Gandrung Sewu 2016 Angkat Seblang Lukinto
PERISTIWA SENI BUDAYA

Gandrung Sewu 2016 Angkat Seblang Lukinto

Banyuwangi kembali akan menggelar pertunjukan tari kolosal, Gandrung Sewu yang kali ini mengangkat tema ‘Seblang Lukinto’ dengan melibatkan 1.000 lebih penari gandrung di tepi Pantai Boom, Sabtu (17/9).

Bupati Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Rabu (14/9) mengemukakan Gandrung sewu merupakan event budaya yang digelar setiap tahun dalam rangkaian Banyuwangi Festival. Pertunjukan tari kolosal ini telah menjadi salah satu ajang budaya daerah yang paling ditunggu-tunggu para wisatawan.

“Pada awalnya Gandrung Sewu kami gelar untuk mengenalkan kemegahan budaya Banyuwangi ke khalayak luas. Kini kami bersyukur, Gandrung Sewu telah menjelma menjadi salah satu ikon pariwisata favorit Banyuwangi yang sangat dinanti semua orang,” katanya.

Event Gandrung Sewu, sambung Anas, selama ini telah memperkuat posisi Banyuwangi dalam peta persaingan pariwisata di Indonesia. ”Pantai menjadi salah satu destinasi wisata alam andalan di Banyuwangi. Lewat event ini, kami menjual event budaya sekaligus destinasi alam. Gandrung Sewu terbukti telah menjadi daya tarik pariwisata Banyuwangi,” ujarnya.

Perlawanan Rakyat Blambangan
Sementara Plt Kepala Dinas Pariwisata Pemkab Banyuwangi MY Bramuda mengatakan tema ‘Seblang Lukinto’ akan menyuguhkan tarian Gandrung yang mengisahkan perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajah Belanda pada masa 1776-1810.

Tema ini, merupakan kelanjutan pertunjukkan Gandrung Sewu tahun lalu yang mengangkat tema ‘Podo Nonton’. Tema ‘Podo Nonton’ menyajikan teatrikal tentang perjuangan rakyat Banyuwangi yang dipimpin Rempeg Jogopati dalam melawan penjajahan VOC. Saat itu, tarian diakhiri dengan kisah perlawanan para pejuang hingga titik akhirnya.

“Seblang Lukinto ini kelanjutan dari kisah tahun lalu. Bila tahun lalu mengisahkan kekalahan prajurit Blambangan, namun tahun ini berbeda. Tema ini akan mengisahkan kebangkitan sisa-sisa prajurit Rempeg Jogopati untuk kembali mengangkat senjata melawan penjajah,” kata Bramuda.

Jika dilihat definisi nama Seblang Lukinto, tutur Bramuda, seb artinya meneng (diam), dan lang diambil dari kata langgeng artinya selawase atau selamanya. Sedangkan Lukinto merupakan kata dari bahasa Sansekerta yang artinya dirahasiakan. Jika keduanya digabungkan maknanya menjadi rencana yang harus dirahasiakan selamanya.

“Pada saat tokoh penggerak perlawanan terhadap penjajah, Rempeg Jogopati jatuh, prajuritnya tercerai berai di beberapa wilayah di Banyuwangi. Sehingga upaya mereka melawan VOC terhenti. Untuk mengumpulkan kembali pasukan yang terpisah itu, para bekas prajurit Rempeg Jogopati membentuk kelompok seni. Mereka menyanyikan tembang Seblang Lukinto secara berkeliling atau mengamen,” tutur Bramuda.

Saat mengamen itulah pejuang mengumpulkan kembali rekan seperjuangannya. Agar tak dikenali mata-mata yang saat itu sengaja disebar VOC, mereka menggunakan tembang Seblang Lukinto yang syairnya berisi ajakan melawan kembali. Tembang ini akhirnya menjadi semacam kode rahasia antar pejuang bergerak kembali.

Pertunjukan ini akan terasa berbeda dari perhelatan Gandrung Sewu sebelumnya yang banyak menyuguhkan fragmen teatrikal. Di Gandrung Sewu ‘Seblang Lukinto’ lebih banyak bermain formasi gerakan penari yang dinamis.

Diawal pertunjukkan, lanjut Bramuda, seluruh penari akan membentuk formasi khusus. Kemudian secara bersama-sama akan menyanyikan gending Seblang Lukinto sebagai wujud perintah mulai bersatu melawan penjajah.

“Setelahnya, mereka menyanyikan gending Kembang Abang secara bersama-sama yang menyiratkan mulai dilaksanakannya gerilya. Di akhir nanti, ribuan penari gandrung tersebut akan menyanyikan bersama penggalan lagu Umbul-Umbul Blambangan,” kata Bramuda. (sak/ist)