Gelar Seni dan Budaya Gratis di Istana
PERISTIWA SENI BUDAYA

Gelar Seni dan Budaya Gratis di Istana

Untuk merayakan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-88, Istana Kepresidenan melaksanakan pergelaran seni dan budaya bernama ‘Nusantara Berdendang’, di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/10) sekitar pukul 19.00 WIB.

Kepala Sekretariat Presiden (Kasetpres), Darmansjah Djumala mengatakan, acara tersebut melibatkan ratusan pengisi acara, dan akan dikemas secara kreatif dengan mencerminkan keragaman budaya, wilayah, dan tradisi yang terangkum dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“Dengan tampilan seni budaya yang beragam tersebut, diharapkan kita menyadari bahwa ketika merayakan Sumpah Pemuda, kita juga merayakan dan menghargai keberagaman, sebuah jati diri bangsa Indonesia,” kata Darmansjah melalui Biro Pers Media dan Informasi Setpres, Kamis (17/10) malam.

Menurut Djumala, perhelatan ‘Nusantara Berdendang’ terdiri dari dua bagian utama yaitu Napak Tilas Sumpah Pemuda dan Pentas Kebudayaan.

Dalam acara Napak Tilas, akan diisi Konser Indonesia Raya yang dilakukan 88 anggota orkestra dan paduan suara.

“Dalam acara ini akan dibacakan naskah Sumpah Pemuda oleh peraih medali emas cabang Bulutangkis Olimpiade Rio 2016, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Presiden Joko Widodo direncanakan menyampaikan pernyataan tentang komitmen berbangsa yang berbudaya,” jelas Darmansjah.

Sementara untuk pertunjukan sejumlah tarian dan kesenian akan dibagi di tiga panggung, Panggung Kebangsaan, Panggung Bahasa, dan Panggung Tanah Air.

Prosesi awal yang juga sebagai penyambutan tamu dan undangan, menurut Darmansjah, dimulai dengan iring-iringan tanjidor, Ondel-Ondel, dan Karnaval Lurik Payung.

Sedangkan dalam acara pentas kesenian ditampilkan berbagai pertunjukkan yang mewakili wilayah budaya Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua, wilayah perbatasan dan Masyarakat Bahari.

Adapun pertunjukan budaya dalam pagelaran tersebut antara lain Tanjidor, Ondel-Ondel dan Tari Topeng Betawi dari DKI jakarta; Gandrung dan Kuntulan dari Banyuwangi; Wayang Ajen dalang Ki Wawan; Tari Piring dan musik Calempong dari ISI Padang Panjang.

Lalu ada Tari Tu’a Reto Lou dan Musik Sasando dari NTT; Tari Hudog dari Kalimantan Timur; Tari Pa’jaga Makkunrae – Sulawesi Selatan; Tari Topeng Ireng dari Boyolali; Tari Mambri – Papua; serta Kolaborasi Tari kecak Bali dan Ratoe Aceh.

Darmansjah memastikan, bahwa sesuai komitmen Istana yang ingin dekat dengan rakyat, maka pergelaran ini terbuka bagi masyarakat yang ingin menyaksikannya, dan tidak dipungut biaya.

“Istana akan terus berusaha untuk semakin mendekatkan kehidupan Istana kepada rakyat,” pungkas Darmansjah. (sak)