu pun.

Pelatih tim bola voli putri Eko Waluyo mengatakan jika dirinya sedikit mengalami kesulitan ketika menangani tim pelajar yang sangat minim persiapan. Menurutnya, melatih anak-anak yang masih pelajar jauh lebih susah dibandingkan dengan yang sudah matang.

“Selain harus mengajarkan teknik dan strategi bermain yang bagus, kita juga harus bisa menjaga emosi dan kondisi mereka, dan itu menurut saya membutuhkan waktu yang tidak bisa cepat,” kata Eko.

Menurut Eko, hal ini salah satu kelemahan yang harus diperbaiki untuk pembinaan atlet-atlet di kalangan pelajar. Jangan selalu mengandalkan Sekolah Olahraga dan PPLP yang mereka datang terbentuk dalam satu tim dengan waktu yang pendek, lebih baik setiap PB memiliki pelatnas jangka panjang yang berjenjang untuk atlet pelajar.

“Jadi ketika ada event internasional yang bertanding di cabang apapun, kita semuanya sudah siap untuk menurunkan atlet pelajar kita. Selama ini menurut saya hanya bulu tangkis yang memiliki pelatnas jangka panjang untuk atlet pelajar,” tambahnya.

Hal yang sama juga disampaikan pelatih bulutangkis Indonesia di Asean Schhols Games Luluk Hadiyanto. Jika memang setiap PB memiliki pelatnas pelajar atau junior yang sifatnya jangka panjang, maka rantai regenerasi untuk pembibitan atlet akan berjalan dengan baik.

“Saya sepakat jika ada pelatnas junior dalam masing-masing PB, sebab selama ini antara PPLP dan Sekolah Olahraga masih berjalan sendiri-sendiri yang muaranya untuk pembibitan atlet belum jelas,” katanya.

CDM Kontingen Indonesia Akhyar Matra mengatakan setuju jika ada pelatnas jangka panjang di masing-masing PB untuk menghadapi event pelajara yang bertaraf internasional, karena memang selama ini ketika menghadapi event internasional pelajar selalu minim persiapan.

“Memang lebih bagus seperti itu ada pelatnas pelajar yang berjenjang di masing-masing cabor, jadi kita mulai junior sudah siap kualitas pemain. Hanya untuk melakukan itu memang diperlukan formulasi yang tepat agar berjalan dengan baik,” kata Akhyar. (sak)